Radar Kediri – Disney World Part Four


Hari ketiga di Disney World (27/1), kaki dan badan mulai capek dan pegal-pegal karena mengelilingi dua taman hiburan Disney World sama dengan mengelilingi dua kali Dufan di Jakarta. Hari ketiga ini adalah petualangan mengelilingi Disney Magic Kingdom. Tempatnya terletak di sebuah pulau yang dikelilingi oleh danau, sehingga Disney Magic Kingdom tidak memiliki tempat parkir kendaraan. Untuk mencapai sana, ada tiga alternatif transportasi pilihan yang bisa dipilih pengunjung, yaitu Disney Bus, Disney Monorail, atau Disney Ferry Boat. Kami cukup memarkir mobil sewaan kami di Disney Epcot, lalu beranjak menuju Disney Magic Kingdom dengan menggunakan Disney Monorail. Bentuknya lebih modern dan mirip-mirip kereta cepat Shinkanzen. Meski masih tersisa banyak tempat duduk di dalam kereta, saya memilih untuk berdiri agar lebih leluasa melihat pemandangan dan panorama sekitar. Monorail singgah di beberapa perhentian, salah satunya adalah di dalam Disney Hotel yang masih setengah selesai. Meski belum 100% jadi, namun sebagian bangunannya sudah ditempati dan monorail ini melintasi bagian hotel tempat mall dan restoran berada.

Kesan pertama ketika meginjakkan kaki di Disney Magic Kingdom adalah penuh anak-anak kecil. Bangunan di sini juga lebih menyerupai istana ataupun kastil. Mata kita akan langsung tertuju ke arah Kastil Cinderella yang sangat besar dan menjadi simbol Walt Disney. Cuaca sedikit mendung hari itu, sehingga kami membawa payung dan jas hujan hanya untuk berjaga-jaga. Agar tidak kerepotan, kami pun membeli loker untuk menaruh barang bawaan kami. Lokernya mirip loker sekolah, namun jauh lebih kecil. Lantas kami menonton parade Disney yang lain di jalanan menuju Kastil Cinderella. Saya pun langsung antusias menuju ke depan Kastil Cinderella dan mengambil gambar. Beberapa Disney photographer pun membantu pengunjung mengambil gambar.

Kami menuju ke Tomorrow Land, dan menuju ke wahana Laugh Floor yang artinya lantai ketawa. Dari judulnya, saya kira wahana ini bakal lucu sekali, tapi saya baru sadar kalau guyonan orang Amerika sedikit berbeda dengan guyonan orang Indonesia. Laugh floor sedikit jayus atau garing meski cukup interaktif. Kita seperti duduk di dalam sebuah bioskop, lalu muncul video dengan tokoh karakter Disney dari film animasi Disney, Monster Inc, yang bisa berinteraksi dengan penonton. Entah bagaimana sistem kerjanya sehingga terasa nyata dan tidak sekedar rekaman video biasa. Seperti misalnya tokoh karakter menunjuk ke beberapa penonton secara tepat dengan deskripsi yang tidak meleset.
 
Wahana lain yang rasanya biasa untuk level Disney adalah Lilo and Stitch’s The Great Escape, yang menurut saya cukup jayus dan biasa juga. Hanya duduk dan mendengar robot berbicara. Benar kata host mom, Disney Magic Kingdom memang lebih seru untuk anak kecil. Tapi, akhirnya saya menemukan juga wahana yang menarik dan seru untuk umuran saya. Apalagi kalau bukan rollercoaster. Namanya Space Mountain. Rollercoaster ini memang tidak berputar 360 derajat, namun hal yang seru dan mengerikannya adalah satu bangku hanya diisi satu orang. Dan satu rollercoaster hanya diisi lima orang. Jadi rollercoaster ini pendek, kecil, namun melintasi lintasan yang panjang dan menikung naik turun lebih tajam. Host mom seperti biasa malah tertawa-tawa, saya dan Brianna sudah menjerit-jerit, rasanya rollercoaster ini lama sekali.

Beberapa anak-anak kecil berseliweran dengan pakaian dan dandanan ibarat seorang putri. Ternyata di dalam kastil cinderella, ada salon untuk para princess (putri). Menurut Host Mom, salon ini lumayan mahal karena setiap ‘putri’ bebas memilih gaun yang mereka sukai, dengan dandanan rambut dan wajah yang lengkap. Ada yang minta didandani persis seperti cinderella, ariel, maupun aurora.

Ada wahana yang bernama “It’s a small world” yang konsepnya sama persis seperti wahana Rumah Boneka di Dufan. Pengunjung menaiki sebuah perahu yang berisi kira-kira enam orang. Lalu perahu tersebut membawa pengunjung menonton robot-robot boneka yang berasal dari berbagai macam negara. Boneka-boneka tersebut menyanyi lagu “It’s a small world” dengan bahasa berbeda-beda tiap negara. Dandanan dan dekorasi bonekanya dibuat menyerupai tiap-tiap negara. Saya mencoba mencari Indonesia, namun sayang ternyata Indonesia belum cukup dikenal oleh Disney.
 
Kami makan siang di loker kami, seperti biasa, host mom sudah membuat sandwich untuk kami berempat. Kami makan sedikit terburu-buru karena pawai putri-putri Disney akan segera digelar di dekat pintu masuk Disney Magic Kingdom. Pawainya dengan mobil hias, di mana para putri dan karakter Disney lainnya diarak dengan mobil tersebut. Sambil menanti drama musikal Mickey dan Minney beserta para putri dan pangeran yang akan digelar di Kastil Cinderella, kami pun naik kereta tua berwarna merah yang membawa kami mengelilingi Disney Magic Kingdom. Oya, karakter-karakter Disney biasanya tersebar di beberapa tempat untuk melayani pengunjung yang ingin berfoto bersama maupun meminta autograph (tandatangan). Saya dan Brianna sudah berburu beberapa foto dan tandatangan, beberapa di antaranya harus antri panjang sekali karena merupakan tokoh favorit Disney. Misalnya, para Disney princess, ataupun Mickey dan Minney.
 
Hal paling menarik dari Disney Magic Kingdom adalah kembang apinya yang sangat cantik. Kembang api di Disney Magic Kingdom dimulai pukul delapan malam. Para pengunjung sudah lesehan di depan kastil Cinderella, tempat kembang api digelar, sejak pukul enam sore setelah drama musikal Disney selesai. Kira-kira setengah jam sebelum kembang api dimulai, kastil Cinderella memancarkan warna yang berbeda-beda. Mulai dari merah muda, biru, hijau, ungu, maupun emas. Sehingga kastil nampak sangat berkilau dan gemerlapan. Tepat pukul delapan malam, kembang api dimulai. Penandanya adalah Tinkerbell yang terbang dari puncak kastil Cinderella. Tentunya bukan terbang sungguhan, ada tali yang melekat di punggung Tinkerbell namun tetap terasa spektakuler. Kami dibuat terpukau dan menjerit kagum berkali-kali oleh kembang api terbaik Disney ini. Usai menonton kembang api, kami kembali ke Disney Epcot, tempat kami memarkir mobil. Kali ini, kami memutuskan pulang
menggunakan Disney Ferry Boat.
  
Hari keempat (28/1), kami menjelajah Disney Epcot karena hari-hari sebelumnya kami biasanya datang pada sore hari sehingga belum sempat berkeliling ke sebelas negara. Hari itu dress code kami adalah BATIK. Host mom dan host dad mengenakan baju batik yang dikirimkan Bapak dan Ibu saya dari Indonesia. Saya cukup memakai rok batik dengan atasan kebaya yang saya bawa dari rumah. Brianna akhirnya memakai rok batik saya, namun karena tidak muat akhirnya Brianna malah memakainya sebagai atasan.
 
Negara pertama yang kami kunjungi adalah Mexico dengan ciri khas bangunannya yakni sejenis candi Suku Maya dengan tangga yang menjulang ke atas. Bagi yang sudah pernah menonton film Apocalypto dijamin mengerti arti di balik tangga itu yang dulunya digunakan untuk upacara pengambilan jantung dan penyembelihan kepala ‘tumbal’ yang dipersembahkan untuk Dewa suku Maya. Tragis memang. Di balik bangunan yang terlihat eksotis itu tersimpan sejarah budaya yang sangat kejam. Saya dan Brianna malah asyik menggambar dan mewarnai Kitcot (media kreatifitas yang sebenarnya diperuntukkan untuk anak-anak kecil). Di dalam bangunan tadi, terdapat toko souvenir besar yang menjual berbagai oleh-oleh dari Mexico asli. Pegawainya pun dari Mexico. Yang menarik di sini adalah restorannya yang bernuansa remang-remang seperti di dalam hutan lebat. Lalu di sampingnya terbentang Gunung api buatan yang menjulang tinggi, namun efek nyatanya tetap tak pernah surut. Kami pun naik ke
perahu yang membawa kami melihat Mexico ‘lebih dekat’.
 
Setelah itu, kami singgah di Norwegia. Entah kenapa, perahu yang biasanya membawa pengunjung untuk menjelajahi Norwegia tidak beroperasi. Akhirnya kami hanya berputar dan melihat-lihat souvenir Norwegia dan melihat museum Vikings. Di samping Norwegia adalah negara China. Warna merah berani cukup atraktif menghiasi China dengan ukiran-ukiran khas berbentuk Naga. Gapura merah besar menyambut kami dan seketika saya kembali merasa jauh dari Amerika. Kolam ikan lumayan besar terhampar di dekat gapura masuk, dilengkapi dengan jembatan yang membelah kolam di tengah, serta dipercantik oleh bunga-bunga teratai yang mengambang di atas kolam.
 
Saya sempat membeli passport Disney Epcot sehingga setiap kali singgah di tiap negara saya bisa meminta stempel resmi Disney dari tiap negara. Toko oleh-oleh di China ini sangatlah besar dan barang-barangnya sungguh menawan. Sayangnya terlalu mahal. Kami pun sempat menyaksikan presentasi tentang negara China di dalam gedung bioskop 180 derajat. Dimana bioskop ini layarnya adalah seluruh plafon dan dinding yang ada di ruangan yang kami masuki. Namun tidak ada tempat duduk di bioskop ini, seluruh penonton berdiri. Disney memang selalu punya cara membuat segalanya terasa seperti nyata. Bioskop seperti ini juga terdapat di negara Canada yang terletak setelah China.
 
Rata-rata kami hanya melihat-lihat toko oleh-oleh dan berfoto dengan bangunan khas di tiap negara, karena tidak semua negara memiliki perahu atau presentasi. Seperti di Jerman, kami hanya berfoto dan melihat-lihat. Hanya Brianna saja yang sempat membeli kue blackforest khas Jerman. Untungnya saya sempat mencicipi sedikit, dan memang rasanya berbeda, seperti ada soda di dalam wheap cream nya. Di Itali pun sama saja, kami hanya melihat-lihat dan berfoto. Restorannya di sini memang cukup mahal. Baru di Amerika Serikat, kami disuguhi permainan terompet dan lagu patriotik dari para penyanyi bersuara emas. Presentasi dengan robot manusia di atas panggung pun sedikit terasa garing dan hampir membuat saya tertidur, meski mimik muka robot-robot tersebut cukup nyata.
 
Di Disney Epcot, kita juga bisa menukar uang koin 1 cent dan dua buah koin 25 cent dengan koin bergambar dan bertuliskan Disney dan nama negara yang kita singgahi. Caranya mudah. Cukup memasukkan tiga buah koin tadi ke sebuah mesin dan langsung keluar mata uang Disney yang kita inginkan.
 
Sedikit kaget ketika saya melihat tulisan Arab di beberapa tempat. Olala ternyata kami berada di negara Maroko. Arsitektur mirip-mirip masjid pun mendominasi bangunan di Maroko. Ketika meminta stempel resmi Disney Maroko, saya pun bercakap-cakap sebentar dengan ke salah seorang pegawai di sana yang saya ketahui bernama Mohammed. Orang Maroko memang berbicara dengan Bahasa Arab, namun menurut Mohammed, orang-orang Maroko terbiasa menguasai lima macam bahasa sejak mereka berumur lima tahun. Mohammed pun menulis nama saya dan Brianna dengan huruf Arab, meski saya sendiri sudah tau bagaimana menulisnya. Oleh-oleh yang tersedia di Maroko cukup similar dengan Arab, seperti permadani, henna, dsb. Ada pula salon henna yang menyediakan lukisan di tubuh dengan memakai henna, namun menurut saya mahal sekali. 20 dollar untuk lukisan bunga berukuran kecil.
 
Di Inggris, ada presentasi semacam di China dan ada pula semacam parodi kecil di jalanan. Cukup menarik mendengar aksen Inggris yang kental dari para aktor dan aktrisnya. Orang Amerika memang lebih fasih mengucap ‘r’ daripada orang Inggris. Di Prancis, ada berbagai macam bunga-bunga yang menghiasi taman-tamannya, juga presentasi singkat tentang Prancis. Kami pun makan malam di restoran Asia di dekat Future Epcot.
 
Sebelum menonton kembang api untuk kedua kalinya, kami mencoba wahana Test Track. Ini adalah wahana indoor. Gedung untuk wahana ini cukup besar, hampir setengah stadion Brawijaya. Dari luar arena kedengarannya cukup menegangkan karena suara mesin mobilnya yang lumayan keras. Wahana ini memang berupa mobil yang terbuka yang melaju kencang seperti mobil balap. Satu mobil diisi enam orang. Saya dan Brianna duduk di jok depan, Host Mom dan Host Dad duduk di jok belakang. Prinsipnya sama seperti mobil biasa, kita hanya diwajibkan memakai sabuk pengaman. Setelah mencoba Rock n Rollercoaster yang supercepat, wahana lainnya jadi terasa lambat. Mobil pun mulai melaju dan melintasi test tahan panas, test tahan dingin, test goncangan, test rem, dan test kalau ada tabrakan. Sabuk pengaman selalu menyelamatkan kami dari goncangan, heee.
 
Setelah dinyatakan lulus test uji, mobil pun melaju lebih cepat dan memutari lintasan balap dengan kemiringan tertentu beberapa kali. Kini saya mengerti betapa pentingnya sabuk pengaman. Jadi, jangan lupa memakai sabuk pengaman ketika berkendara!

5 thoughts on “Radar Kediri – Disney World Part Four

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s