Radar Kediri – Random Stuffs


Hari Rabu (18/2), sebenarnya saya berkesempatan mengunjungi Orchestra Hall di Minneapolis. Namun tak disangka, saya malah jatuh sakit dan bahkan harus membolos dua hari. Selain melewatkan konser di Minneapolis, saya juga harus ikut ulangan susulan di kelas Higher Algebra. Nampaknya musim membuat saya terserang radang tenggorokan sehingga badan juga ikut demam dan seharian saya hanya berbaring. Saya pikir saya hanya batuk kering biasa, bahkan sudah saya beri obat yang saya bawa dari rumah, namun keesokan harinya tidak kuat bangun dan hanya tidur seharian. Hari sabtu hingga minggu nya saya harus menginap di rumah Wakako karena Host Mom akan pergi ke Las Vegas untuk urusan AFS dan Host Dad harus bekerja dari pagi hingga malam. Saya sudah berkali-kali menginap di rumah Wakako, jadi tidak masalah. Kami hanya menghabiskan sebagian besar waktu mengobrol dan menonton American’s Next Top Model yang diputar di channel Oxygen selama satu hari minggu penuh dari pagi hingga malam.

Hari Selasa malam (24/12), saya menghadiri acara Nordic Ski Banquet yakni sejenis penutupan Nordic Ski season. Acara kali ini cukup menyedihkan karena tahun ini adalah tahun terakhir Nordic Ski. Karena permintaan pengajuan penaikan biaya sekolah ditolak saat voting yang berbarengan dengan pemilu presiden lalu, akhirnya sekolah terpaksa memotong beberapa kegiatan dan kelas-kelas. Salah satunya adalah Nordic Ski. Bahkan teman-teman saya sempat mengajak berdemo ke School District seputar pemotongan kegiatan tersebut, namun sayangnya saat itu saya sedang berada di Florida. Saat Nordic Ski Banquet itu pula saya mendapat kenang-kenangan dari teman-teman satu team saya di Nordic Ski, yaitu sebuah selimut dengan warna kebesaran sekolah saya, Ungu. Saya pun ingin menangis haru karena Nordic Ski sudah terasa sebagai keluarga baru dan orang-orangnya yang ramah dan bersahabat. Pelatih saya pun sempat meledek karena selimutnya yang tebal dan cukup besar sehingga mungkin tidak bisa dibawa pulang ke Indonesia.

Bulan Maret ini, BHS (Buffalo High School) Choirs memiliki dua gawe besar. Hari Kamis (5/3) diadakan World Music Concert di sekolah dan hari Senin (9/3) kami harus melawat ke Waconia High School untuk Choir Contest. Saya dan tim paduan suara pun berlatih keras menjelang konser. Pada konser kali ini, kami membawakan lagu dengan bahasa asing. Beberapa di antaranya adalah Niska Banja (Serbian), Bashana Haba’ah (Hebrew), A Maiden Is in a ring (Sweden), Viva L’amour, Arirang (Korea), dsb. Konser kali ini mengusung tema perdamaian dunia dan diakhiri dengan lagu Reach yang dipadu dengan gebukan drum dan petikan gitar. Kami pun membawakan lagu Bashana Haba’ah dan A Maiden is in a Ring untuk Waconia Choir Contest dan kami mendapat nilai yang fantastik dari juri, dua Superior dan satu Excellent. Bertandang ke sekolah lain membuat saya sadar bahwa Buffalo High School memiliki bangunan yang cukup baru dan jauh lebih bersih serta lengkap dibanding sekolah lainnya di Minnesota. Melissa malah berujar berkali-kali, “I think our school is the best in Minnesota.”

Di negara empat musim, memiliki Daylight Savings memang sangat normal. Tanggal 8 Maret lalu, waktu di Minnesota menjadi mundur satu jam. Selama musim dingin, perbedaan waktu Indonesia dan Minnesota adalah 13 jam. Namun ketika mulai memasuki musim semi, perbedaannya menjadi 12 jam saja karena adanya daylight savings. Kata host mom, tujuan daylight saving adalah agar sore hari lebih panjang dari pagi hari. Memasuki mulai semi, matahari tenggelam mulai pukul tujuh malam karena adanya daylight saving time. Bahkan di musim panas, matahari tenggelam pukul sembilan atau sepuluh malam.

Bulan maret ini, teman seperjuangan saya asal Chapter Padang, Miftahul Khairi (Ari), sedang berulangtahun ke-18 pada 14 Maret lalu. Host family nya pun berencana membuat kejutan untuknya. Host mom nya menelpon saya dan meminta tolong untuk membawa beberapa teman ke rumah Ari untuk membantu memberi kejutan ulang tahun untuknya. Kami diundang ke rumahnya pada malam minggu pukul enam sore. Saya pun memberi tau Melissa, Wakako, dan Levente untuk datang ke rumah saya sekalian berangkat bersama-sama ke rumah Ari. Ari pun tidak tau menau tentang kejutan ulang tahun ini. Yah namanya juga kejutan. Bahkan saya kaget ketika dia mengirim sms di hari sabtu pagi yang isinya dia sedang berada di Asian Noodle dan menawari saya beberapa makanan Indonesia untuk dibawa saat presentasi chapter hari Minggu ini. Saya pun hanya titip dibelikan dodol durian yang sebenarnya buatan Malaysia. Saya pun pergi ke Walmart bersama Melissa dan Host Mom untuk mencari kado untuk Ari. Melissa pun membeli sebuah kaos hijau bertuliskan Mountain Dew, softdrink paling enak yang pernah saya minum. Saya pun menemukan empat film tentang disaster (musibah) yang diramu dalam satu DVD dan yang paling penting adalah DVD ini sedang dalam sale. Host Mom hanya memberi frame lalu mencetak sebuah foto ketika Ari pertama kali datang ke Minnesota. Maklum, Ari sempat tinggal di rumah Host Family saya pada minggu pertama karena Welcome Family nya sedang berlibur saat itu.

Ari tinggal di kota Big Lake, kira-kira 15 atau 20 menit dari Buffalo. Saya hanya datang bersama Host Mom, Wakako, dan Melissa. Kompleks tempat tinggal host family Ari terletak in the middle of nowhere. Daerahnya lebih berbukit-bukit dan rumahnya jauh lebih besar-besar. Kami tiba di rumah Ari dan disambut oleh host sister Ari. Saat itu Ari sedang bermain game Wii bersama host brother nya di basement (lantai bawah tanah) sehingga tidak tau bahwa orang-orang sudah berkumpul di rumahnya untuk memberi kejutan ulang tahun. Rumah host family Ari sangatlah besar, bahkan mereka memiliki kolam renang di belakang rumah karena host brother Ari yang bernama Collin adalah jawara renang yang tak terkalahkan. Tropinya pun berjajar rapi di kamarnya. Host Dad Ari yang pernah bekerja di Jakarta beberapa tahun pun langsung menyapa saya dengan akrab dan senyum lebarnya. Beliau sangat antusias menunjukkan daging rendang hasil masakannya kepada saya. Host mom Ari sudah memesan kue ulang tahun untuk Ari. Segalanya sudah diatur, kado-kado sudah tergeletak lemas di atas meja dapur yang berada tepat di tengah ruangan. Lalu host dad Ari menyuruh host sister Ari untuk memanggil Ari ke lantai atas. Ari pun langsung dengan polosnya mengintip dapur dan tertegun oleh orang-orang yang berteriak surprise untuknya. Ia pun tersenyum lebar dan benar-benar tak menyangka akan adanya kejutan tersebut. Kami menyanyi lagu happy birthday untuknya lalu memaksanya untuk membuka kado-kado yang dihadiahkan untuknya. Setelah menyantap kue ulang tahun, kami pun bermain petak umpet, dan extreme cards game yang dipadu dengan permainan spoon.

Hari minggunya (15/3) saya pun berkesempatan memberikan presentasi tentang Indonesia di acara chapter meeting. Hari itu ada tiga negara yang akan presentasi. Melissa (Hongkong), saya dan Ari (Indonesia), dan Sithi (Thailand). Melissa pun memasak nasi goreng di rumah host family saya, ditambah beberapa macam snack-snack kecil yang dikirim ibunya dari Hongkong. Saya yang tidak gape masak memasak akhirnya cukup pasrah membuat ayam goreng. Ari cukup membawa snack yang dibelinya di Asian Noodle hari sebelumnya, salah satunya adalah keripik singkong (yum!) dan kacang goreng. Sithi membuat pad thai, tumis khas thailand dengan sayur mayur dan udang. Saya berencana menari untuk presentasi kali ini namun waktu yang tersedia sangat ngepres dan akhirnya saya dan Ari cukup menari Bali bersama-sama di awal presentasi. Orang-orang pun tertawa dan terbengong-bengong ketika saya tunjukkan beberapa foto orang Indonesia yang mengendarai motor dengan gerobak di belakang ataupun berboncengan dengan tiga orang sekaligus. Audience kali ini hanya sesama exchange students bersama host family mereka. Untuk yang cewek-cewek malah langsung terpukau dengan beberapa kebaya pengantin yang saya tunjukkan di power point saya. Seperti biasa saya selalu mendapat banyak pertanyaan seputar jilbab dan hak asasi wanita di Indonesia dengan adanya jilbab.

Tahun ini, saya cukup beruntung bisa menyaksikan State Basketball Tournament di Target Center (kandangnya Timberwolves). Tim bola basket perempuan Buffalo High School mendapat kesempatan untuk berlaga di tingkat State (sejenis provinsi). Tim bola basket tahun ini cukup tangguh hingga menembus state. Dua tahun lalu, tim bola basket laki-laki kami adalah Basketball Champion 2007, which is a big deal. Olahraga di sini ibarat segala-galanya. Anak paling pandai di akademik bisa kalah populer dengan kapten tim bola basket atau football. Pertandingan kali ini bertepatan dengan jadwal presentasi saya di International Club (18/3). Saya pun akhirnya merelakan jadwal presentasi saya karena saya ingin pergi menonton State Game. Saya menemui guru Bahasa Spanyol di sekolah saya yang juga mengurus International Club, dan meminta beliau untuk mengganti jadwal presentasi saya di lain hari. Padahal pengumuman presentasi saya sudah diumumkan di TV sekolah. Akhirnya presentasi saya ditunda tanggal 22 April 2009.

Sejak hari Senin (16/3) atau dua hari sebelum pertandingan, Kepala sekolah pun langsung memberi pengumuman akan adanya dispensasi kepada setiap siswa yang akan pergi ke Minneapolis untuk mendukung tim bola basket putri kami. Bahkan sekolah menyediakan beberapa bus yang bisa membawa para supporter ke Minneapolis. Saya pun membayar $8 untuk tiket pertandingannya, dan $5 untuk transportasi dengan bus sekolah. Beberapa supporter menggunakan mobil pribadi sehingga tidak perlu mendaftar untuk bus supporter. Kami mendapat dispen setelah jam ketiga karena supporter akan meninggalkan sekolah pukul 12 siang. Sayangnya hari itu kami pun bertekuk lutut oleh St Centennial High School yang kami lawan waktu itu sehingga kami tidak bisa melaju ke State Final. Kekalahan yang cukup disayangkan karena kami hanya selisih lima angka. St Centennial High School pun melaju ke final melawan South High School, yang berakhir pada kemenangan South High School. Meski Girls Basketball gagal meraih State Champion, namun tim Mock Trial (Sejenis Debat) kami memenangkan state, begitupula tim renang dan gulat kami.

Berakhirnya quarter ketiga juga mengawali libur musim semi tahun ini. Libur musim semi kali ini berawal dari tanggal 20 Maret hingga 29 Maret. Cukup panjang memang. Sahabat saya, Lisa Kamperdicks (Jerman) bahkan menghabiskan libur musim seminya di rumah saya karena host family nya sedang berlibur ke Hawaii selama libur musim semi. Kami pun mengunjungi United Noodle di Minneapolis karena saya ketagihan Indomie rasa sate yang dijual di sana. United Noodle adalah supermarket yang menjual berbagai macam makanan Asia dan isinya lumayan lengkap. Saya pun membeli satu box penuh berisi 30 Indomie rasa sate yang rasanya lebih mirip nasi pecel, keripik singkong Kusuka, kopiko, bumbu sate sekaligus kecap manis, kacang atom, dan Indomie rasa soto ayam dan daging rendang. Melissa bahkan membeli satu box penuh Indomie goreng reguler karena dia sangat cinta mie goreng Indonesia bahkan ia sudah sering mengkonsumsi Indomie goreng di Hongkong. Ketika asyik bersorak melihat produk Indonesia, tiba-tiba ada seorang perempuan yang menyapa saya dan menanyakan apakah saya seorang penyanyi atau bukan. Saya pun tersenyum dan bertanya kenapa. Perempuan itu berkata bahwa ia baru saja menonton acara Oprah Winfrey yang mengundang seorang penyanyi Asia yang wajahnya sangat mirip dengan saya. Ia tidak yakin darimana penyanyi Asia itu berasal, lalu tiba-tiba ia menyebut Indonesia. Saya pun langsung berseru bahwa saya dari Indonesia. Perempuan tersebut terlihat antusias dan bahkan langsung menelepon temannya untuk menanyakan lebih pasti darimana penyanyi itu berasal dan ternyata ia berasal dari Filipina.

Di United Noodle itu juga saya bertemu sekelompok mahasiswa yang mengobrol dengan Bahasa Indonesia. Saya pun menguping sebentar untuk memastikan. Setelah yakin mereka berbicara dengan Bahasa Indonesia, saya langsung menyeruak di kelompok itu dan menanyakan kalau mereka berasal dari Indonesia. Tak disangka ternyata mereka memang mahasiswa Indonesia yang sedang meneruskan study di University of Minnesota, mereka berasal dari Jakarta. Dua di antaranya adalah Kak Inggrid dan Kak Kelvin. Meski tahu mereka dari Indonesia, kami pun tetap bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris karena rasanya aneh sekali mengobrol dalam Bahasa Indonesia. Dari percakapan itu saya tahu kalau ada Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (PERMIAS) di Minneapolis. Kak Kelvin pun menanyakan nomor hape saya di Amerika untuk memberi kabar kegiatan-kegiatan PERMIAS. Tak disangka ternyata PERMIAS Minneapolis akan menggelar Indonesian Night pada hari sabtu (28/3). Sayangnya saat itu saya akan diajak Host Family untuk berlibur ke Tennessee. Dan kami akan berangkat hari jum’at pagi (27/3) sehingga saya dipastikan tidak bisa menghadiri Indonesian Night tersebut. Menurut penuturan Kak Inggrid, ada banyak mahasiswa Indonesia di University of Minnesota. Mungkin saya akan jadi salah satunya nanti, hehehe.

Tepat sehari sebelum saya berlibur ke Tennessee (26/3), koran lokal di Buffalo (Wright County Journal) pun memberitakan tentang exchange students di Buffalo High School, termasuk saya. Host Mom pun langsung membeli tiga koran sekaligus untuk saya, Melissa, dan Lisa. Kami berada di halaman paling belakang, full page. Sebelumnya, wartawan dari Wright County Journal sempat berkunjung ke sekolah saya untuk melakukan wawancara dengan semua exchange students sekaligus mengambil gambar kami. Pemberitaannya lebih mengarah pada pengalaman kami di sini yang paling berkesan ataupun seputar kegiatan atau club yang kami ikuti di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s