Radar Kediri – Happy New Year


Tak seperti di Indonesia, malam pergantian tahun jarang dilewatkan orang Amerika dengan keluar di jalan-jalan. Mereka lebih suka berdiam diri di rumah. Maklum, cuaca pada Januari sangat dingin. Salju sering turun.

 

Siapa sangka ternyata saya punya alergi pada kepiting? Meski saya tinggal di Indonesia -yang menurut orang asing terkenal dengan pantai dan lautnya, tapi seumur-umur saya belum pernah makan kepiting. Nah, ceritanya, menjelang pergantian tahun lalu, Janet dan Jasmine pulang ke rumah. Host mom masak kepiting banyak sekali. Kira-kira dua panci besar.

Saya pun bersemangat sekali ingin mencicipi kepiting pertama saya di Amerika. (Kalau saya pikir-pikir, aneh juga. Soalnya, Indonesia pasti punya lebih banyak kepiting dan makanan laut lainnya dibanding Amerika. Tapi, saya makannya malah di sini. Seperti dulu saat makan ikan salmon untuk pertama kali juga di Amerika).

Akhirnya, waktu makan malam tiba. Saya pun membantu host mom menyiapkan makanan di atas meja. Kepiting waktu itu dimasak dengan cara dipanggang di dalam oven. Dimakan bersama jagung manis, kentang rebus, dan salad. Kami pun makan dengan lahapnya.

Jasmine yang sebelumnya sudah memakan sepiring penuh udang, tetap lahap dengan kepiting dan saladnya. Kami pun berebut kepiting karena ini adalah makanan favorit host fam. Saya cukup antusias memakan kaki kepiting yang ternyata enak sekali. Di tengah makan malam, tangan saya mendadak gatal. Host fam pun takut kalau saya alergi. Tapi, saya bilang nggak apa-apa. Tapi seketika itu saya berhenti melahap sang kepiting.

Malamnya, saya mencoba tidur jam sepuluh malam. Tapi perut saya terasa sakit seperti saat keracunan kue, Mei lalu. Saya mencoba ke kamar mandi, tapi tidak terjadi apa-apa. Saya lalu menonton TV di kamar sambil mengundang kantuk agar rasa sakit di perut hilang.

Mendadak, wajah, leher, dan sekujur tubuh saya terasa gatal. Jam setengah dua belas malam saya langsung lari ke kamar mandi. Lalu, mandi sampai bersih dan berharap rasa gatal akan berkurang. Janet pun curiga saya punya alergi. Kemudian memberi saya dua butir obat alergi. Alhamdulillah, setelah itu gatal-gatal dan sakit perut saya hilang. Kapok sudah makan kepiting. Saat itulah, saya sadar bahwa saya alergi pada kepiting.

***

Sabtu (27/12) rumah terisi hampir 30 orang. Semua keluarga host mom datang ke rumah untuk menikmati Norwegian dinner. Oh ya, saya belum cerita. Host mom adalah half Norwegian. Host grand ma adalah orang Norwegia murni dan host grand pa orang Amerika. Sedangkan host dad keturunan Native American atau suku Indian.

Jadi, hari itu, mereka memasak berbagai macam makanan khas Norwegia. Sayangnya, kebanyakan mengandung daging babi sehingga saya tidak bisa ikut makan. Namun, saya masih bisa mencicipi rice soup dan lefsa. Rice soup terbuat dari nasi tapi lebih mirip bubur oleh orang Indonesia, terus dicampur susu dan rasanya manis sekali.

Saya tidak begitu doyan, cuma makan tiga sendok. Rasanya mirip-mirip jenang gitu, hehehe… Kalau lefsa makanan super khas dari Norwegia. Biasa dimakan untuk sarapan. Bentuknya bulat tipis dan terbuat dari kentang. Dimakan seperti roti tawar, dikasih mentega dan gula. Rasanya? Enak sekali, baru makan satu buah sudah kenyang.

Sayangnya, rencana saya coba-coba bikin pisang goreng gagal karena rumah yang penuh orang dan anak kecil. Mirip-mirip pas kumpul keluarga di rumah kakek saya di Kediri. Karena cuma ada tiga kamar di rumah, akhirnya sebagian tidur di atas sofa, bahkan di karpet, depan TV. Saya juga tidur di sofa, tempat tidur untuk Grand Ma Gyda dan Gavin, host cousin saya.

Grand ma Gyda mempunyai 14 cucu dan semuanya ikut hadir di rumah. Jadi bisa dibayangkan, ramainya seperti apa. Yang cowok-cowok bermain game dari bangun tidur sampai malam. Saya ditantang main bowling bersama mereka. Meski baru pertama kali main, saya menang dengan lima kali strike berturut-turut. Sedangkan sepupu cewek-cewek sibuk bergosip atau malah bermain komputer dan membuka myspace atau facebook.

Adapun Gavin terus-terusan merengek meminta translator saya. Saya lalu bilang ke dia, “Nanti kalau kamu jadi exchange student di Indonesia, aku janji ngasih translatorku ke kamu.” Hehehe, memang susah mengelabui anak umur sembilan tahun.

Saya mengobrol banyak dengan Grand Ma Gyda karena pertengahan Januari ini beliau akan menerima exchange student dari program yang sama dengan saya. Namanya Nurul Ashiqin, siswi YES (Youth Exchange Student) dari Malaysia. Saya ikut antusias dengan keinginan Grand Ma Gyda untuk menerima Ashiqin di rumahnya selama enam bulan.

Sejak bulan lalu, saya sudah ikut mengirim e-mail kepada Ashiqin (begitu panggilannya). Tak dinyana, ternyata dia juga punya account di friendster sehingga kami lebih mudah berkomunikasi. Ashiqin pun menceritakan kekhawatirannya akan suhu di Minnesota ketika ia datang Januari ini. Dia juga menanyakan kepada saya soal anjing dan makanan halal karena Grand Ma Gyda mempunyai seekor anjing kecil bernama Briar.

Saya dan Grand Ma Gyda lalu mencoba menelepon Ashiqin. Akhirnya, mereka bisa bercakap-cakap meski grand ma bilang bahwa beliau tidak mengerti bahasa Inggris Ashiqin. Sayang, pertengahan Januari ini, Ashiqin tidak datang melalui Minneapolis Airport sehingga saya tidak bisa ikut menjemputnya di bandara. Namun, saya dan host mom berencana akan mengunjungi grand ma dan Ashiqin sebelum kami berlibur ke Florida bulan ini.

***

Alhamdulillah, saya juga sempat bercakap-cakap dengan keluarga di Kediri lewat telepon. Saya sengaja menelepon pukul lima sore Sabtu waktu Amerika atau pukul enam pagi Minggu waktu Indonesia. Makanya, ibu saya, Tatik Istiarni, sempat kaget karena menelepon pagi-pagi sekali.

Tapi, justru karena itu, saya bersyukur bisa bercakap-cakap dengan ayah saya, Daro Ismadi. Sebab, jika terlambat sedikit saja, ayah sudah akan berangkat ke acara jalan pagi bersama sekolahnya, SMA Muhammadiyah Kediri. Saya juga puas bisa mengobrol dengan adik-adik saya hingga lupa waktu. Tak terasa, satu jam percakapan itu berlangsung.

Host cousin sampai sempat berkomentar tentang bahasa Indonesia saya. Sebab, saat berbincang dengan keluarga di Kediri, saya menggunakan bahasa Jawa. Saya lalu menunjukkan artikel saya terbaru yang dimuat di Radar Kediri (saya memang selalu mendapatkan kiriman file versi pdf dari redaksi Radar Kediri via email). Lalu, saya minta mereka membacanya keras-keras.

Kami lantas tertawa terpingkal-pingkal mendengar aksen dan ejaan mereka yang salah. Akhirnya, hampir semua host cousin berlomba membaca artikel yang saya tulis dalam bahasa Indonesia itu. That was fun.

***

Rumah saya tidak pernah sepi selama dua minggu libur. Setelah semua sanak saudara pulang, sekarang gantian teman-teman saya yang rajin menginap. Saya, Lisa Maria Kamperdicks (Jerman), dan Ritsuko Iinuma (Jepang) merencanakan pesta tahun baru bersama di rumah.

Kami menggelar sleepover sepanjang malam tahun baru. Namun, ini hanya pesta untuk cewek. No boys are allowed, hehehe. Orang Amerika memang tidak biasa merayakan tahun baru di luar rumah seperti layaknya orang Indonesia. Karena udara Januari sangat dingin. Mereka merayakan tahun baru di rumah bersama teman atau keluarga.

Rabu sore (31/12), teman-teman sesama exchange students datang ke rumah sambil membantu membawa makanan, snack, dan soda. Ada lima orang lagi yang hadir selain kami bertiga. Ada Melissa Ng (Hongkong), Alessandra (Italia), Nauel, Julie, dan Vanessa (Jerman). Kami menghabiskan dua loyang pizza paling besar. Lalu kami memutuskan menonton film dan bermain cards game. Kami sampai dibuat menangis-nangis oleh film Click yang dibintangi Adam Sandler, aktor favorit saya.

Menjelang pergantian tahun, kami menulis permohonan dan harapan di tahun 2009 pada secarik kertas yang akan kami buka sebelum kembali ke negara kami masing-masing nanti. Lalu, tepat pada pergantian tahun, kami bersulang dengan jus anggur yang dibawa Nauel dari Jerman. Kami baru tidur sekitar pukul lima pagi dan baru bangun pukul 11 siang. Kebetulan, saya sedang berhalangan.

Sehabis bangun tidur, kami langsung memasak telur bersama-sama dan nonton film lagi, hehehe. Kali ini kami memutuskan menonton Titanic. Dan, lagi-lagi kami dibuat menangis meski semua telah menontonnya lebih dari tiga kali!

11 thoughts on “Radar Kediri – Happy New Year

  1. Lagian Blogku cuma buat bisnis kecil-cecilan…
    So, buat meningkatkan statistik BLOG maka dikasi masalah umum dulu!!!!
    Biar banyak yang tertarik, kalo banyak yang tertarik uangpun jadi banyak juga.

    Hauhahahahahaha………lagi

  2. Hallo Mbak Dita!! Met taon Baru!! (walau dah telat).Btw thanks bangeet dah ngebales comment q.Kapan nieh pulang ke Indonesia?? Jo lali oleh2nya youw?:)Oh yach ,kok mbak dita gk mau sich punya kembaran padahal asyik loh klo punya saudara kembar….hi..hi..hi.Bisa sharing apa aja seputar cewe’ + bisa tukeran baju sambil ngemix mana yg cocok.Cobain dech!! Minta youw ma ortu ajah….he..he:).kalau dah nyampe di kediri ajari q ma kakakq bahasa inggris biar tambah lancar,please….!! See you……..

  3. Premier Grammar Suroboyo By Si Ikin tanggal 31 januari 2009 di ROYAL PLASA SBY lantai 2 Petshop!!!
    Sayangnya ku lewatkan tu film….hua..hua..hiks…hiks…

  4. hahaha ntar kalo ada kembaran, akuw jd gak langka lagi dek.. biarlah makhluk sepertikuw hanya tercipta satu-satunya di dunia.. ahahahaiii😛

    insya’ALLAH bulan juli awal uda pulang dek.. lima bulan lagi.. huaa kug cpet skalee yaa?? eh ntar kao jd angkatankuw loo..

    hayah..bhs inggriskuw mci biasa” ae kug dek.. minta ajarin maz zoogenk n maz adit itu loo

    hxoxoxo
    smada lg sbuk appa iki?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s