Radar Kediri – Up north


 

Berantakan. Itulah minggu terakhir di quarter dua. Jadwal minggu terahir di quarter kedua yang seharusnya dipakai untuk final exam dan tugas-tugas akhir menjadi sedikit kalang kabut gara-gara sekolah diliburkan pada hari Kamis ( 15/1 ) karena suhu tertinggi pada hari itu adalah -22 derajat fahrenheit dengan wind chill sampai -55 derajat fahrenheit. Sehingga bus sekolah tidak bisa mengantar anak-anak ke sekolah karena mesinnya yang mati dan susah dinyalakan karena dingin. Suhunya terlalu rendah untuk anak-anak yang menunggu bus sekolah di jalan. Padahal hari itu banyak ujian akhir di kelas choir dan creative design. Lha koq hari jumat ( 16/1 ) yang notabene hari terakhir di quarter dua, sekolah juga harus ditunda dua jam, sehingga sekolah dimulai jam 9.45 siang. Bukannya longgar, hari jumat jadi ngos-ngosan karena harus mengerjakan 50 soal choir dalam 30 menit. Akhirnya pulang sekolah, saya, Melissa, dan Kyle pergi main bowling sekedar untuk refreshing setelah capek ujian. Meski baru pertama kali main bowling yang sesungguhnya, Kyle dan Melissa dibuat kesal oleh saya karena saya selalu menang. Dua kali game, murid selalu mengalahkan sang guru.

Hari sabtu ( 17/1 ), saya dan host mom pun bersiap ke rumah Grand Ma Gyda di Fertile, Upnorth Minnesota, yang cuma berjarak kira-kira dua jam dari Canada. Ada apa gerangan? Masih ingat Nurul Ashiqin Arifin, siswi YES dari Malaysia yang saya ceritakan dulu? Yup. Dia akan tiba di Minnesota pada hari Sabtu tersebut. Saya dan Host Mom berangkat dari Buffalo kira-kira pukul 2.45 siang. Saya pun membawa perlengkapan menginap dua malam di rumah grand ma secukupnya. Kebetulan hari Senin (19/1) sekolah-sekolah di Amerika diliburkan karena hari itu adalah peringatan Martin Luther King Junior Day.

Perjalanan Buffalo – Fertile memakan waktu kurang lebih empat jam, hampir sama dengan jarak Kediri – Surabaya. Pesawat yang ditumpangi Ashiqin tertunda, sehingga ia diperkirakan sampai di Fertile pukul tujuh malam. Pesawatnya mendarat di Grand Forks, North Dacota, karena lebih dekat daripada Minneapolis Airport. Perjalanan cukup mengerikan karena minggu itu udara cukup dingin dan banyak mobil yang kecelakaan dan masuk ke dalam lubang di kanan kiri jalan. Kalau di Indonesia mirip-mirip parit atau selokan untuk menampung air. Tapi parit di sini jauh lebih lebar dan lebih dalam dari parit di Indonesia, dan fungsinya untuk menampung salju yang menggunung. Saat itu, ada satu mobil dan dua truk yang terjebak di dalam selokan. Di beberapa ruas jalan, banyak mobil polisi yang berpatroli dan beberapa truk besar membantu mengangkat kendaraan yang masuk ke dalam selokan. Ada tiga ambulans yang berpapasan dengan mobil kami waktu itu. Nampaknya cuaca cukup buruk
untuk perjalanan. Kami sempatkan mampir di kota Alexandria untuk menyantap makan malam karena perjalanan yang masih jauh.

Alhamdulillah pukul 6.30 malam, saya dan host mom sampai di rumah grand ma yang dekat dengan downtown kota Fertile. Saya pun langsung melambai pada grand ma dari luar rumah. Olala ternyata grand ma mengira saya adalah Ashiqin. Maklum, grand ma sangat antusias sekali untuk menerima exchange student di rumahnya. Biar rumah tidak sepi, begitu ucap beliau. Saya langsung masuk ke rumah dan membawa semua barang bawaan. Briar, anjing kecil milik grand ma yang langsung menyambut saya. Saat itu Ashiqin belum datang. Saya pun dibuat terkagum-kagum dengan rumah grand ma yang seperti museum. Rumahnya tidak terlalu besar, namun penuh ornamen antik. Ya, grand ma adalah collector barang-barang unik. Seperti sendok dari zaman awal abad 19 hingga sekarang, koin-koin dan mata uang dollar dari zaman dulu kala, ornamen malaikat yang jumlahnya ribuan, 1200 botol parfum dari sejak beliau kecil, dan masih banyak lagi barang antik lainnya. Rumahnya didominasi warna merah dan
biru, warna favoritnya. Saya pun harus hati-hati melangkah atau bergerak, karena rumahnya yang terkesan ‘sumpek’ karena banyaknya koleksi. Hampir tidak ada tempat untuk meletakkan baran-barang karena setiap meja selalu penuh ornamen.

Grand ma pun menunjukkan saya kamar bernuansa biru dan pink yang baru direnovasinya untuk kamar Ashiqin nanti. Cantik sekali. Saya yakin Ashiqin akan suka dengan kamar barunya. Meski grand ma sudah berumur sekitar 70an, tapi jangan remehkan energi dan semangatnya. Beliau masih aktif berlibur, mengendarai mobil jarak jauh, masih ceriwis juga. Beliau selalu punya segudang cerita untuk dikisahkan ke cucu-cucunya.

Jam menunjukkan pukul 7.30 malam, dan ada suara mobil di halaman rumah grand ma. Ashiqin sudah tiba. Host mom pun mengingatkan saya untuk diam bersembunyi dan membiarkan grand ma menyambut Ashiqin pertama kali. Saya dan host mom pun bersembunyi dan tersenyum-senyum mengintip grand ma dan Ashiqin. Grand ma memberi Ashiqin setangkai mawar pink dan balon bertuliskan “You Are The Best” sebagai ucapan selamat datang. Saya sepintas melihat sosok Ashiqin yang berkerudung dan memakai winter coat warna merah muda. Saat itu, Ashiqin ditemani koordinator Head of Lakes area. Ashiqin sedikit kaget dengan adanya Briar. Dia sepertinya masih takut dengan anjing. Saya jadi teringat saat pertama kali saya bertemu dengan anjing dalam satu rumah. Saya pun masih ketakutan seperti dia.

Capek-capek bersembunyi, Ashiqin pun sepertinya tau dan akhirnya ragu-ragu dan memanggil nama saya. Host mom pun memberi isyarat untuk keluar dari tempat persembunyian, hehehe. Ashiqin pun lantas berteriak histeris. Kami berpelukan. Meski beda negara, asalnya kan sama-sama Melayu, jadi merasa seperti bertemu saudara sendiri. Saya pun beramah tamah dengan koordinator yang mengantar Ashiqin ke rumah grand ma supaya grand ma bisa menghabiskan waktu dengan Ashiqin. Koordinator Ashiqin sudah menjadi host family selama 15 kali dengan 15 siswa AFS yang berbeda dari berbagai macam negara. Mereka sudah sangat berpengalaman.

Malam itu ada sedikit makan malam kecil untuk menyambut Ashiqin. Lisa dan David ( Saudara Host Mom ),juga ikut meramaikan bersama dua putrinya, Brianna yang berumur 17 tahun dan Tattiana yang berumur sembilan tahun. Kami pun sudah akrab layaknya keluarga besar karena sebelumnya mereka pernah datang ke Buffalo. Malam itu host mom menginap di rumah Lisa, sedangkan saya masih ingin berbagi pengalaman dengan Ashiqin di rumah grand ma.

Ashiqin merasa senang saya datang di hari pertamanya di rumah host family sehingga dia merasa lebih nyaman. Beberapa kali Ashiqin bertanya pada saya tentang hal-hal seputar sekolah maupun praktek ibadah di sini. Dia sedikit khawatir tentang makanan dan anjing. Saya pun memberitaukan beberapa makanan di sini yang haram dimakan dan cara-cara bersuci dari liur anjing. Sekalian kami mencari jadwal sholat untuk kota Fertile. Dia sempat menangis ketika menelpon ibunya untuk pertama kali setelah sampai di Amerika. Saya pikir itu sangat wajar jikalau kita sangat dekat dengan keluarga dan harus terpisah ribuan kilometer. Ashiqin memang sangat dekat dengan keluarganya.

Di malam kedua di Fertile ( 18/1), Brianna dan Tattiana menawari saya dan Ashiqin untuk ikut menginap di rumah mereka malam itu. Ashiqin sedikit ragu karena Brianna dan Tattiana memiliki anjing jenis german shepherd yang sangat besar. German shepherd adalah jenis anjing yang biasa digunakan untuk kepolisian, teman-teman saya di Indonesia biasa menyebutnya anjing herder (saya tidak tau bagaimana mengejanya yang benar). Meski saya belum pernah kontak langsung dengan anjing sebesar itu, saya pun berusaha memberanikan diri dan meyakinkan Ashiqin bahwa Daisy (nama anjing tersebut) adalah anjing baik dan nggak akan menggigit. Kami pun sepakat dan akhirnya menginap di rumah Brianna dan Tattianna. Daisy pun sudah menyambut di depan garasi.

Ajaib. Rasa takut saya lebur, terganti dengan keinginan menakhlukkan rasa takut saya sendiri. Saya pun menghampiri Daisy bersama Brianna. Ternyata dia anjing yang sangat manis, dan yang lebih penting lagi dia tidak menggonggong, hehehe. Saya mengelus-ngelus punggung dan belakang kepalanya, seperti yang diajarkan kakak-kakak AFS di Indonesia. Tak percaya juga, saya beranikan diri memeluknya. Hwaaa..berhasil akhirnya resolusi saya untuk memeluk german shepherd terwujud, hehehe. Saya pun meminta Ashiqin untuk mencoba mengelus Daisy. Pertama dia menggeleng ragu. Akhirnya dia pun mengelus punggung Daisy. Meski masih canggung, namun saya pikir itu sudah kemajuan untuknya. Yang dia butuhkan adalah rasa percaya diri menghadapi anjing dan yakin kalau anjingnya nggak bakalan menggigit. Hehehe.

Hari senin ( 19/1 ), saya ikut mengantar Ashiqin untuk daftar sekolah dan melihat-lihat sekolahnya di Fertile Beltrami School. Sekolahnya jauh lebih kecil dari Buffalo High School. Kalau Buffalo High School mempunyai 2000 siswa, Fertile Beltrami School hanya memiliki kira-kira 600 siswa. Jumlah senior keseluruhan hanya ada kira-kira 45 anak. Sekolahnya digabung dari tingkat SD hingga SMA. Ukuran sekolahnya juga tidak sebesar di Buffalo. Meski begitu, di Fertile Beltrami School, setiap siswa di tingkat High School masing-masing mendapat satu buah laptop yang bisa dibawa pulang dan dipakai di rumah. Ashiqin bahkan akan mendapat makan siang gratis selama masa sekolahnya di sana. Kami juga melakukan tour keliling sekolah, dipandu Brianna yang notabene anggota cheerleading di sekolah. Ashiqin terlihat antusias dengan sekolah barunya, meski sebenarnya dia sudah lulus SMA di Malaysia. Kami juga mengantarnya membeli baju-baju dingin untuk winter dan juga sepatu
boots baru.

Pukul setengah lima sore, saya dan host mom harus segera kembali ke Buffalo, karena kami tidak ingin terlalu larut sampai rumah. Ashiqin terlihat sedikit sedih berpisah. Mungkin juga sedikit bertanya-tanya akan enam bulan-nya di Amerika. Meski beberapa kali mengatakan rindu kepada keluarga di Malaysia, tapi saya selalu bilang bahwa enam bulan itu sangat cepat dan bulan juli tak akan lama lagi sampai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s