Radar Kediri – Make Up Assignments


Bolos sekolah di Amerika bukanlah ide bagus. Karena apa? Kalau di Indonesia nilai raport sebagian besar berdasarkan dari nilai ulangan harian dan ulangan semester, tapi di Amerika nilai raport sebagian besar berasal dari nilai pe-er dan tugas. Ada positif dan negatifnya sih. Positifnya, siswa jadi dituntut mengerjakan setiap pe-er dan tugas yang dibebankan kepadanya secara tuntas dan tepat waktu. Dari mengerjakan pe-er dan tugas itulah sebenarnya siswa belajar dan memperdalam materi. Namanya juga anak belasan tahun, kalau diancam dengan nilai raport pasti langsung iya iya saja. Kalau di Indonesia, karena mengerjakan pe-er serajin apapun (entah itu mengerjakan sendiri atau tinggal copy paste teman), kalau nilau ulangannya jelek ya raportnya tetap jelek. Tapi negatifnya, kalau di Amerika membolos satu minggu seperti saya, pe-er dan ujian langsung menumpuk dan grade bisa langsung D atau F karena nilainya yang berbasis pada kehadiran dan tugas. Kontan saya langsung mencak-mencak ketika pulang dari Florida dan menyadari banyaknya missing assignments yang membuat grade saya langsung berada di F di kelas higher algebra. Di sekolah saya, grade, tugas, dan segala hal berkaitan dengan sekolah bisa di check langsung melalui internet di website sekolah. Ibu saya di Indonesia pernah saya beri password dan username kalau ingin melihat nilai-nilai saya di sini.

Otomatis satu minggu setelah kembali dari Florida, saya hanya berkutat mengerjakan tugas-tugas yang terlambat atau belum saya kumpulkan agar grade saya naik. Susahnya lagi, di 3rd Quarter ini saya punya dua kelas komputer yang sebagian besar tugasnya harus dilakukan di komputer. Jam pertama saya ada di kelas 3D Mechanical Drawing, lalu langsung ke kelas Choir, jam ketiga di kelas Graphic Design 2, dan jam terakhir adalah Higher Algebra. Di kelas 3D Mechanical Drawing, saya adalah satu di antara empat siswa perempuan di kelas. Sisanya adalah siswa laki-laki. Sejenak saya merasa seperti bersekolah di STM. Maklum, 3D Mechanical Drawing sebenarnya seperti teknik mesin, namun di sini kita lebih kepada ‘arsitek’ mesinnya yang mengukur dan membuat rangka dan gambar untuk mesin. Sebenarnya saya mengambil kelas creative foods sebelumnya, namun akhirnya saya ganti dengan kelas ini. Saya sudah ketinggalan enam gambar mesin yang harus dikumpulkan di akhir pekan itu. Sebenarnya sebelum mengambil kelas ini, siswa harus mengambil kelas Intro to CAD dahulu, namun karena saya sudah mengenal sedikit soal software CAD (Chief Architecture Design), dan setelah menjalani try out untuk loncat kelas, akhirnya gurunya mengizinkan saya masuk kelas ini. Lagipula program yang dipakai di kelas 3D Mechanical Drawing adalah software Pro Desktop. Alhamdulillah gurunya berbaik hati dan memperpanjang deadline pengumpulan tugas hingga hari senin, jadi saya bisa datang ke sekolah lebih awal untuk mengerjakan enam gambar mesin tadi.

Di kelas choir cukup ringan. Tidak ada tugas sama sekali. Namun saya ketinggalan dua lagu baru untuk konser. Namun lagu baru ini cukup mudah dan kami masih berlatih dengan solmisasi nya. Namun ada yang lain di kelas choir bulan lalu (Februari) yakni kami kedatangan seorang penari yang akan berlatih tarian bersama kami. Tujuannya hanya untuk menyambut dan memperingati Marthin Luther King Jr Day. Pertama kami diajak berdiskusi seputar Marthin Luther King Junior, lalu kami mendapat tugas membuat gerakan yang menggambarkan tiga kata tentang Marthin Luther King Junior. Saya hanya menari Bali karena gerakannya yang lebih simpel dan sedikit dibanding tari Jawa. Setelah kami menunjukkan tarian kreasi kami masing-masing, kami dibentuk dalam sebuah grup berisi tiga orang. Dan saya dipasangkan dengan teman saya Sarah Oliver yang sudah menari Ballet sejak umur tiga tahun, dan juga dengan Luke Voigt yang sedang mengambil kelas Jazz Dance. Kami pun dituntut untuk menggabungkan tarian kami bertiga menjadi satu kesatuan gerakan. Saya tidak kesulitan meniru gerakan Ballet milik Sarah karena saya sempat di kelas Dance selama seminggu di quarter lalu, dan gerakan Luke cukup simpel. Masalahnya adalah mereka tidak bisa meniru gerakan tari Bali saya yang butuh luwes dan lemas. Rasanya ingin tertawa melihat cara mereka mempraktekkan tari Bali. Bahkan Luke terlihat seperti robot. Ketika kami diminta tampil di panggung dengan menari kombinasi ballet, jazz, dan Bali, kontan sang penari yang juga instruktur kami kali itu langsung mengomentari gerakan saya dan bertanya soal tari saya itu. Si penari itu mengenali tarian saya bahwa itu adalah tari Bali dari Indonesia. Bahkan beliau langsung menyuruh teman-teman saya sekelas untuk menirukan gerakan tari Bali saya. It was so much fun.

Lagi-lagi sebenarnya saya tidak mengambil kelas graphic design 2. Saya sudah positif mengambil kelas Bahasa Prancis di jam yang sama. Namun guru graphic design saya langsung mengirim surat ke saya yang dititipkan lewat guru jam pertama saya, isinya adalah meminta saya untuk mengambil kelas graphic design 2 karena guru saya menilai saya telah membuat design-design bagus selama graphic design 1 dan beliau merasa saya harus mengembangkannya lebih jauh. Satu kalimat yang langsung membuat saya mengganti kelas Bahasa Prancis saya ke kelas Graphic Design 2 adalah kenyataan yang diungkap guru saya tersebut bahwa ini adalah tahun terakhirnya mengajar di Buffalo High School. Tahun depan tidak akan ada lagi kelas Graphic Design, hanya ada kelas Computer Graphics dan Visual Technology. Akhirnya di sinilah saya berakhir, membuat design buku untuk Pegassus selama kurang dari empat hari. Tidak cukup satu design namun dua design siap print untuk mengambil nilai rough draft design. Membuatnya mudah, namun mencari idenya yang sulit. Bu Mardliyah, Guru Bahasa Indonesia saya di SMAN 2 Kediri sering berkata bahwa ide itu sangat mahal karena sekolah ide itu tidak pernah ada.

Kelas higher algebra sebenarnya out of my lists. Awal tahun ajaran, saya benar-benar tidak berniat sama sekali untuk mengambil kelas-kelas ipa atau matematika. Karena pikir saya, saya tidak akan mendapat kredit dari Indonesia untuk kelas-kelas yang saya ambil di sini jadi saya hanya mau mencari kelas-kelas baru yang tidak ada di Indonesia. Namun ketika mendekati semester baru, teman-teman saya di Indonesia mulai mengabari saya bahwa UAN semakin susah dan jadwal mereka tidak jauh dari belajar dan belajar. Kelas penuh dengan aura kematian katanya. Karena takut lupa dengan pelajaran ipa dan matematika, akhirnya saya pun mencoba mengganti jadwal ke AP Calculus, namun counselor saya tidak meng-iya-kan permintaan saya karena saya sudah terlambat satu semester untuk mengambil AP Calculus yang lamanya satu tahun. Akhirnya saya menawar meminta dipindah di kelas Pre Calculus dan lagi-lagi gagal karena kelasnya sudah penuh. Satu-satunya yang masih lumayan untuk diambil adalah Higher Algebra. Isinya kebanyakan junior, ada beberapa senior namun tidak banyak. Saya pun satu kelas dengan Ritsuko Iinuma (Jepang).

Ketika saya menerima buku paket dari guru saya, Mrs. Macalena, saya langsung melongo karena soal-soalnya yang terasa sangat mudah bagi saya yang tergolong bukan ahli matematika di SMADA. Materinya adalah materi matematika kelas dua yang berarti sudah saya pelajari tahun lalu di SMADA. Ketika guru menerangkan, saya pun ikutan mendikte karena tidak satupun di kelas bisa menjawab pertanyaan. Saya pun sering dibuat tidak sabar dengan cara menghitung mereka yang terlalu lama dan bergantung pada graphic calculator. Saya sempat dilanda bosan di kelas karena materinya bukan hal baru lagi. Tugas dan pe-er langsung saya selesaikan di kelas karena soalnya yang mudah. Kelemahan saya hanya dalam memakai graphic calculator yang saya pinjam dari sekolah. Seperti ketika mengerjakan materi matriks dan kami diharuskan menghitungnya dengan kalkulator, saya dan ritsuko malah menghitungnya dengan manual karena tidak terbiasa. Teman-teman saya selalu melongo karena saya selalu selesai paling awal dalam sepuluh menit. Saya pun tertawa dalam hati karena di SMADA saya bahkan tidak terhitung sebagai ahli matematika.

Kalau dulu saya sering menggerutu tentang betapa susahnya pendidikan di Indonesia, namun kadang saya merasa hal itu perlu karena kenyataannya siswa-siswa Indonesia bisa bersaing dengan baik di sini. Setidaknya siswa-siswa Asia, Indonesia khususnya, selalu terkenal pandai di bidang ipa dan matematika. Yang saya tetap tidak mengerti adalah, kenapa kita bangsa Indonesia tetap kalah dengan Amerika? Padahal kalau saya lihat dari sumber daya manusianya, ada banyak manusia cerdas di Indonesia yang kalau difasilitasi seperti di Amerika, saya yakin siswa-siswa kita jauh lebih unggul dan nantinya berdampak baik untuk kemajuan negeri kita. Beberapa teman Amerika saya bahkan tidak tahu bagaimana mengeja beberapa kata dalam Bahasa Inggris dengan benar. Saya akui pendidikan di Indonesia memang jauh lebih sulit dibandingkan Amerika. Kebanyakan exchange students seperti saya pun sedikit menikmati menjadi siswa A in a row di sekolah-sekolah Amerika karena sulitnya menjadi siswa A in a row di Asia atau Eropa. Alhamdulillah setelah mengumpulkan missing assignments, grade saya di semua kelas langsung kembali normal ke grade A.

Di Buffalo High School tidak ada yang namanya ujian semester seperti beberapa sekolah di Amerika. Pada dasarnya sekolah saya adalah Arts Magnet School yang mengedepankan kesenian. Di Amerika tidak ada ujian akhir seperti UAN. Namun ada beberapa ujian yang disebut SAT atau ACT. ACT adalah ujian tulis mirip UAN, namun hasilnya hanya bisa dipakai untuk kawasan Mid West. SAT sejenis dengan ACT, namun bisa dipakai di seluruh pelosok Amerika. Namun kedua test tersebut tidak diadakan untuk memenuhi persyaratan masuk Perguruan Tinggi. Test-test tersebut hanya sebagai pelengkap dan pendukung untuk mendaftar ke Perguruan Tinggi. Siswa hanya membutuhkan ijazah dan nilai akademik selama di sekolah untuk mendaftar universitas. Untuk bisa lulus di sini, siswa mengambil ujian yang wajib diambil ketika mereka berada di bangku junior atau kelas 11. Sehingga menjadi senior (kelas 12) adalah hal yang sangat besar karena bebas dari beberapa tuntutan ujian akhir, kecuali kenyataan bahwa mereka harus mulai mencari uang kuliah. Semua senior mendapat sebuah senior privillege dari sekolah, di mana kami bisa pergi ke sekolah pukul sepuluh pagi di beberapa hari khusus, bisa meninggalkan sekolah 20 menit lebih awal, senior breakfast, libur satu hari sebelum prom, dan ada all night graduation party yang hadiahnya bisa ratusan hingga ribuan dollar. Khusus untuk Senior.

Minggu kedua bulan Februari, sekolah ramai dengan perayaan Snow Days. Perayaan ini berlangsung selama satu minggu dan siswa-siswa bisa berdandan sesuai tema, serta musik-musik terbaru selalu diputar selama pergantian kelas. Pada hari pertama, temanya adalah Neon Day dan orang-orang memakai baju dengan warna-warna ngejrenk dan norak. Hari kedua bertema Carrier Day di mana orang-orang berdandan sesuai cita-cita mereka. Hari ketiga adalah Movie Character Day, hari keempat yaitu Duo Day, dan hari terakhir yakni Boys vs Girls Day. Saya hanya berdandan di hari terakhir karena temanya mudah. Untuk cewek hanya butuh baju warna pink dan cowok berwarna biru. Namun Snow Days tidak seramai Homecoming Days. Kalau di Homecoming Days dulu sangat semarak karena setiap orang berdandan sesuai tema, kalau Snow Days cukup dinikmati beberapa orang karena suhu yang dingin dan membuat orang-orang malas berdandan aneh-aneh di musim dingin.

Puncak dari Snow Days adalah Snow Dance (14/2). Teman-teman saya kebanyakan adalah senior dan junior, dan mereka rata-rata tidak datang ke Snow Dance. Lagi-lagi Snow Dance hanya dibanjiri Sophomore (siswa kelas 10) dan Freshmen (siswa kelas 9). Acaranya digelar di sekolah, saya pun hanya datang dengan Wakako dan hanya duduk menikmati mountain dew sambil melihat orang-orang yang berjingkrak-jingkrak dipandu DJ. Beberapa orang guru ikut hadir dan hanya mengawasi. Beberapa teman saya pun membuat atraksi breakdancing di tengah keramaian dan mengundang perhatian sebagian anak. Saya pun berputar dan mengobrol dan bertemu beberapa senior dan junior yang juga teman-teman saya sambil menikmati lagu-lagu yang disajikan DJ. Snow Dance tidak seramai Homecoming Dance. Beberapa teman-teman saya menarik-narik saya untuk ikut menari, namun saya menolak halus dengan alasan saya sudah capek.

Tepat di hari yang bagi sebagian orang diakui sebagai Hari Kasih Sayang itu, saya juga sempat melukis untuk pertama kali dalam hidup saya. Bagaimana lagi kalau tidak diajari dan dipandu Host Dad yang juga seorang pelukis. Tidak tanggung-tanggung, kami langsung melukis di kanvas yang berukuran lumayan besar. Saya sedikit grogi karena belum pernah melukis, bahkan memegang kuas. Dulu waktu kecil saya hobi sekali menggambar dan ikut lomba-lomba gambar, tapi beranjak dewasa kegemaran saya itu beralih ke hal lain. Host Dad pun mengajari saya teknik-teknik dasar melukis dengan telaten. Saya pun memilih melukis pemandangan Minnesota dengan danaunya yang membeku selama musim dingin. Refleksi langit senja dibuat dengan warna pink gradasi. Sejenak saya tidak percaya bahwa saya bisa menggoreskan kuas. Dan yang lebih membuat tidak percaya adalah lukisan kami menunjukkan hasil yang sangat bagus. Saya pun berencana membawa lukisan pertama saya itu ke Indonesia, dan seketika pula saya ketagihan melukis.

Hari Minggu (15/2) saya pun dibangunkan oleh telepon dari Kelsey yang mengajak saya hang out ke Mall of America siang itu. Saya pun merasa sangat beruntung karena hari itu sebenarnya teman saya Riska Khairani (Malang) sedang berada di Minneapolis dan mengajak ketemuan dengan saya di Mall of America. Sebelumnya saya tidak yakin bisa datang karena Host Family yang akan melakukan Host Family interview untuk mendaftar sebagai host family tahun depan. Maka dari itu saya langsung meng-iya-kan ajakan Kelsey ketika ia menawari hang out ke Mall of America bersama Melissa (Hongkong). Kami tiba lebih awal dan Riris (panggilan Riska Khairani) masih berada di Global Market untuk membeli makanan Indonesia. Akhirnya kami mencoba baju-baju untuk Prom di butik-butik yang hanya menyediakan baju berbandrol minimal $200. Kami mencoba berbagai macam gaun dan mengambil gambar dengannya. Meskipun tidak membeli, setidaknya kan punya fotonya, hehehe. Ketika kami menikmati kopi di Starbucks, saya pun dikagetkan oleh Riris yang datang dari belakang saya. Kami pun berpelukan haru dan sempat mengobrol sejenak dengan Bahasa Indonesia, hehehe, namun segera sadar dan kembali ke jalan yang diharuskan yakni dilarang berbicara dalam bahasa ibu. Kami pun berputar-putar di Mall of America sambil bercerita panjang lebar tentang enam bulan kami di sini. Namun pertemuan itu cukup singkat, kurang dari tiga jam dan Riris harus segera kembali ke hotel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s