Radar Kediri – US Stuffs


Akhirnya saya sakit juga. Jum’at, 9 januari, musibah bermula di kelas speech. Emmm sebenarnya nggak ada hubungannya sih, cuma di kelas itulah kepala saya mulai overwhelming dan cekot-cekot, begitu bahasa jawanya. Padahal hari itu ada persuassive speech. Alhamdulillah jadwal saya masih hari senin ( 12/1 ), jadi hari itu saya cuma memberi komentar, kritik, dan saran buat teman-teman yang membawakan speech hari itu. Semakin lama, kepala terasa berat, sepertinya saya mau demam dan masuk angin. Teman-teman pun bertanya-tanya termasuk Maricia, teman saya yang super baik hati yang hampir-hampir tiap seminggu sekali selalu punya hadiah kecil buat saya. Sampai pada pidato Amanda tentang partial birth abortion, yakni tentang aborsi ketika janin masih di dalam rahim. Pidatonya mengusung perlawanan terhadap hukum melegalkan aborsi. Entah kenapa, setelah itu teman saya, Jenny Olson pun menangis hebat hingga matanya merah. Saya pun cuma menanyakan keadaannya, namun tidak terlalu ingin mencampuri urusannya. Untungnya dia cepat pulih.

Sialnya, pulang sekolah saya berniat langsung pulang karena saya mulai lemas, namun saya harus menemui counselor untuk mengganti jadwal kelas pertama saya di quarter ketiga. Dan karena kelas-kelas yang tersisa tidak banyak pilihan, akhirnya saya ambil 3D Mechanical Drawing, diajar oleh Guru kelas arsitektur, materinya seputar software CAD dan membuat objek-objek 3D lewat komputer. Karena saya langsung ke level dua, tanpa level pertama tentang perkenalan ke software CAD, akhirnya saya harus menjalani try out bersama gurunya sendiri. Untungnya saya sedikit tau soal software CAD dari interior design. Jadi gurunya pun memberi saya izin untuk loncat kelas, hehehe. Tapi gara-gara mesti mengurusi kelas baru itu, akhirnya saya ketinggalan bus, padahal kepala sudah nyut-nyutan. Dan lagi saya yang memang sengaja bolos latihan skiing, malah kepergok Blair dan Kevin, akhirnya saya tetap datang latihan meski cuma membantu waxing skis anak-anak yang racing di up north hari sabtu (10/1). Berkali-kali telpon rumah dan host mom, tidak ada jawaban. Olala, ternyata hari itu mom ada di St Paul, capitol Minnesota ( Mom bekerja di Children Hospital ). Akhirnya saya harus menunggu satu jam dengan kepala mau pecah. Akhirnya sakit juga.

Lima bulan di Amerika, akhirnya pula saya dilanda bosan dengan makanan sini. Menu kantin yang dulu selalu saya tunggu-tunggu, sekarang terasa membosankan. Saya jadi kangen baksonya pak dju atau pecelnya buk pin di SMADA, hehehe. Kantin di sini besarnya mungkin sebesar aula SMAN 2 Kediri. Ada empat macam menu setiap hari. Menu utama, menu alternatif, salad & soup, dan pizza. Khusus salad & soup serta pizza selalu ada setiap hari, menunya pun sama. Untuk menu utama dan alternatif berganti setiap hari. Saya pun tidak kesulitan mengenali mana yang mengandung daging babi dan mana yang tidak. Di brosur daftar menu bulanan sudah disertai tanda bintang di menu yang mengandung babi sebab beberapa siswa maupun staff ada yang Muslim dan Yahudi yang tidak mengkonsumsi daging babi. Biasanya yang mengandung babi itu namanya malah tidak mengandung babi sama sekali. Seperti bacon, sausage, pepperoni, salami, dan ham.

Makanan favorit saya di kantin adalah chicken patty, cheeseburger, dan french fries. Fastfood semua, maklum. Untuk minumnya tersedia air mineral, susu, kopi, maupun softdrink. Perlu digarisbawahi bahwa minuman beralkohol tidak dijual di sembarang tempat di Amerika, bahkan di pesta sekaligus. Karena drinking age atau usia legal untuk minum alkohol di sini adalah 21 tahun. Jadi anggapan kalau pesta remaja di sini penuh miras itu tidak benar. Berbeda dengan negara-negara di eropa yang melegalkan alkohol sejak usia 16 tahun. Saya pun sempat bingung setiap ditanya guru atau teman-teman tentang drinking age di Indonesia karena saya yang tidak pernah mengkonsumsi alkohol.

Di Amerika khususnya di sekolah-sekolah, sudah pasti tersedia keran air yang airnya bisa diminum langsung. Tersebar di banyak tempat, khususnya di area gym. Itu memang air keran langsung, tanpa dimasak tentunya, namun sudah melalui proses penyaringan. Meski begitu, saya masih tidak biasa minum air keran langsung. Kebanyakan rumah pun tidak punya air putih yang dimasak dan ditaruh di wadah khusus seperti di Indonesia. Seperti setiap saya bertamu ke rumah teman dan meminta segelas air putih, refleks mereka akan menunjuk ke arah keran di bak cuci piring. Untungnya di rumah host family, airnya masih disaring lagi di lemari es. Jadi rasanya sama dengan air yang dimasak yang biasa saya minum di Indonesia.

Jadwal sholat selama musim dingin terlampau lebih awal dari biasanya. Seperti shubuh sekitar pukul 6.30 pagi, dhuhur pukul 12.30 siang, ashar pukul 2.30 sore, maghrib pukul 4.45 sore, dan isya’ pukul 6.15 malam. Dhuhur dan ashar ada di jam sekolah. Sedangkan sekolah selesai pukul 2.20 siang, dan untuk saya yang harus latihan skiing baru sampai rumah pukul lima sore. Bagaimana dengan sholat saya? Saya pun mencoba berbicara pada salah satu guru saya yang menangani exchange student, saya biasa memanggilnya Miss B. Alhamdulillah Miss B menyediakan satu ruangan khusus untuk saya sholat setiap pulang sekolah, jadi saya selalu sedia mukena di loker, karena saya membawa dua mukena dari Indonesia dan yang satu saya pakai di rumah. Namun saya tetap harus melakukan sholat jamak takhir tiap hari sekolah karena waktu Dhuhur yang berada di jam pelajaran. Semoga ALLAH mengampuniku. Amien.

Senin lalu ( 5/1 ), saya pun mencoba mengirim beberapa surat dan kartu pos untuk keluarga, teman-teman, dan sekolah-sekolah lama saya termasuk SD saya di SDN Kampung Dalem 6, dekat pasar Setonobetek. Aneh juga menyadari kalau di negeri serba elektronik ini ( Baca : Amerika ), budaya berkirim surat pun masih ramai dan tak pernah sepi. Setidaknya setiap rumah memiliki kotak pos di depan rumahnya. Surat-menyurat tetap menjadi alat komunikasi penting di Amerika, meski budaya internet dan handphone sudah menjadi trend tersendiri. Kotak pos host family contohnya yang selalu ramai dengan surat baru, meski hanya selebaran diskon dari toko-toko atau brand-brand tertentu, check, kartu ucapan, laporan pajak, bahkan sampai surat tidak penting seperti surat penipuan yang memberitahukan bahwa anda mendapat satu buah mobil honda jazz, hehehe. Minimal empat surat dalam sehari. Saya pun menceritakan kepada host fam bahwa surat menyurat di Indonesia merupakan hal yang sangat spesial. Maksudnya, tidak banyak orang yang masih berkirim surat, sehingga ketika orang menerima surat akan terasa sebagai barang yang sangat spesial ibarat barang langka. Makanya ketika bulan april 2008, ketika saya menerima surat dari host family untuk pertama kali, hal itu terasa sangat berharga dan memancing haru saya dan keluarga. Kapan ya budaya surat menyurat di Indonesia kembali berjaya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s