Radar Kediri – International Education Week


Quarter kedua berjalan sangat cepat dan tergolong sebagai quarter terpendek. Bahkan, awal Desember lalu, rapor mid term sudah diterimakan. Saya sempat deg-degan saat akan melihat grade-nya. Maklum, quarter ini agak susah dibanding sebelumnya. Apalagi waktu saya banyak tersita untuk latihan Nordic Skiing.

Saya datang ke parents conference bersama host mom dan Melissa. Banyak antrean di meja guru. Tapi, ternyata, alhamdulillah. Saya mendapat grade A di kelas choir, journalism, dan speech. Sedangkan di kelas creative interior design hanya dapat B+ dengan total nilai 88,96 persen. Meski begitu, tugas membuat dream bedroom tiga dimensi mendapat total nilai 105 dari nilai maksimal 100. Hasilnya dipajang, di-display di depan pintu masuk sekolah. Lumayan.

Tentang creative interior design ini, November tahun lalu, saya sempat menyampaikan presentasi di depan kelas. Itu berlangsung selama international education week yang menjadi salah satu tugas dari American Field Service (AFS) untuk siswa Youth Exchange Study (YES). Selain di kelas tersebut, saya juga presentasi untuk kelas speech.

Saya memperkenalkan seputar kota-kota di Indonesia. Termasuk kekayaan budayanya, kegiatan remaja, pendidikan, bahkan tentang hantu dan mitos yang berkembang di Indonesia. Tema itu sengaja saya pilih karena audiensnya adalah remaja seperti saya. Dan, sambutan teman-teman luar biasa. Para guru pun tertarik. Makanya, saya jadi keasyikan sampai lupa waktu. Dari jatah 15 menit yang diberikan, molor hingga 30 menit.

Mereka sangat antusias mendengarkannya. Bahkan, banyak pertanyaan diajukan. Sebagian malah terdengar aneh, seperti “Do you have TV in Indonesia? Do you have an ipod there?” Gara-gara cerita itu pula, beberapa teman menjadi tertarik untuk datang ke Indonesia pada liburan musim panas kelak. Melissa, teman dari Hongkong, ingin datang ke Kediri. Dia sudah pernah ke Indonesia sebagai negara asing pertama yang ia kunjungi. Yaitu, ke Bali. Tapi, itu sudah berlangsung sejak lama ketika ia masih kecil.

Ya, kelas speech selalu saya manfaatkan sebagai ajang bercerita tentang Indonesia. Selasa (16/12), sebelum liburan lalu, saya sengaja memilih topik Islam sebagai tugas informative speech. Benar saja, teman-teman ternyata tidak banyak tahu. Saya pun menunjukkan jilbab dan mukena sebagai visual aids. Juga meluruskan pandangan yang keliru tentang terorisme dalam Islam.

Saya menggunakan cerita 9/11 sebagai pembuka yang spontan menimbulkan atmosfer sedikit serius. Namun, alhamdulillah respons teman-teman sangat baik dan terbuka. Mereka terkesan dengan Islam. Maklum, di sekolah hanya ada saya dan satu siswi Amerika yang muslim. Dia bahkan telah lebih dulu berjilbab.

Makanya, sangat jarang yang bisa mengucapkan salam. Jeny Olson bahkan baru tahu setelah ikut membaca email dari ibu saya, Tatik Istiarni. Saat itu, kami sedang sama-sama di perpustakaan. Ketika membaca kalimat pertama yang berbunyi, “Assalaamu’alaikum”, Jenny langsung bertanya bagaimana cara mengucapkannya. Sampai-sampai dia menuliskannya di tangan agar tidak lupa. Setelah itu, setiap bertemu, dia selalu mengucap “Assalaamu’alaikum” kepada saya. Karena tahu merupakan ucapan salam, dia juga berencana memakainya dalam pidato di kelas speech.

Kamis (18/12), saya mendapat kiriman paket dari ayah (Daro Ismadi). Yakni berupa dua buah wayang kulit, makanan khas Kediri seperti keripik tahu, keripik tempe, taplak anyaman, beberapa jilbab, sajadah, baju batik untuk host family, kain batik yang masih utuh, dan surat untuk saya dan host family. Dari tulisan tangannya yang sangat rapi dan indah, saya langsung mengenali bahwa itu surat dari ayah. Tulisannya memang lebih bagus daripada tulisan saya.

Dua wayang kulit itu sebenarnya sudah akan saya bawa ketika berangkat ke Amerika, Agustus tahun lalu. Namun, karena terlalu panjang, akhirnya tidak bisa masuk koper. Sehingga, pada detik-detik terakhir sebelum berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, ayah dan ibu meminta saya untuk meninggalkannya. Wayang itu akan mereka kirimkan kemudian. Jenisnya Gatotkaca dan Werkudara.

Salah satunya akan saya hadiahkan pada keluarga Strode yang sangat baik hati dan telah banyak membantu saya selama di sini. Karakter Gatotkaca terasa pas dengan host dad yang berprofesi sebagai pilot private airplane yang senang mengudara. Relevan dengan Gatotkaca yang memiliki kelebihan bisa terbang mengangkasa. Sebelumnya, saat pertama datang, saya telah menghadiahkan sebuah patung Syiwa sebagai simbol pendidikan yang dibeli ayah saat berkunjung ke Bali, 2007.

Kiriman paket ini lumayan cepat. Padahal, via email, ibu memberitahu bahwa kiriman tersebut baru dikirim Sabtu (13/12). Jadi, hanya butuh waktu lima hari untuk sampai di Amerika.

Sebelumnya saya sedikit khawatir kalau paket itu tidak sampai karena cuaca di musim dingin ini yang benar-benar berganti drastis. Setiap hari sepulang sekolah, saya harus berjalan sepuluh menit dari bus stop ke rumah. Tidak jauh memang. Namun hal itu terasa lebih jauh saat musim dingin seperti ini, dengan suhu tertinggi minus 9 derajat Fahrenheit dan terendah minus 35 derajat Fahrenheit. Apalagi disertai salju yang menggunung setinggi lutut dan angin yang menusuk tulang. Namun, itu masih belum seberapa. “Just wait until January which is the coldest month in Minnesota.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s