Radar Kediri – US Election Day


B’day party host mom minggu lalu ckup ramai. Alhamdulillah ternyata party kmren juga utk mrayakan ksembuhan mom dr pnykit kanker-nya. Ajaib. Begitu orang-orang bilang. Hari selasa kmrin adalah chemotheraphy terakhir host mom brtepatan dgn US election, 4 Nov 2008. Meski nyata-nyata saya dukung obama, ternyata host fam saya pndukung McCain..

Temen-temen dekat saya di sini juga rata-rata menjagokan McCain. Contohnya Ariana, temen sebangku saya di kelas Minorities. Sluruh keluarganya adalah pndukung McCain sjati. Saudara laki-lakinya malah mnulis tentang dukungannya buat McCain di koran skolah. Pilihannya memang bnyak dpengaruhi oleh saudara laki-lakinya itu. Meski kami sbangku dan beda pndapat soal presiden, kami paling suka membicarakan sputar US election. Dia sndiri bilang dgn sangat lugas, “Obama is bad.”

Dia berpendapat perang di Irak harus dselesaikan dan tidak seharusnya diakhiri bgtu saja karena pemerintah US sudah mnelan bnyak biaya dan nyawa untuk itu. Dan lagi, dia kurang setuju dengan salah satu program Obama yakni biaya kesehatan yang murah dan terjangkau di US yang sekaligus berakibat pada naiknya pajak. Alasannya, Ariana adalah campuran Amerika dan Kanada, ibunya dari Kanada dan di Kanada sendiri memiliki program serupa dgn Obama dan Ariana berpendapat program itu tidak berjalan. Saudara Ariana pernah terancam akan meninggal karena lambannya medical di Kanada akibat
rendahnya biaya pengobatan. Itu-pun hanya sisi kecil dari banyak hal yang kami bicarakan seputar US election.

Meski begitu, saya juga punya host cousin bernama Sabrina yang umurnya 10 tahun dan punya tanggal lahir yang hampir sama dengan saya, 5 Mei. Dia cukup smart untuk ukuran anak SD yang bisa bicara soal politik. Diapun juga dgn percaya diri bilang ke saya kalau dia bisa ikut voting, dy mau memberikan hak suaranya untuk Obama. Dan dia mulai menjelaskan prediksinya seputar Obama dan McCain.

Begitupula halnya dengan Lisa dan Wakako. Ternyata Obama juga sangat populer di Jepang dan Jerman. Karena beberapa kali sleepover di rumah Wakako, siswi AFS dari Jepang, saya jadi tau kalau Obama juga super populer di Jepang. Karena Wakako sering cerita kalau Obama memiliki banyak pendukung di Jepang karena rakyat Jepang yang tidak suka dan tidak akan mau berperang. Bahkan tak banyak rakyat Jepang yang tau dan populer dengan McCain. Begitu pula sahabat saya Lisa, siswi SHARE ( Organisasi Pertukaran Pelajar Lain ) dari Jerman, bilang kalau Obama amat populer di Jerman. Beberapa kali Obama datang ke Jerman dan smua rakyat Jerman antusias dgn kdtangannya. Tapi mereka malah tidak tau sama sekali saat McCain datang berkunjung ke Jerman. Malah pada bulan desember, kota tempat Lisa tinggal akan mengundang Obama untuk hadir ke kotanya.

Tnggal 4 November 2008, sekolah di state Minnesota tetap masuk sperti biasa meski di beberapa state lain hari itu libur. Hari itu cukup mendebarkan, tidak cuma untuk Obama atau McCain, tapi juga sekolah-sekolah dan para guru. Pasalnya hari itu juga bakal ada referendum untuk knaikan biaya sekolah yang hasilnya akan sangat brpengaruh pada tahun depan.

Di jam pertama, saya ada kelas Journalism. Guru Journalism saya, Ms. Heather Tierney, memegang ballot pemilu dan bberapa stiker dengan bendera USA bertuliskan,” I VOTED”. Pertama saya bingung. Memang ada TPU di sekolah, cm saya bingung kenapa ini ada di kelas. Apalagi guru saya mulai membagikan ballot pemilu plus stiker ke smua anak tanpa trkecuali, meski sempat berhenti sjenak di dpan saya dan akhirnya memutuskan memberi saya “hak suara”. Wow. Saya masih bingung, pkir saya wktu itu,”I’m foreign and I can vote?”. Lalu guru saya itu memberi instruksi sputar ballot suara itu. Ada 5 macam hal yg harus dipilih. Pertama adalah Presiden dan Wakil Presiden, senator, pajak tentang air, referendum tentang biaya skolah, dan satu hal lagi yang saya lupa karena saya pun gag pernah terpikir ada coblosan sperti itu di kelas. Cara nyoblosnya juga seperti mengisi jawaban di kertas ujian komputer. Tinggal dihitamkan di pilihan kita.

Selesai “mencoblos”, saya tetap masih bngung dan gag percaya. Sampai akhirnya guru saya menjelaskan bahwa hak suara tadi cuma buat statistik skolah tentang ‘apakah hak suara dan pilihan anak dipengaruhi oleh pilihan orang tua’ lalu akan dibandingkan dengan hasil nyata dari pemilu yang sebenarnya untuk pemerintah. Dimana malamnya saya ketahui bahwa voting mmbuktikan bahwa lebih bnyak remaja memilih McCain dan lebih bnyak orang tua memilih Obama.

Setelah saya pulang sekolah dan Host Mom pulang dari chemotheraphy, kami langsung ke tempat pngambilan suara di Buffalo Middle School. Tempat pemilunya tidak jauh beda dengan di Indonesia. Meski di sini bilik suara tidak full tertutup sperti di Indonesia yang pakai gorden. Di US cukup simpel sperti meja di Lab Bahasa di sekolah-sekolah Indonesia dan jumlahnya ada sepuluh bilik suara. Dan ballot suara yg asli ternyata jauh lebih besar dan jauh lebih bnyak pilihan dari yg saya coblos pagi hari. Meski tetap sama seperti kertas ujian dan tidak ada foto capres dan cawapres sperti di Indonesia. Saya perhatikan ada lebih dari 20 pilihan yang membutuhkan hak suara untuk menang. Selain pilihan capres dan cawapres, school referendum, senator, dan water tax, dalam satu kertas ballot juga ada pilihan tentang town mayor, judges dari judges 1 sampe puluhan, dan macam-macam hal. Kalau di Indonesia, satu hari, satu pemilu untuk satu jabatan. Seperti satu hari untuk coblosan gubernur, satu hari untuk walikota, satu hari untuk presiden,dsb. Tapi di sini semua dijadikan dalam satu hari di satu kertas suara. Cukup efisien. Perhitungan juga jadi lebih cepat. Ketika selesai ‘menghitamkan’ pilihan, para pemilih cukup memasukkan kertas voting mereka ke sebuah alat penghitung otomatis. Jika ada pilihan yang kurang hitam sehingga ada kemungkinan tidak terhitung, alat itu akan mendeteksi. Lalu penjaga yang bertugas mengawasi alat tersebut akan mengeluarkan dan mengembalikan kertas suara kembali ke si pemilih dan meminta kembali si pemilih untuk menghitamkan ulang atau si pemilih merelakan salah satu pilihan di hak suara-nya itu hangus.

Tidak ada hitungan hari, malam itu juga sudah bisa diketahui hasil pemilihan suara tiap State. Malam itu saya begadang memelototi berita-berita di TV yang tiada hentinya menyiarkan perkembangan hasil pemilu dari tiap state. Saya-pun baru tidur jam setengah dua pagi karena terlalu asyik dengan berita kemenangan Obama dan pidatonya. Obama juga menang di State Minnesota. Namun sayangnya, meski jagoan saya menang, tapi school referendum gagal mndapat ckup dukungan untuk mnaikkan biaya sekolah per tahun. Hal itu cukup berakibat untuk pendidikan di US tahun depan. Yaitu pemangkasan sejumlah profesi guru dan fasilitas untuk guru ( di US, gaji guru sendiri berkisar $ 45.000 per tahun), pmangkasan beberapa kelas-kelas ‘fun’ sperti seni dan olahraga, pmangkasan bberapa club-club olahraga, pmangkasan school bus for activities after school, dan bnyak hal lainnya yang tidak seharusnya dikorbankan. Teman-teman dan guru-guru bnyak yang menyayangkan hal itu. Host Mom bilang, hal itu bisa jadi juga berdampak pada pengurangan pnerimaan foreign exchange students di sekolah. Karena sbagai foreign exchange students sperti saya di sekolah saya, saya bnyak mendapat previlege dlm bnyak hal. Seperti tiket football game gratis spanjang tahun, tiket homecoming dance + snow daze dance + prom gratis, yearbook gratis, graduation fee gratis, gown untuk graduation, dan bnyak hal lainnya yg mmbtuhkan dana yang tidak sdikit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s