Radar Kediri – Snowy..Snowy..


 

Seperti apa rasanya salju? Bagaimana bentuknya salju? Seperti yang di TV kah? Pertanyaan itu sudah terjawab akhir oktober lalu -di mana untuk pertama kalinya saya melihat dan menyentuh salju. Lembut memang, seperti pasir es, berwarna putih, dan tentunya dingin.

Mau tahu rasanya? Tanyakan pada host dad saya yang pernah menjilat batang besi berlumur salju. Apa yang terjadi? Seketika itu lidahnya menempel di batang besi bersalju tersebut. Seperti lem dan rasanya panas sekali, bahkan bisa mengirim orang yang nekat ke rumah sakit. Jadi, jangan coba-coba menjilat batang besi bersalju selama sepuluh detik hanya demi tantangan USD 10.

Dingin di musim dingin ini juga berdampak ke kulit. Karena itu harus pakai lotion agar tidak cepat kering atau bahkan berdarah. Lip gloss pun jadi barang wajib setiap orang karena bibir juga menjadi gampang kering dan mengelupas. Satu atau dua botol air mineral harus siap dibawa dari rumah. Saya bahkan minum air mineral tiap 15 menit sekali karena cuaca membuat dehidrasi. Sekolah memperbolehkan hal-hal seperti itu, khususnya di musim dingin seperti ini.

Meski begitu, dingin tak menghalangi orang Amerika untuk beraktivitas di luar. Ada banyak hal seru berhubungan dengan salju. Saya pun tidak mau hanya tinggal diam di rumah selama. Seperti yang sudah saya ceritakan, saya ikut Nordic Skiing team. November lalu, salju hanya turun sedikit. Akhirnya, selama sebulan, saya dan teman-teman di tim berlatih ski dengan roller skiing, mirip-mirip sepatu roda namun lebih panjang.

Ada tiga macam skiing board yang bisa kami pakai dan pilih, yaitu classic skiing, skate skiing, dan combi skiing (kombinasi classic dan skate). Saya yang tidak pernah main roller blade atau sepatu roda jadi sedikit khawatir. Namun manajer tim saya baik dan telaten sekali membantu berdiri dan berlari di atas roller skiing sebelum akhirnya ke papan skiing yang sebenarnya.

Untuk classic skiing, saya superpayah, latihan dua hari masih tetap payah. Akhirnya, saya mencoba skate skiing, dan ajaib, saya justru lebih nyaman. Mirip ice skating atau roller blade. Untuk ikut Nordic Skiing, saya harus membayar USD 125 untuk aktivitas, USD 25 untuk akomodasi ke skiing resort, dan USD 45 untuk uniform. Alhamdulillah ada uang USD 300 dari AFS (American Field Student) yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan sekolah. Sedangkan untuk alat-alat ski, alhamdulillah sekolah masih punya beberapa alat yang bisa saya pakai. Jadi, saya tidak perlu membeli.

Kamis pertama bulan ini (4/12) ada skiing racing di Powder Ridge, St Cloud. Pelatih saya bertanya, apakah saya ikut pertanndingan atau tidak. Jelas saya bilang tidak. Sebab, salju saja baru melihat. Jadi, kurang asyik mencoba ski di atasnya karena saljunya masih sedikit. Akhirnya, saya hanya ikut menjadi ‘cheerleader’ teman-teman sambil mengambil foto mereka selama bertanding.

Kami harus berangkat ke St Cloud pukul 13.30. Makanya, hari itu saya harus tampil lebih dulu membawakan demonstrasi speech tentang tari Bali di awal kelas. Meski sedikit terburu-buru dalam berpidato, namun saya puas karena teman-teman semakin tertarik terhadap Indonesia. (Semoga saya punya kesempatan lagi untuk tampil penuh membawakan tari jaranan ketimbang hanya berpidato dan mengajari teman-teman menari Bali).

Hari itu, Powder Ridge membuat salju tiruan agar kami bisa bertanding ski. Salju tiruan memang jauh lebih licin dan keras daripada salju yang sebenarnya. Ini dibuat karena salju yang asli tidak cukup banyak untuk ski. Bahannya, air danau yang didinginkan dengan alat khusus.

Saat mencoba ski di atas salju untuk pertama kalinya dengan papan skiing combi milik teman, saya langsung meluncur dan tidak bisa mengendalikannya. Super licin. Sehingga, teman saya harus menubruk tubuh saya supaya tidak terjatuh ke down hill. Meski demikian, tiga skiers dari tim kami mendapat best ten di antara beberapa sekolah di Minnesota.

Jumat (5/12) sehabis latihan, saya diundang teman, Blair Ann Soelberg, untuk datang ke ulang tahunnya di rumah yang berdekatan dengan golf court. Karena tidak siap dengan kado, saya pun menyambar sandal dan dompet batik yang saya bawa dari Indonesia. Lalu, membungkusnya sebagai hadiah. Tak dinyana, ternyata, kado itu justru membuatnya senang bukan kepalang. Bahkan, langsung berlari ke arah ibunya untuk menunjukkan kado tersebut.

Saat itu, Blair hanya mengundang teman-teman dekatnya. Ibunya menyambut saya dengan ramah, “Blair told me many good things about you.” Malam itu penuh canda tawa. Saya mendapat teman-teman baru lagi dari Blair. Keluarga Blair adalah maniak olahraga. Blair sendiri kapten tim sepakbola cewek di sekolah. Kakaknya, Blake, adalah champion di beberapa bidang olahraga.

Keluarga mereka sangat dekat satu sama lain hingga mengingatkan saya pada keluarga sendiri di Kediri. Apalagi, Blair juga memiliki dua saudara laki-laki seperti saya. Yaitu, Blake yang seumuran dengan saya dan Blaze yang masih kelas lima SD. Bedanya, Blair anak kedua sedangkan saya anak pertama. Saya punya dua adik laki-laki, Newanda Asa Wahid dan Pantoki Ilham.

Sabtu (6/12), Melissa berkunjung ke rumah. Saat itu saya sedang membantu host mom dan host dad menghias pohon natal di rumah. Kebetulan host family adalah Lutheran dan merayakan natal tahun ini. Mereka punya pohon natal besar sekali. Tingginya hampir empat meter dan menjulang dari lantai bawah ke lantai atas.

Sekarang, suhu sudah berkisar 10 derajat Fahrenheit. Dan untuk pertama kalinya pula, saya dan Melissa bermain sliding di bukit belakang rumah. Saat itu, salju mulai menumpuk dan menggunung, semua menjadi serbaputih dan dingin. Kami bermain sliding dan mencoba beberapa bukit yang ada di sekitar tetangga.

Ternyata, salju benar-benar menyenangkan! Saya pun tidak sabar untuk mencoba snow tubing dan membuat snow man! Satu lagi adalah ice fishing. Danau di belakang rumah, Pulaski Lake, belum membeku seperti Buffalo Lake karena memiliki panas yang mengalir di dalamnya.

Buffalo Lake sudah membeku dari bulan lalu. Bahkan, saya berkali-kali melihat orang-orang tidak hanya berjalan di atasnya, namun juga mengendarai mobil. Wow! Host mom pun berjanji mengajak saya mengendarai mobil di atas danau Januari nanti. Sebab, konon menjadi bulan terdingin di Minnesota.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s