Radar Kediri – Disney World -end-


Menjelang hari-hari terakhir di Florida, suhu di sana mulai dingin. Seperti pada hari kelima (29/1), cuaca mendung dan hujan benar-benar dipastikan akan tumpah ruah. Seperti hari sebelumnya, host mom pun siap sedia jas hujan untuk kami. Dan hari kelima ini kami berniat untuk mengunjungi Disney Animal Kingdom untuk kedua kalinya. Kami berempat sepakat bahwa Disney Animal Kingdom dan Disney Epcot adalah taman hiburan Disney favorit kami. Hari ini saya dan Brianna sepakat berbasah-basah ria karena kami akan mencoba wahana Kali River Rapids.

Hari itu Disney bertambah ramai. Sekolah-sekolah dari Amerika Latin yang sedang mengadakan study tour pun masih nampak dimana-mana dengan kaos yang seragam. Kami menaiki wahana Kilimanjaro Safaris. Di sini, kami akan menjelajahi padang sabana Afrika dengan menggunakan truk Disney yang terbuka tanpa jendela. Padahal kalau di taman safari di Indonesia kan kita harus tinggal di dalam mobil atau bus, dan dilarang membuka jendela kendaraan.
 
Kami cukup antusias menikmati interaksi langsung dengan hewan-hewan khas Afrika itu. Medan yang kami tempuh memang dibuat menyerupai habitat asli para hewan-hewan tersebut. Becek karena sempat hujan, hijau dengan banyak pohon lebat, dan tentunya tegang karena tidak ada celah yang memisahkan kami dengan hewan-hewan tersebut. Para jerapah pun dengan enaknya berjalan-jalan di jalanan dan menyapa truk kami. Ada bermacam-macam binatang, sayangnya saat kami melintas, sang raja hutan alias singa sedang tidur di atas batu.Melewati sungai yang penuh buaya ternyata cukup menakutkan, sopir truk kami yang juga pemandu kami pun tancap gas begitu melintasi sungai tadi. Para harimau pun melirik kami seolah menyapa halo dari balik rimbunnya pohon, bahkan di atas dahan-dahan pohon. Kamera sedikit susah menangkap gambar karena truk yang berjalan sedikit cepat, sopirnya takut kali ya dengan terkaman binatang.
 
Setelah itu, kami masih berkutat dengan mengamati dua ekor gorila yang berukuran besar, dan melihat-lihat dunia satwa lainnya sampai tidak terasa hari mulai menjelang sore. Kami berniat melihat drama musikal “Finding Nemo”, namun ternyata kami terlambat dan harus menunggu ke jam tayang berikutnya pada satu jam kemudian. Akhirnya host mom dan host dad memutuskan untuk pergi ke Expedition Everest dan mencoba kembali roller coaster yang berjalan mundur tersebut. Sedangkan saya dan Brianna memutuskan berbasah-basah ria di Kali River Rapids.

Hari itu kami cukup beruntung karena tidak banyak orang yang mau naik ke wahana Kali River Rapids ketika awan bermuram durja. Wahananya seperti ini, kami naik ke atas perahu semacam perahu untuk arung jeram, lalu seperti biasa kami harus memakai sabuk pengaman yang melingkar di pinggang. Tas-tas dan barang berharga lain bisa diletakkan di tengah perahu yang terdapat plastik pelindung dari semprotan air. Di awal, perahu kami penuh orang. Saya dan Brianna menduga-duga seperti apa wahananya. Pertama-tama, perahu naik dan menanjak ke tanjakan yang cukup tinggi dengan kemiringan kira-kira 60 derajat. Perahu-perahu lain ikut mengikuti kira-kira lima meter di belakang kami. Saya pikir dari tanjakan securam itu, kami akan dijatuhkan dengan ketinggian tertentu, ternyata tidak. Setelah itu sungainya hanya datar-datar saja, namun kami langsung tertimpa muntahan air mancur yang cukup besar di tengah sungai. Untuk pertama kalinya di wahana itu, baju saya langsung basah.
 
Berikutnya hanya ombak-ombak kecil yang menggoyang-goyang perahu kami, namun tak cukup berarti untuk membuat kami semuanya basah kuyup. Lalu perahu melewati daerah tandus di puncak gunung yang digambarkan dengan truk-truk para penebang hutan dan pohon-pohon besar yang ditebang secara brutal, maupun dibakar sampai habis. Setelah itu barulah hal yang paling seru dari wahana itu dimulai. Di depan kami telah terhampar air terjun yang cukup tinggi. Perahu kami terbawa arus dan jatuh dari air terjun tadi. Dan untuk kedua kalinya, saya lagi yang terkena tumpahan air dan air kali ini jauh lebih banyak. Otomatis seluruh tubuh saya, mulai dari rambut sampai kaki langsung basah. 

Saya dan Brianna yang terlanjur basah kuyup pun tidak rela baju kami basah hanya untuk satu kali permainan. Kami pun mengulang kembali wahana itu. Karena tidak banyak pengunjung saat itu, petugasnya pun membolehkan kami tetap tinggal di perahu, hehehe. Rencananya kami hanya akan mengulang wahana itu tiga kali, namun kami malah meneruskannya sampai ke 13 kalinya, hahaha. Di ronde kelima, kami bertemu anak laki-laki seumuran adek saya, Wanda yang masih SMP, yang memutuskan mengikuti misi gila kami waktu itu. Dia berasal dari Kentucky, saya sendiri lupa belum tanya nama. Alhasil, kami bertiga para trio pecinta Kali River Rapids berbasah-basah dengan sungai dan ditambah dengan siraman hujan. Meski kedinginan dan kami sudah tidak berbentuk manusia lagi, tapi enaknya kami jadi bisa bertemu banyak orang dari beberapa negara yang naik ke perahu kami. Kami malah mirip-mirip pemandu wisata di perahu kecil itu. Seperti misalnya, kami mengingatkan pengunjung untuk mengamankan sepatu dari lantai perahu, menolong menyimpankan barang-barang mereka di tengah perahu, sampai menakut-nakuti mereka bakal tersiram air paling banyak. Tak lupa di akhir kami selalu menawari mereka untuk mengulang wahana itu kembali seperti kami. Lalu mereka akan langsung melongo dan menganggap kami gila karena kami sudah berada di perahu itu untuk enam putaran, hehehe.
 
Kami bertemu orang-orang dari China, Thailand, Jepang, Argentina, Afrika, dan Peru. Bahkan kami berhasil mengajak dua orang kakak beradik dari Peru untuk tinggal di perahu dan meneruskan ke putaran mereka yang kedua. Keduanya sama-sama perempuan, sang kakak sepertinya seumuran dengan saya dan sang adik kira-kira masih berumur enam atau tujuh tahun. Kami sempat bercakap-cakap dan ketika saya menyebutkan bahwa saya dari Indonesia, sang kakak lantas berujar bahwa sekolahnya di Peru pernah kedatangan beberapa siswa pertukaran pelajar dari Indonesia. Salah satunya yang masih dia ingat bernama Aprilia.

Petugas Disney yang mengurusi Kali River Rapids pun malah yang menawari kami untuk tinggal di perahu saja. Namun karena hujan dan saya yang mulai bergidik kedinginan, saya dan Brianna memutuskan menghentikan rekor kami di putaran ke-13. Sang adek dari Kentucky malah tinggal lebih lama dan ingin menakhlukkan rekor kami karena saat itu dia masih di putarannya yang ke delapan. Kami pun saling mengucapkan selamat tinggal dan saya baru sadar bahwa kami sudah terlambat lagi untuk menonton Finding Nemo. Saya mengecheck handphone dan ada tiga misscalled dan satu voicemail dari Host Mom. Karena kami basah kuyup, kami malah pergi ke toilet yang terletak di dekat drama musikal Finding Nemo, lalu mengeringkan baju kami meski sebenarnya sia-sia. Host Mom dan Host Dad tertawa melihat kondisi kami yang amburadul. Kami memutuskan pulang ke condo agar saya dan Brianna bisa mandi dan ganti pakaian dahulu sebelum jalan-jalan lagi. Sayangnya, rencana kami untuk menonton kembang api di Disney Hollywood Studio malam itu gagal karena adanya hujan. Akhirnya kami malah tidur lebih awal dan menyiapkan diri untuk hari terakhir di Disney World.

Hari terakhir selalu menyedihkan. Target hari terakhir itu (30/1) adalah mengumpulkan tanda tangan dari semua karakter Disney dan berfoto bersama mereka. Karena itu, kami menghabiskan hari terakhir itu di Disney Magic Kingdom. Kami langsung ke rumah Minnie dan Mickey Mouse. Rumah Minnie didominasi warna pink yang merupakan warna favorit saya juga. Rumahnya super rapi dan dapurnya bisa diutak-atik untuk mainan pengunjung, sofa dan ruang tamunya benar-benar mirip di kartun. Ingin bertemu Mickey dan Minnie memang penuh perjuangan, antrenya lama sekali. Begitupula ketika kami ingin mendapatkan tandatangan dan foto bersama Disney Princess seperti Cinderella, Aurora, dan Belle. Hari itu kami berputar-putar hanya untuk mencari tanda tangan. Menjelang sore hari, setelah berfoto dengan Ariel sang putri duyung, kami menuju ke wahana Finding Nemo yang lain dengan sebuah kereta. Tak ketinggalan melihat atraksi lumba-lumba dan terbengong-bengong melihat ikan-ikan yang super lucu dan aneh yang dipamerkan di akuarium. Kami juga bertemu dengan Mr. Crush (karakter kura-kura di film Finding Nemo) dan dibuat tertawa-tawa oleh aksen Amerika nya yang sangat kental. Hampir setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu diselingi kata “Dude” dan kosa kata slang lainnya.

Malamnya, kami menuju ke Disney Epcot dan menyaksikan kembang apinya untuk ketiga kalinya. Beruntungnya, malam itu saya dan Brianna bisa makan masakan Maroko di restoran Maroko. Kami memesan Chicken Lamb Combo yang berupa daging ayam, dan kambing dalam satu menu. Rasanya lumayan enak, namun saya tidak doyan salad dan saosnya. Host Mom dan Host Dad makan di Jepang, karena Host Mom adalah penggemar berat mie. Di Maroko, kami sempat berfoto dengan Aladin, Jin, dan Jasmine. Malam terakhir di Disney World itu cukup berkesan namun tetap terasa menyakitkan untuk meninggalkan Disney.
 
Hari Sabtu (31/1), pesawat kami dijadwalkan lepas landas pukul 6.30 pagi waktu Orlando sehingga kami harus meninggalkan condo sekitar pukul lima pagi. Brianna harus terbang di penerbangan lain pukul setengah sembilan pagi, lalu baru sampai di Minneapolis pukul tiga sore. Sedangkan saya, host mom, dan host dad harus transit di Atlanta,Georgia. Hari itu kami cukup beruntung karena suhu di Minnesota cukup hangat, berkisar 40 derajat fahrenheit. Padahal minggu selama kami berada di Florida, suhunya sedang di bawah 0. Capeknya, setelah tiba di rumah, saya harus bergegas mandi dan menuju ke Mid Year Orientation di Mapple Groove. Orientasi setengah tahun kami di Amerika itu penuh tangis karena beberapa teman saya yang terpaksa harus berpindah host family. Setelah sesi curhat dan materi, kami langsung menuju ke tempat snow tubing di Elm Creek. Sayangnya udara bertambah dingin menjelang sore hari, dan saya hanya mengenakan kaos oblong yang dirangkap satu buah jaket. Setelah setengah tahun di Minnesota, saya jadi terbiasa dengan dingin. Sekarang saya malah yang takut tidak tahan dengan panas ketika kembali ke Kediri bulan juli. Snow tubing berlangsung seru karena dilakukan dengan banyak orang. Ashiqin pun ikut datang jauh-jauh dari Fertile untuk menjemput Brianna dan menginap di rumah host family malam itu. Semoga suatu saat saya bisa kembali lagi ke Disney World bersama keluarga dan mungkin dengan anak cucu saya, hehehe. Benar-benar where the dreams come true.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s