Radar Kediri – Whatta Wimpy Skier Ever


Jumat malam (14/11), Alessandra dan Levente kirim SMS ke saya soal kepastian untuk ikut main ke Mall of America Sabtu (15/11) atau tidak. Hati mengatakan ingin ikut, tapi kaki dan lengan rasanya patah semua habis latihan untuk Nordic Ski ‘tingkat atlet’. Saya bimbang karena habis muter-muter di Mall of America -yang konon terbesar kedua di dunia setelah mal di Kanada–kami berencana langsung meluncur ke pesta AFS di rumah Helle di uptown Minneapolis.

Jumat itu saya coba gerak-gerakkan badan, khususnya kaki. Karena kamar saya di lantai bawah (basement) sedangkan pintu utama di lantai atas, otomatis saya harus naik turun tangga kalau nggak mau kelaparan. Apalagi dapur juga di atas. Ya Allah… saya rasanya pengin turun tangga sambil ngesot aja. Kalau pakai kaki, harus pelan-pelan dan menahan rasa sakit dari paha sampai tumit. Host mom dan host dad mesti ketawa melihat cara jalan saya yang seperti robot.

Walhasil, saya telepon Lisa dan minta tolong dia menggantikan saya Sabtu (15/11) itu. Sebab, saya tahu dia lagi pengin ke Mall of America dan nggak ada kerjaan di rumah. Akhirnya saya cuma diem di rumah sepanjang weekend. Bukannya menganggur tapi malah sibuk dengan pe-er. Apes. Nggak ikut ke mal dan pesta AFS, di rumah ngerjain pe-er dengan kaki robot.

Saat itu saya baru sadar kalau kelas-kelas yang saya pilih di quarter dua ini memang penuh pe-er. Belum lagi ditambah ikut tim ski dan harus latihan mulai pulang sekolah sampai pukul lima sore, enam hari dalam seminggu. Belum ada satu minggu latihan, dua kilo lemak yang sudah saya kumpulkan untuk bertahan selama musim dingin hilang sudah. Tiap hari turun satu pound, dan selama empat hari sudah turun empat pounds yang berarti hampir dua kilo.

Apalagi, kelas-kelas saya di quarter ini mencar-mencar di gedung A, gedung C, gedung G, dan ruang Choir yang dekat pintu keluar. Creative design terus-terusan bikin project denah rumah 3-D. Dan saya harus tampil di minimal sembilan even sampai enam minggu ke depan kalau saya mau dapat nilai A di choir.

Di kelas journalism masih mendingan karena sudah terbiasa dapat deadline mepet-mepet. Lagi pula, journalism 2 hanya menuntut banyak pemikiran kritis. Di kelas speech terus-terusan bikin pidato dan hafalan. Minggu depan setelah thanksgiving week, saya dapat jatah pada Kamis (4/12) untuk membawakan pidato demonstrasi. Saya pilih pidato demonstrasi tentang bagaimana cara menari Bali sekalian menunjukkan tarian Indonesia.

Di sekolah saya, selain ada empat pelajaran tadi, ada juga namanya AAA (Academics, Advisement, Activities ) dan SSR (Science Study Reading). AAA (baca triple A, pen) adalah waktu 20 menit setelah jam pelajaran terakhir dan waktu itu bebas dimanfaatkan siswa untuk apapun asalkan positif. Hanya ada pada Senin, Rabu, dan Jumat. Biasanya siswa masuk ke kelas-kelas dan memanfaatkan waktu AAA untuk bertanya ke guru masing-masing tentang subjek yang tidak dimengerti atau hanya mengerjakan tugas, pe-er, dan extra credit.

Tapi, saya biasanya memanfaatkan AAA dengan ikut klub-klub karena biasanya jam AAA juga dipakai untuk pertemuan klub. Ruang lain yang penuh selama AAA adalah perpustakaan. Selain koleksi bukunya yang mencapai ribuan, lengkap, dan bagus-bagus, tersedia kurang lebih 30 komputer yang biasa dipakai siswa untuk akses ke internet.

Saya paling suka ke perpus tiap pagi sebelum bel masuk, sekadar pinjam komik Jepang atau baca buku tentang Indonesia karangan orang sini, hehe… Perpustakaannya besar dan nyaman. Mau mencari buku tinggal ketik di komputer katalog dan langsung bisa diketahui di rak mana kita bisa dapat buku sesuai keyword yang kita inginkan.

Kalau mau pinjam tinggal bawa kartu pelajar dan tinggal di-scan di komputer. Lama waktu pinjam adalah tiga minggu. Perpustakaan tidak pernah sepi dari siswa yang memang baca buku, mengerjakan tugas, atau cuma main komputer. Apalagi saat SSR yang jatuh tiap Selasa dan Kamis. SSR adalah sistem study hall di mana siswa pergi ke ruang tertentu dan wajib membawa buku yang harus dibaca selama jam SSR dan ada guru yang mengawasi.

Biasanya, siswa meminjam buku dari perpustakaan untuk jam SSR. Membaca memang sangat digalakkan di sini. Setiap kelas menuntut siswanya untuk mau membaca dan membuat book review tentang buku yang sudah dibacanya. Bahkan ada club book reading di sekolah.

Sekolah saya memang menjadi jujugan anak-anak dari kota lain. Selain karena sekolahnya yang besar, bersih, dan ‘terlihat’ mahal, biasanya siswa dari luar kota tertarik dengan prestasi sekolah saya yang tergolong favorit dan diperhitungkan. Sekolah saya selalu unggul baik di bidang akademik, seni (sampai ada klub Arts Magnet dan banyak siswa yang datang hanya untuk menjadi anggotanya), yearbook, school newspaper, debat, hingga olahraga. Semua meraih gold di tingkat state (provinsi).

Host mom bilang, pendidikan di Minnesota memang tergolong unggul dibanding state lain di US. Sebelum berangkat ke US, guru bahasa Inggris Wakako bilang kalau kami sangat beruntung dapat penempatan di Minnesota karena bahasa Inggris di provinsi atau negara bagian ini masih tergolong murni.

Banyak pula pembaca berita di US datang ke Minnesota hanya untuk belajar aksen Minnesota yang indah untuk menunjang profesi mereka. Mendengar hal itu dari Wakako, saya jadi bertambah semangat untuk ikut kelas yang banyak diskusi untuk mengasah aksen Minnesota saya.

Warna kebesaran sekolah saya adalah ungu dan putih, dengan maskot bison. Di dinding sekolah biasanya dihiasi foto-foto Homecoming King and Queen dari tahun ke tahun. Ada juga foto-foto siswa yang meraih prestasi tingkat state maupun nasional, lukisan-lukisan besar, dan poster-poster karya siswa.

Di setiap kelas ada TV, VCR, DVD, LCD projector, rautan pensil otomatis, komputer, dan biasanya tiap kelas didekorasi sendiri oleh guru. Dan, itu biasanya mencerminkan karakter kelas itu atau malah mencerminkan kegemaran gurunya. Seperti guru speech saya yang punya dekorasi puluhan boneka dan pernak-pernik badut di dalam kelasnya. TV biasanya dinyalakan setiap saat dan menampilkan pengumuman-pengumuman seperti lunch menu, messages for students, birthday, club-club, quote of the week, ucapan selamat, dan sebagainya.

Saban Jumat selama jam AAA, setiap TV sekolah menayangkan Bison BItz. Ini adalah nama TV sekolah saya, durasinya 20 menit, sekali seminggu. Saya acungi jempol untuknya. Acaranya murni karya dan kreativitas siswa. Biasanya seputar hal-hal terbaru di sekolah, humor, wawancara, dan sebagainya.

Video production yang menangani siswa, mulai dari ide, rekaman, editing, reporter, hingga finishing. Delapan exchange students termasuk saya sudah merasakan diliput oleh tim TV sekolah sebagai ucapan selamat datang dari sekolah. Malah Jumat (21/11) lalu, Marian Grunden, siswa AFS dari Jerman, menjadi salah satu reporter di Bison Bitz dan meliput tentang Germany Fashion.

2 thoughts on “Radar Kediri – Whatta Wimpy Skier Ever

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s