Radar Kediri – NBA Game


 

Michael Jordan, Kobe Bryant, Kevin Garnett, dan sederet nama-nama yang tidak asing bagi penggila bola basket. Mereka adalah sedikit dari sekian banyak pemain NBA (National Basketball Association). NBA adalah kompetisi nasional untuk bola basket professional di Amerika Utara (USA dan Canada). Saya pun berkesempatan menyaksikan ajang bola basket paling bergengsi di dunia tersebut.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, rejeki memang datangnya tak pernah disangka-sangka. Baru saja saya berniat menonton pertandingan NBA bulan februari depan, host dad Melissa Ng (Hongkong) malah menawari saya untuk menonton pertandingan NBA antara Timberwolves (Minnesota) dan Hornets (New Orleans) secara gratis dan cuma-cuma. Bahkan host dad Melissa sudah menyiapkan tiket kelas eksekutif di bangku deret ketiga dari depan. Wow, saya pun tak mau menolak rejeki. Lagipula kapan lagi saya bisa nonton NBA di kelas VIP secara cuma-cuma? Mau beli tiketnya sendiri harus pikir-pikir dulu karena tiket kelas VIP yang dibelikan oleh host dad Melissa itu harganya $ 200 atau kira-kira seharga lebih dari Rp 2.000.000,- Sedangkan kelas ekonomi alias yang paling murah itu harganya $ 25 atau kurang lebih setara dengan Rp 250.000,-

Saya pun meng-iya-kan tawaran nan mulia dari host dad Melissa itu, hehehe. Pertandingan antara Minnesota Timberwolves dan New Orleans Hornets ini berlangsung pada Jumat, 23 Januari 2009 pukul tujuh malam di Target Center, Minneapolis. Tepat sehari sebelum saya berlibur ke Disney World, Florida. Empat tiket gratis dari Host dad Melissa-pun dialamatkan kepada saya, Melissa, Kelsey, dan Johnny. Host dad Melissa hanya berpesan, jangan lupa melambai ke kamera, karena bangku deret depan selalu tersorot kamera, hehehe.

Hari jumat, saya langsung ke rumah Melissa sehabis pulang sekolah karena kami berencana berangkat ke Minneapolis pukul lima sore untuk menghindari macet. Benar saja, jalanan macet dan alhamdulillah kami masih bisa sampai tepat waktu. Markas Timberwolves ada di sekitar downtown Minneapolis. Seperti biasa, kami memarkir mobil di gedung lain di pinggiran downtown lalu berjalan menelusuri jembatan yang menghubungkan ke gedung-gedung lain. Sampai sekarang saya masih tetap sulit menghafal jalan-jalannya. Pertandingan hari itu tergolong ramai dan penuh. Kelsey bilang hal itu karena Hornets adalah tim yang tergolong bagus dan musim ini Timberwolves tergolong tahun gemilang.

Beberapa penjagaan ketat pun dilakukan. Tapi anehnya saya lepas dari pemeriksaan, cuma disapa hai dan apa kabar dari keamanannya. Tidak di-check sama sekali, ya mungkin saya dikira anak kecil jadi penjaganya memasukkan saya ke stadion tanpa kecurigaan, hehe. Foto tim Minnesota Timberwolves menempel di dinding besar di dekat pintu masuk, serta logo Timberwolves dengan gambar serigala dan warna biru mendominasi Target Center. Orang-orang terlihat sangat antusias. Saya dan Melissa berkali-kali berdecak histeris karena semua terasa mimpi. Kami pun berbisik-bisik soal teman-teman kami semua yang rata-rata maniak NBA. Saya jadi ingat teman-teman saya di tim bola basket SMADA Kediri yang selalu berkomentar, “Jangan lupa lihat NBA, dit! Mintain tanda tangan Timberwolves yaa…” Hehehe.

Masuk ke stadion, langsung disambut musik Rap dan R&B khas bola basket. Stadionnya sangat besar dan full technology. Layar plasma besar mengelilingi arena dan ada layar TV besar (kira-kira besarnya hampir separuh layar di bioskop) dengan empat muka yang terletak di tengah arena dan di atas lapangan. Poster super besar dan nama-nama pemain Timberwolves beserta foto mereka pun terpampang di sekeliling arena. NBA benar-benar spektakuler.

Di pintu masuk, kami menunjukkan tiket kami lalu petugas khusus membawa kami ke kursi kami yang ternyata memang sangat dekat dengan lapangan. Subhanallah. Di samping kursi-kursi kami ada kursi-kursi eksekutif dengan meja di depannya yang dilengkapi layar monitor seukuran laptop, dan orang-orang yang duduk di deret kursi tersebut masing-masing memegang catatan. Entah saya tak tau pasti mereka siapa.

Pertandingan belum dimulai, masih pukul tujuh kurang. Saya dan melissa histeris dan mengambil gambar stadion sebanyak-banyaknya. Ternyata musik Rap dan R&B yang bergema dari awal diatur oleh seorang DJ, namanya kalau saya tidak lupa adalah DJ Mada. Lagu-lagunya benar-benar bagus-bagus, atmosfernya jadi benar-benar NBA. Ada balon hitam besar sebesar mobil, dan bentuknya seperti kapal selam, terus terbang mengelilingi arena dan seperti mengeluarkan sesuatu. Beberapa keamanan berjaga di beberapa penjuru dan menenteng walkie talkie. Ada juga beberapa pelayan dengan seragam dan berkeliling membawa pesanan makanan dan minuman pesanan dari kelas VIP. Saya pun ikut membaca menu yang tertera di kursi saya. Masya’Allah mahal sekali. Softdrink saja seharga $6,75. Ada juga beberapa penjual gula-gula kapas dan minuman lainnya yang dijual dengan cara digendong dan ditaruh kotak khusus seperti pedagang-pedagang di Indonesia.

Layar TV yang ada di atas lapangan menunjukkan statistik pertandingan dan gambar-gambar seputar persiapan pertandingan. Pertandingan dipandu dua MC, satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka bercuap-cuap dan ditayangkan langsung di layar. Beberapa pasang kamera tersebar di penjuru stadion dan membidik gambar penonton. MC pun berseru untuk menyambut sang Timberwolves. Tempat duduk saya pun berdampingan dengan pintu keluar pemain. Saya, Melissa, Kelsey, dan Johnny langsung berdiri dan menyambut masing-masing pemain dan ikut berseru menirukan suara serigala untuk menyambut tim. Para pemain keluar dan masih mengenakan jaket biru dongker dengan logo Timberwolves. Mereka langsung masuk ke lapangan dan melakukan pemanasan. Saya pun tak henti-hentinya mengambil gambar. Penonton sudah memadati semua bangku, mulair dari kelas ekonomi di lantai paling atas hingga kelas VVIP yang berhadapan langsung dengan lapangan.

Tiba-tiba semua lampu dimatikan dan seluruh arena gelap, kecuali layar besar di atas lapangan yang menayangkan sebuah video Timberwolves untuk membuka acara. Masih dalam penerangan minim, kemudian masing-masing pemain Timberwolves dipanggil satu persatu dan disorot dengan lampu panggung. Semua penonton berdiri dan mengeluk-elukkan nama pemain, DJ masih terus memutar lagu-lagu yang semakin lama semakin membuat atmosfer lebih hidup. Selesai memanggil nama semua pemain, lampu pun dinyalakan kembali. Belasan cheerleaders atau pemandu sorak dengan pakaian putih super mini langsung bersiap di tengah lapangan dan tanpa ba-bi-bu mereka langsung bersorak dan menari dengan membawa pom-pom mereka. Namun pertandingan belum dimulai. Selanjutnya, semua penonton berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan Amerika Serikat dengan dipandu seorang penyanyi laki-laki.

Pertandingan dimulai, Hornets berkostum biru dan Timberwolves berkostum putih. Hornets langsung mencetak angka lebih dulu dari Timberwolves. Sempat pesimis di awal. Lalu layar di atas lapangan memunculkan ajakan kepada supporter untuk menyerukan ‘Howl-O-Meter’ yaitu seruan seperti suara serigala. Tanda Howl-O-Meter akan meningkat sesuai kerasnya suara penonton, kalau seruannya sampai keras sekali nanti barometernya akan menunjukkan warna merah. Kadang kala layar menunjukkan tulisan “Noise” atau “Louder” dimana penonton akan mengikuti instruksi layar. Biasanya terjadi saat Timberwolves mencetak angka, khususnya three points. Adapula musik yang terdengar seperti alunan tepuk tangan dan MC mengajak semua penonton untuk ikut tepuk tangan dengan irama sesuai musik. Benar-benar pertandingan spektakuler. Saya tidak menyangka ini bakal jauh lebih hidup dan bahkan lebih dari pertandingan basket saja.

Di sela-sela game saat break atau istirahat, selalu diselingi banyak acara kreatif dan interaktif. Seperti ada yang namanya ‘Wolves Care’ dimana Wolves mengundang seorang remaja pengidap kanker lalu memberinya atribut Minnesota Timberwolves lalu memberi dia kesempatan untuk mencoba memasukkan bola ke dalam ring selama masa istirahat pertandingan. Di sesi break selanjutnya, MC pun berkeliling dan bagi-bagi uang $50, lotre dengan hadiah $1000, atau melempar-lemparkan puluhan kaos timberwolves gratis kepada penonton.

Break yang lain, diisi lagi oleh tarian dari tim cheerleader Timberwolves yang berganti kostum dari putih menjadi biru. Adapula beberapa atraksi super menarik seperti sirkus atau akrobat dimana ada dua orang pria yang melompat-lompat di atas matras elastis sehingga mereka bisa terlempar tinggi sekali. Tidak hanya melompat-lompat dengan kaki telanjang, mereka bahkan melakukannya dengan papan ski, papan snowboard, bahkan dengan posisi berenang/tidur/ikan, dan macam-macam. Benar-benar menakjubkan. Kamera TV tak henti-hentinya menyorot penonton dengan berbagai aksi yang beragam dan lucu-lucu. Seperti misalnya banyak penonton yang menari lepas karena musiknya yang benar-benar asyik, lalu kamera akan merekam dan seketika itu terpampang di layar. Ada lagi simulasi memasukkan bola ke dalam ring dengan berbagai gaya oleh maskot tim dan beberapa pemain. Yang jelas, NBA menjadi bukan hanya sekedar pertandingan basket biasa. Tapi berbagai macam paket hiburan dalam
satu acara. Musik dengan DJ yang bagus dan professional, atraksi, hadiah, dan tentunya pertandingan sendiri yang tak kalah menarik.

Setelah tertinggal beberapa poin di awal, Timberwolves mulai mengikuti. Al Jefferson, pemain andalan Timberwolves, mengawali gebrakan dari Timberwolves. Dia memasukkan beberapa point krusial di awal. Seketika layar memunculkan nama dan foto Al Jefferson yang bernomor punggung 25. Setiap kali pemain mencetak goal, layar akan menampilkan foto, nama, nomor punggung, dan tim di layar.

Kedudukan pun berubah, Timberwolves ganti memimpin. Setiap Hornets melakukan serangan, spontan semua supporter berteriak “DEFENSE” (Bertahan) secara bersama-sama dan berirama. Setiap Hornets akan melakukan tembakan ke ring, semua supporter kembali menyerukan auman sang serigala. Beberapa kali pemain hornets terjatuh atau malah menjatuhkan diri ke arah official team Timberwolves yang duduk tepat di pinggir lapangan. Hal itu cukup menarik dilihat, karena pemain tersebut terjatuh mengenai separuh official team.

Berkali-kali kedua tim berada di skor yang sama, menunjukkan bahwa kekuatan mereka yang sebenarnya sebanding. Pertandingan dimulai pukul tujuh lalu sekitar pukul 20.15 adalah half pertandingan. Di dua game terakhir, pertandingan benar-benar menegangkan. Saya tak henti-hentinya berteriak-teriak terbawa emosi dan atmosfer pertandingan. Melissa hanya geleng-geleng kepala karena dia tidak begitu mengerti soal basket, dia hanya ingin menonton NBA selama ada kesempatan di Amerika.

Saya yang tadinya jeprat-jepret maupun merekam beberapa video, akhirnya dibuat tegang tak berkutik dan memilih mengikuti pertandingan. Saya jadi maniak NBA, pertandingannya benar-benar seru dan asyik, tidak membosankan. Pertandingan langsung memang selalu lebih seru daripada hanya melihat di TV.

Kedua tim saling berebut point dan saling mengejar. Dua game terakhir didominasi oleh tembakan three point dari Timberwolves. Penonton semakin dibuat riuh. Ada bapak dan dua anak laki-lakinya yang duduk di depan saya yang sangat antusias, duduk-berdiri-duduk-berdiri ketika wolves akan mencetak angka. Saya-pun tak bisa menarik mata saya dari lapangan. Permainan yang sangat,sangat,sangat bagus dan menarik. 30 detik terakhir, saya merekam video kemenangan. Ya, saya yakin Timberwolves akan menang karena saat itu Timberwolves menunjukkan aksi terbaiknya. Saya pun terus berdoa dari awal agar Timberwolves menang di pertandingan NBA pertama saya. Dan, alhamdulillah, kami menang! Timberwolves menang dengan skor 116 atas Hornets dengan skor 108, cukup tipis. Saya pun ikut bergembira dengan supporter yang lain. Lautan kegembiraan dan kepuasan pun lekat di wajah masing-masing penonton. Pertandingan usai kira-kira pukul 21.30 malam.

Selesai pertandingan, saya pun menemukan Hall of Fame Minnesota Timberwolves di mana ada beberapa pasang cap sepatu pemain Timberwolves. Ukurannya benar-benar besar sekali. Al Jefferson memakai ukuran sepatu 18 dan Kevin Love bahkan memakai ukuran 19. Kaki saya hanya separuh dari kaki mereka. Jelas saja, orangnya tinggi sih. Benar-benar pengalaman berharga. Setelah pertandingan spektakuler ini, saya jadi ingin sekali menonton pertandingan antara Minnesota Timberwolves dan Los Angeles Lakers tanggal 22 Februari depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s