Radar Kediri – Disney World Part Two


 

Disney Animal Kingdom adalah taman hiburan Disney World pertama yang saya kunjungi (25/1). Saya sempat merasa tidak berada di Amerika Serikat karena tempatnya yang hijau dan tropis. Tidak itu saja, sebagian besar pengunjung adalah orang asing seperti orang Amerika Latin yang datang secara berkelompok dengan tujuan untuk study tour sekolah, maupun orang-orang Asia yang saya kenali dari wajahnya adalah orang Jepang. Saya dan Brianna cukup antusias karena ini adalah kunjungan pertama kami ke Disney World. Setelah pintu masuk di Disney Animal Kingdom, telah berjajar-jajar beberapa karakter Disney yang berkostum. Saya dan Brianna ikut antre untuk mengambil foto bersama salah satu karakternya. Saking banyaknya karakter, saya bahkan menjumpai beberapa karakter yang bahkan saya tidak pernah lihat sebelumnya. Biasanya, masing-masing karakter didampingi oleh seorang photographer Disney. Kalau kita memiliki photo pass yang berupa kartu, kita bisa minta tolong photographer itu untuk mengambil foto kita bersama karakter tersebut dengan kameranya. Memang lebih memudahkan untuk pengunjung yang tidak membawa kamera. Namun sayangnya, kita hanya bisa melihat hasil foto kita di website Disney dan kalau menginginkan foto kita tersebut, kita harus membayar sejumlah uang ke Disney untuk mendapat hasil cetaknya. Bahkan kalau mau curang dengan cara klik kanan di foto kita yang ada di website, hal itu benar-benar sia-sia karena setiap foto ada copyright-nya sehingga ada kode atau protection untuk setiap foto. Anyway, kami pun terlihat mencolok karena kami seperti satu-satunya remaja yang ikut antre berfoto. Tapi kami toh cuek, hehe, kembali ke mimpi masa kecil untuk sementara. Disney Animal Kingdom cukup hijau dengan pohon-pohon besar dan rindang di mana-mana. Sejenak saya malah teringat keluarga di Kediri, khususnya adik-adik saya di rumah yang pasti senang sekali kalau bisa berkunjung ke Disney. Semoga saja suatu saat nanti. Amien.

 

Rasanya aneh. Setelah berbulan-bulan harus memakai pakaian double dan jaket tebal, dan sekarang saya bisa berjalan-jalan dengan santai hanya dengan celana jeans dan kaos oblong tanpa jaket. Yah hitung-hitung menghela nafas sejenak dari ganasnya musim dingin di Minnesota. Saya dan Brianna menengok-nengok kolam flaminggo dan burung-burung lain. Kalau kita berjalan lurus dari pintu masuk, kita akan dengan mudah melihat pohon sebesar pohon beringin (bahkan lebih besar). Yang membuat kaget, kalau diamati lebih dekat, ternyata itu bukan pohon asli. Itu adalah pohon buatan yang dibuat sedemikian rupa menyerupai asli. Ukiran-ukirannya pun sangat detail. Host dad pun berkali-kali mempromosikan Bug’s Life. Bug’s Life adalah sejenis tontonan 3 dimensi yang berada di dalam pohon besar tadi, bercerita seputar kehidupan lebah. Antreannya cukup panjang, dan kami sempatkan berfoto lagi. Saya tidak ingin kehilangan satu moment-pun, hehehe. Kami pun memakai kacamata 3 dimensi berwarna hitam dengan bentuk seperti mata lebah itu. Lalu kami masuk ke dalam sebuah ruangan sebesar bioskop dengan layar sebesar layar bioskop pula. Pertunjukannya benar-benar terasa nyata. Seperti layaknya tontonan 3 dimensi, semua hal yang ada di depan kacamata menjadi terasa nyata. Tangan kami menggapai-gapai kupu-kupu cantik yang rasanya seperti terbang di depan hidung kami. Lalu ada adegan di mana sang lebah bersin, dan mendadak keluar semprotan air sehingga bersinnya lebah terasa nyata. Bahkan ketika lebah gemuk akan kentut, kami para penonton sudah bersiap tutup hidung. Benar saja, asap kehijauan dengan bau menyengat keluar. Memang animasi Disney masih susah ditandingi.

 

Setelah puas mencium kentut lebah (hehehe), kami bergegas menonton pertunjukan Lion King yang seperti konser musik penyanyi-penyanyi dengan suara yang membuat merinding. Saya dan Brianna berputar-putar hendak mencari wahana Kali River Rapids, namun host Mom mengajak ke Expedition Everest. Sekedar info, Host Mom adalah pecinta roller coaster (kereta yang berjalan naik turun, dan berputar dengan kecepatan tinggi). Kalau sebagian besar orang berteriak-teriak saat menaiki roller coaster, Host Mom malah tertawa paling keras. Dan sekedar info lagi, menurut Disney World Channel yang saya tonton di TV sebelumnya, Expedition Everest adalah wahana nomor satu yang wajib dikunjungi di Disney World. Host Mom bilang kalau Expedition Everest adalah roller coaster paling mengerikan yang pernah ada. Saya pun sedikit merinding mendengar kata ‘paling mengerikan’. Akhirnya saya pun iya iya saja dengan ajakan Host Mom menaiki Expedition Everest roller coaster. Kengeriannya juga dibalut oleh cerita seputar Yeti. Yeti adalah hewan super besar sejenis gorilla, namun lebih besar lagi dan berbulu putih tebal. Menurut kepercayaan, Yeti tinggal di puncak Gunung Himalaya yang merupakan gunung tertinggi di dunia. Bahkan dikabarkan Yeti pernah memakan beberapa pendaki gunung himalaya sebelumnya. Host Mom terlihat sangat antusias. Begitupula Brianna dan Host Dad. Akhirnya tiba giliran kami menjajal roller coaster paling mengerikan versi pecinta roller coaster (Baca:Host Mom). Sabuk pengamannya yang terbuat dari besi hanya melingkar di sekitar pinggang, tidak ada pengaman yang melingkar di sekitar dada. Pikir saya, berarti roller coaster-nya tidak terbalik-balik, lalu dimana letak ngerinya?

 

Kereta meluncur. Kami semua mengarahkan tangan ke atas dan berseru senang. Belokan pertama masih biasa, hanya setelah itu kereta meluncur sangat tinggi lalu turun dengan kecepatan tinggi. Saya masih belum merasa ngeri sama sekali. Kereta masih meluncur dan menikung dengan kecepatan tinggi. Sampai akhirnya kereta mendadak berhenti. Berhenti. Ya, berhenti. Rel di depan kami putus dan berlubang besar sekali di depan kami. Saya sempat bertanya-tanya dan berdoa kalau-kalau ada kerusakan teknis. Tiba-tiba kereta berjalan mundur dengan kecepatan tinggi di dalam kegelapan. Saat itulah saya baru mulai berteriak tak henti-hentinya. Baru pertama kali saya menaiki roller coaster yang berjalan mundur. Di tengah teriakan orang-orang yang sekarang mulai merasa ngeri itu, sayup-sayup saya masih bisa mendengar Host Mom saya tertawa-tawa. Benar-benar roller coaster paling mistis yang pernah saya coba. Bagian mengerikannya ada saat roller coaster-nya berjalan mundur, lalu kembali ke atas lagi dan mundur lagi. Perut saya seperti terasa jatuh, dan merasa kalau keretanya bakal jatuh. But, it was fun. Teringat soal roller coaster, saya mendadak mengingat ibu saya di Kediri yang tidak pernah mau diajak menaiki roller coaster, hehehe. Alhamdulillah, akhirnya mencicipi juga wahana nomor satu di Disney itu. Kami berencana kembali ke mobil untuk makan siang. Host Mom memang membawa sandwich untuk makan siang setiap hari selama di Disney. Tapi saya tetaplah orang Jawa asli yang masih merasa tidak kenyang kalau belum makan nasi. Apalagi liburan di Disney sama dengan olahraga jalan kaki karena tempatnya yang sangat besar.

 

Setelah menyantap sandwich, kami memutuskan pindah ke Disney Epcot karena Disney Animal Kingdom tutup pukul lima sore. Meski kami belum menikmati semua wahana di Disney Animal Kingdom, tapi kami akan datang lagi ke Disney Animal Kingdom di hari lainnya. Mobil pun meluncur ke Disney Epcot yang meski terletak di satu kompleks, namun kita tidak bisa langsung loncat begitu saja karena pintu masuknya yang harus memutar dulu dengan pintu masuk baru dan parkir mobil baru. Ada beberapa alternatif transportasi lain selain mobil pribadi, yaitu dengan Disney Monorail, kapal Ferry, atau bus Disney. Disney Epcot adalah favorit host mom dan host dad, juga semua exchange students yang pernah berkunjung ke Disney World. Mengapa? Kalau di taman Disney yang lain lebih memenuhi kesenangan anak kecil, di Disney Epcot malah lebih cocok untuk remaja dan dewasa. Wahananya lebih banyak dan satu lagi yang spesial, kita bisa berkeliling ke sebelas negara di Disney Epcot. Saya pun sangat antusias mendengar yang terakhir itu.

 

Enaknya kalau membeli tiket Disney yang berjenis paket adalah kita bebas keluar masuk Disney kapan saja selama lima hari itu dan tidak dipungut biaya tambahan. Jadi kami masuk ke Disney Epcot cukup memasukkan tiket dan menempelkan sidik jari. Masuk di gerbang utama, mata kita akan langsung mengarah pada bola putih besar yang tepat berada di depan pintu masuk Disney Epcot. Bola Putih besar itu adalah lambang dari Disney Epcot. Di depannya, ada batu seperti nisan besar yang disebut Leave a Legacy. Itu bukan kuburan, tapi hanya batu nisan dengan cap foto seperti perangko di atasnya dan memampang wajah dan nama pengunjung yang pernah singgah di Disney Epcot. Kami langsung menuju ke wahana Spaceship Earth yang ada di dalam bola putih tadi. Wahananya berupa kereta dengan masing-masing kereta diisi dua orang. Saya duduk dengan Host Mom, dan Brianna dengan Host Dad. Isinya seputar misi-misi manusia di luar angkasa dan teori evolusi. Di akhir, ada kamera yang mengambil gambar tiap pasang orang di kereta. Lalu komputer di tiap kereta menanyakan darimana kami berasal dan beberapa pertanyaan seputar rumah idaman di masa depan. Host Mom pun membiarkan saya menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Ada pertanyaan seperti, mau rumah yang dekat gunung atau pantai, rumah modern atau klasik, dsb. Setelah selesai, komputer menunjukkan model rumah kami di masa depan sesuai jawaban dari pertanyaan tadi. Saya pun tertawa-tawa melihat foto potongan kepala saya dan host mom yang terbingkai di atas animasi kartun yang berjalan. Lalu ada film pendek di sana yang menceritakan seputar rumah idaman kami itu. Turun dari kereta, kami bisa melihat foto kami di layar besar dengan peta tempat kami berasal. Tidak hanya itu saja, tersedia beberapa touch screen (layar sentuh) dan kami bisa mengirim hasil foto-foto tadi ke alamat e-mail masing-masing atau orang lain. Saya pun tak lupa mengirimkannya ke keluarga di rumah.

 

Lalu kami menuju ke wahana Soaring. Wahana ini merupakan salah satu tujuh wahana yang wajib dikunjungi versi Disney World Channel. Antriannya panjang sekali. Kami menunggu hampir satu jam. Baru kali ini ada yang namanya menunggu tapi tidak membosankan. Di antrian Soaring, ada empat layar besar untuk menghibur pengunjung. Disney memang penuh dengan tekhnologi, yang bahkan tak pernah terpikir oleh saya bahwa hal seperti itu ada di muka bumi ini,hehe. Sedikit sulit dijelaskan. Jadi, di layar tadi akan muncul ajakan untuk bermain game bersama-sama dengan pengunjung lain yang ada di depan layar. Ada empat layar, sehingga grupnya terbagi menjadi empat kelompok. Permainannya cukup melelahkan karena permainannya berpatok pada sensor yang mendeteksi gerakan anggota badan kita. Sensornya ada di layar besar tadi. Permainan pertama adalah membuat gunung dan menanam pohon dengan menggerakkan tangan kita seperti berenang ke atas. Semua pengunjung harus menggerakkan tangannya agar tercipta gundukan pasir lalu bunga dan pohon indah berwarna-warni. Cukup melelahkan dan butuh kerja sama tim. Satu kelompok satu layar, dan kami saling diadu. Permainan kedua adalah memukul-mukul bola salju di layar dengan gerakan tangan lagi. Ketika bola saljunya berhasil dipatahkan, akan keluar hewan-hewan lucu seperti penguin dsb. Permainan ketiga adalah menerbangkan burung elang sampai finish. Permainan ketiga ini menurut saya paling seru karena kerjasama tim benar-benar dibutuhkan agar sang elang bisa menang dari elang kelompok lain. Caranya cukup menggerakkan seluruh anggota badan ke kanan atau ke kiri bersama-sama dengan semua orang dalam tim. Kesuksesan bergantung pada tim. Yah cukup puas meski cuma duduk di peringkat kedua. Eh pintu di depan kami terbuka. Setelah antre lama akhirnya giliran kami tiba. Soaring adalah wahana dimana kita akan dibuat seperti terbang dan mengelilingi California. Host dad terlihat berkeringat karena takut. Hehehe, meski beliau juga seorang pilot yang sering mengudara, tapi kalau urusan phobia, beliau memang paling takut dengan ketinggian. Pasalnya, di wahana Soaring, kita akan duduk di sebuah bangku panjang bersama kira-kira sepuluh orang lainnya. Bangkunya dibagi menjadi tiga deret. Deret paling atas, tengah, dan bawah. Host mom terus-terusan meledek host dad. Host dad terus meminta duduk di bangku yang paling bawah, namun apa daya para wanita lebih banyak dan kami memilih deret paling atas. Kami pun duduk dan siap diterbangkan. Sabuk pengaman sudah terpasang rapi mengelilingi pinggang. Layar raksasa terbentang di depan kami. Bangku-bangku panjang yang kami duduki mulai naik perlahan sehingga langsung berhadapan dengan layar. Saya bisa jelas melihat kalau kami memang di bangku paling atas yang paling jauh dari lantai, ibaratnya di puncak. Layar mulai memunculkan video California yang diambil dari udara. Bangku yang kami duduki juga bergoyang-goyang dan bergerak seiring dengan gerakan dan arah video. Kalau videonya sedang bergerak cepat, kami pun jadi bisa benar-benar merasakan terbang di awan. Saya pun berkeringat karena semua lagi-lagi terasa nyata, takut jatuh hehehe. Ketika terbang melintasi hutan pinus, seketika kita akan bisa mencium bau pohon pinus. Begitupula saat melintasi pegunungan es, kita juga bisa mencium aroma salju. Benar-benar dibuat seperti terbang sungguhan.

 

Belum cukup terbang dengan Soaring, kami pun meneruskan misi ke luar angkasa. Eitss, ini luar angkasanya Disney World. Namanya Mission Space. Kami akan menjalani simulasi menjadi seorang astronot dan menjalankan misi ke planet mars. Saya sangat sangat antusias karena dulu pernah bercita-cita jadi Astronot, hehehe. Wahana ini dibagi dua level. Level pemula dengan efek biasa atau level mahir dengan efek ‘luar biasa’. Kami pun memilih level mahir. Satu pesawat luar angkasa diisi oleh empat orang. Pas sekali dengan jumlah kami yang memang cuma empat orang. Saya pun bertugas sebagai commander. Brianna sebagai navigator. Host Mom sebagai captain, dan Host Dad sebagai engineer. Sebelum masuk ke pesawat ulang alik, di komputer muncul peringatan yang membuat saya sedikit khawatir. Di sana ada peringatan untuk ‘astronot’ yang memiliki motion sickness (penyakit mudah pusing dan mual akibat tekanan atau gerak) diperingatkan kembali untuk segera keluar dari wahana. Khususnya pula untuk yang memiliki penyakit jantung karena masing-masing pesawat akan berputar sangat cepat untuk menimbulkan aura terbang. Saya sendiri punya motion sickness, namun mencoba cuek dan tetap menjajal wahana yang sudah saya tunggu-tunggu dari dulu. Kami pun bersiap dan masuk ke dalam pesawat kecil. Sabuk pengaman melingkar di dada dan kepala menghadap langsung ke depan monitor di dalam pesawat. Masing-masing awak pesawat memiliki layar masing-masing dan menjalankan tugas masing-masing. Saya pun sebenarnya tidak tahu pasti tugas saya apa, namun ternyata tugasnya mudah. Ada instruksi yang akan memberi aba-aba kapan saya harus menekan tombol di depan monitor saya. Pesawat pun bersiap lepas landas. Suara mesin bergaung keras sekali persis seperti peluncuran roket ke luar angkasa. Di depan mata saya, monitor menunjukkan gambar bahwa pesawat sedang mengahadap langit lalu bergerak cepat dan meluncur ke luar angkasa. Bersamaan dengan itu, pesawat mulai berputar cepat sekali, sehingga benar-benar terasa kalau kita dilempar ke luar angkasa dengan tekanan yang tinggi. Kepala saya pening sekali waktu itu. Instruksi meneriakkan berkali-kali kepada saya sebagai commander untuk menekan tombol di monitor. Saya benar-benar kesulitan dan tertatih tatih menggerakkan tangan saya untuk menggapai tombol. Tekanan yang saya rasakan sangat kuat dan bahkan telinga saya seperti mendengung karena mesin yang keras sekali.

 

Alhasil, saya pun sakit. Mission space benar-benar bukan wahana yang tepat bagi pengidap motion sickness seperti saya. Kepala jadi nyut-nyutan lalu mual dan berasa ingin muntah. Keluar dari pesawat pun saya masih limbung ke sana kemari. Host Dad bilang, wahana mission space memang sedikit berbahaya. Empat tahun lalu wahana itu bahkan pernah menelan korban jiwa. Seorang anak kecil berumur empat tahun dan seorang nenek berumur 60 tahun meninggal di wahana ini karena tekanan yang sangat tinggi dan ternyata kedua orang tersebut memiliki penyakit jantung yang tidak diketahui. Sebelumnya, mission space lebih parah dari yang sekarang. Setelah kejadian menelan korban itu, akhirnya mission space dibuat dua level dengan intensitas yang berbeda. Kami pun memutuskan untuk mencari makan malam di restoran China di China tentunya (Ingat bahwa ini di Disney Epcot). Saya memesan makan dengan malas-malasan karena kepala dan perut yang tidak bisa diajak kompromi. Meski pesanan saya sudah di depan saya, saya pun lebih tertarik untuk menenggelamkan kepala saya dan tertidur di atas meja restoran sementara host fam dan brianna masih makan. Rencana kami untuk melihat kembang api di Disney Epcot malam itu pun gagal karena saya jatuh sakit. Host Mom memutuskan pulang kembali ke condo agar saya bisa istirahat dan tidak jadi sakit. Yah begitulah, hari pertama di Disney tanpa kembang api dan harus terbaring di condo karena sakit. Saya pun langsung terlelap dan memompa energi untuk hari kedua di Disney World.

 

– – – to be continued – – –

4 thoughts on “Radar Kediri – Disney World Part Two

  1. aku suka baca tulisan kamu, pake penjelasan soalnya so kita yang baca dapet gambaran seperti apa dan bagaimana wahana wahananya. Keep writing sist!!

  2. wah….keliatane tmp2 nya asyik…
    quw jadi pengen ke sana nieh..he..he:):)
    Berbakat jadi penulis juga yach mbak dita.
    Keep writing and looking for more experience
    for your future.bye….bye

    • hehe suwun dek.. insya’Allah bakal terus usaha eksis nulis.. yah minimal di blog.. hehe..
      kamu jugag lo yaa.. ayo bikin writing club di smada.. halaahh.. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s