Radar Kediri – Tennessee


Setelah seminggu diajak berwisata ke Florida pada januari lalu, host family saya nampaknya memang terlalu baik hingga mengajak saya berwisata lagi ke state lain yaitu di Tennessee. Kami berangkat ke Tennessee hari jum’at (27/3) saat libur spring break tinggal tersisa tiga hari. Sehingga lagi-lagi saya harus mengorbankan satu minggu pertama di quarter keempat sekolah. Tak apalah demi pengalaman melihat state-state lain di Amerika Serikat, karena kali ini kami menuju Tennessee dengan mobil pribadi dan bukan menggunakan pesawat seperti saat kami ke Florida dulu. Sehingga kesempatan untuk sekalian mampir dan melihat-lihat state-state lain sepanjang perjalanan menuju Tennessee sangat besar. Rutenya, dari Minnesota berlanjut ke Wisconsin, Illinois, Indiana, Kentucky, dan akhirnya sampai di Tennessee. Yang lebih membuat saya bersemangat lagi adalah host mom mengizinkan saya mengajak beberapa teman saya untuk ikut serta ke Tennessee karena host mom mendapat pinjaman mobil mini bus yang lumayan besar dari host dad Wakako Ogi (Jepang). Kebetulan saat itu wakako dan host family nya sedang berlibur ke Arizona.

Akhirnya saya pun mengajak Melissa Ng (Hongkong) karena dia belum pernah berwisata ke luar state Minnesota sama sekali selama tahun pertukaran pelajarnya di US. Kedua, saya juga mengajak Lisa Kamperdicks (Jerman) untuk sedikit menghiburnya akibat dia ditinggal host family nya berlibur ke Hawaii. Saya juga mengajak Nurul Ashiqin Arifin (Malaysia), Alessandra Masala (Italia), dan Michela Chiodi (Italia). Meski saya mengajak lima teman, bukan berarti host family menanggung biaya mereka juga. Host family memang menggratiskan biaya liburan untuk saya, tapi untuk kelima teman saya itu harus membayar $200 untuk seminggu liburan di Tennessee. Teman-teman sih tidak masalah karena $200 bagi mereka sangat murah jika dibandingkan dengan liburan tiga hari di Chicago yang bisa memakan $350. Bisa dibayangkan betapa ramainya kalau enam anak perempuan berkumpul dalam satu tempat.

Teman-teman mulai berdatangan ke rumah pada hari kamis malam (26/3) karena kami akan berangkat ke Tennessee pada hari jum’at pagi-pagi sekali pukul tiga dini hari (27/3). Janjiannya sih kami tidak mau tidur dan bertekad begadang sampai pukul tiga, tapi nyatanya setelah ribut-ribut mengobrol di kamar saya, akhirnya kami berenam tertidur pulas di tempat tidur saya yang cuma berukuran medium. Mirip-mirip pindang saat dijemur deh. Kami yang sudah mandi sebelum tidur, akhirnya terbangun malas-malasan dan menuju ke mobil dengan membawa bantal dan selimut kami masing-masing. Hari masih gelap, teman-teman langsung memilih melanjutkan tidur dalam perjalanan. Tapi saya bertekad tidak tidur demi melihat state-state lain sepanjang perjalanan. Meski saya sudah pernah berkunjung dan berkemah di Wisconsin, namun rasanya tetap menarik melintasi kembali state yang terkenal dengan julukan the dairy land itu. Wisconsin jauh lebih hijau dari Minnesota, dan lebih berbukit-bukit, meski Wisconsin tidak memiliki kota besar dan metropolitan seperti Twin Cities (Minneapolis/St.Paul). Ketika melewati kota Edgerton di Wisconsin, saya pun langsung teringat teman saya Risqi Maidisya Taqwin dari Pondok Assalam Solo yang di-hosting di sana. Saat itu waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, saya pun cepat-cepat mengirim sms ke Risqi ketika kami baru memasuki welcome sign kota Edgerton. Dia terdengar tak percaya dan langsung menelpon saya untuk memastikan. Bahkan akhirnya malah menawari saya mampir di rumah host family nya. Namun sayang saya hanya lewat saja, kebetulan rumah host family nya berada di belakang Culvers (restoran khas Amerika) yang berdekatan dengan jalur utama yang kami lintasi.

Tidak lama setelah dari Wisconsin, kami langsung dihadang loket pembayaran tol state Illinois. Di state ini jalan tol memang tidak gratis seperti di Florida. Teman-teman langsung terbangun karena menyadari kami sudah mendekati Chicago, kota asal presiden Amerika Serikat yang sekarang, Barrack Obama. Maklum, karena sebelumnya saya sudah request ke host mom kalau kami dibolehkan mampir di downtown Chicago. Jalan mulai macet mendekati Chicago, dan dari kejauhan kami bisa melihat kota terbesar ketiga di Amerika Serikat itu. Saya dan teman-teman langsung ribut mengambil foto. Ternyata aslinya Chicago memang amat jauh lebih besar dari yang saya lihat di film-film. Gedung-gedungnya jauh lebih banyak dari Minneapolis, dan jauh menjulang tinggi. Saya dan Ashiqin tertegun dan terpukau berkali-kali karena sempat tak percaya bahwa kami benar-benar berada di downtown Chicago.

Gedung pencakar langit yang berjarak tidak cukup jauh satu sama lain, jalan raya yang cenderung sempit dan ramai, serta orang-orang yang berjalan kaki di trotoar adalah pemandangan khas pusat kota-kota besar di Amerika Serikat. Host mom pun menunjuk ke salah satu gedung pencakar langit tempat Oprah Winfrey bekerja. Betapa bodohnya saya baru tau kalau Oprah Winfrey Show itu pusatnya di Chicago bukan di New York City. Kami pun memarkir mobil di pusat parkiran mobil yang cenderung bertingkat-tingkat namun berada di bawah tanah. Tadinya saya hanya ingin melihat lebih dekat downtown Chicago, lha koq host family malah menggiring kami ke Sears Towers, gedung tertinggi di Amerika Serikat setelah menara kembar WTC di New York City roboh. Tidak cuma melihat dari depan Sears Tower saja, kami juga diajak naik ke puncak gedung yang pernah menjadi gedung tertinggi di dunia pada tahun 1974 tersebut. Tiketnya cukup mahal per orangnya, bisa mencapai $13 dengan pajak. Alhamdulillah kami semua dibayari host fam, hehehe. Sebelum naik ke puncak, ada pemeriksaan barang bawaan seperti di bandara.

Sampai di lantai paling atas di lantai 103, kami langsung disuguhi jendela bening yang memutari ruangan paling atas tersebut. Lagi-lagi kami semua langsung ribut jeprat-jepret dan mengagumi pemandangan kota Chicago dari Sears Tower Skydeck. Kami juga bisa melihat dengan jelas beberapa kapal yang berlabuh di atas Lake Michigan yang besarnya melampaui selat, bahkan lebih nampak seperti laut. Di Sears Tower juga tersedia beberapa toko souvenir yang harganya amit-amit. Namun saya sempatkan membeli beberapa souvenir kecil sekedar untuk kenang-kenangan kalau saya pernah menginjakkan kaki di gedung tertinggi di US tersebut.

Puas memelototi Chicago dari Sears Tower, kami berjalan-jalan di sekitar downtown dan menemukan Drug Store yang menjual souvenirs khas Chicago yang harganya jauh lebih murah, bahkan jauh lebih murah dari souvenirs di Minneapolis. Saya langsung menyambar sebuah hoodie (sejenis jaket tertutup dengan kerudung kepala) warna abu-abu bertuliskan Chicago karena teringat pesanan adek saya, Oki. Sayang saya tidak menemukan hoodie dengan warna pesanan adek saya, Wanda. Sehingga saya hanya membeli satu hoodie dan satu kaos Chicago untuk saya sendiri. Biarlah saya cari nanti di Minneapolis. Ashiqin tampak sangat antusias membeli beberapa potong kaos untuk keluarganya. Alessandra dan Michela cukup membeli sebuah topi bertuliskan Chicago. Chicago yang terkenal dengan windy city (kota angin) memang benar-benar dingin.

Jadwal berkeliling downtown Chicago yang seharusnya hanya sebentar akhirnya harus molor karena kami memutuskan mengunjungi Millennium Park yang merupakan taman paling penting di Chicago dan menunjukkan beberapa perkembangan arsitektur modern. Kami berfoto di depan Cloud Gate yang diyakini merupakan tugu paling indah dan populer di Chicago, bahkan di dunia. Tugunya seperti cermin karena terbuat dari kaca dan baja dengan bentuk yang melengkung.

Kami pun bergegas keluar dari downtown Chicago karena kalau terlambat sedikit saja kami bisa terjebak macet hebat di sana. Host mom yang saat itu kebagian menyetir sedikit kelimpungan karena tersesat di downtown Chicago yang sangat besar dan super sibuk itu. Akhirnya kami berhasil keluar dari Chicago dan langsung melanjutkan perjalanan melalui sepanjang state Indiana. State Indiana cukup besar namun tidak begitu banyak hal yang menarik. Maklum, Indiana memiliki julukan the Crossroad of America sehingga pemandangan paling umum di Indiana hanyalah jalan-jalan besar. Kami terjebak macet berjam-jam di Indiana sehingga saya memilih tidur sejenak selama macet di sana. Kami berhenti sejenak di Subway (restoran yang menjual berbagai macam sandwich) untuk makan siang, lalu kembali meneruskan perjalanan. Kami sempat melintasi Indianapolis, ibukota state Indiana, yang ternyata jauh lebih kecil dari Twin Cities di Minnesota.

Selepas dari Indiana, kami akhirnya sampai di state Kentucky, tempat asalnya KFC nih. Saat itulah saya langsung mengagumi Kentucky yang berbukit-bukit dan dihiasi pegunungan berbatu di kanan-kiri jalan. Yang membuat saya geleng-geleng lagi adalah betapa hijaunya rumput-rumput di Kentucky, ditambah dengan peternakan kuda dan sapi yang terhampar luas di kanan-kiri jalan. Menurut host dad, rumput di Kentucky malah cenderung hijau kebiruan sehingga Kentucky dijuluki state of bluegrass. Hijaunya state-state lain yang lebih ke selatan Amerika sangat kontras dengan Minnesota yang saat itu masih diselimuti salju bahkan dijadwalkan akan ada badai salju di minggu ketika kami berada di Tennessee.

Kami mampir di salah satu gas station di Kentucky untuk menambah cadangan gas dan sekalian transit bagi yang ingin menunaikan hajat ke kamar kecil. Lumayan untuk meninggalkan jejak di Kentucky, hee. Selepas itu perjalanan menuju Tennessee masihlah jauh, total perjalanan Minnesota-Tennessee minimal 16 jam atau bisa lebih. Teman-teman langsung terlelap lagi, saya dan Ashiqin memilih terjaga untuk menikmati keindahan state Kentucky meski di malam hari. Untuk mengusir kantuk, kami pun memutar beberapa lagu Indonesia dari MP3 player saya dan menyanyi sepanjang perjalanan. Mendekati puncak pegunungan yang berarti hampir sampai di Tennessee, keadaan jalan sedikit mendebarkan karena cuaca yang berkabut hingga sangatlah sulit melihat keadaan jalan di depan kami. Namun alhamdulillah akhirnya kami selamat sampai Tennessee, tapi bukan berarti kami sudah sampai di tujuan akhir kami yaitu kota Gatlinburg. Saya pun akhirnya menyerah dan tertidur setelah Ashiqin lebih dahulu terlelap. Ketika kami semua terbangun, kami telah sampai di Gatlinburg Town Square Resort, tempat kami menginap yang di sekelilingnya dikelilingi hutan dan latar pegunungan yang terasa ‘Indonesia Banget’. Hotel tempat kami menginap ini berjenis apartemen dan tiap kamar memiliki dapur dan ruang tamu sendiri. Kami berada di lantai tiga dari enam lantai yang ada. Ada beberapa kolam renang yang tersebar di beberapa sudut hotel dan dilengkapi dengan hot tub.

Berlibur dengan banyak orang menjadi kendala tersendiri dalam hal tempat tidur dan kamar mandi, apalagi untuk cewek-cewek. Setelah sampai di hotel, kami langsung ramai-ramai memasak mie karena kami semua kelaparan. Sekalian membuat perjanjian soal tempat tidur dan kamar mandi karena anak perempuan yang biasanya mandinya lama. Akhirnya diputuskan alessandra dan michela tidur di sofa lipat di depan perapian di ruang tamu, lalu dua single beds yang ada di kamar dijadikan satu dan ditempati ashiqin, lisa, dan melissa. Saya cukup ngalah dan tidur di atas tempat tidur parasit yang harus dipompa dulu dengan gas. Host mom dan host dad cukup spesial dan tidur di master bedroom di samping kamar kami. Jadwal mandi pun terpaksa dibagi dua kloter, pagi dan malam. Saya dan Lisa memilih mandi di pagi hari, dan lainnya lebih memilih mandi malam-malam. Tapi aturannya adalah kamar mandi tidak boleh dikunci, hanya boleh ditutup karena kami berenam yang sering lalu lalang untuk sekedar gosok gigi atau buang air kecil. Yang mandi tetap mandi di shower yang bertirai, jadi tidak masalah. Tapi saya tetap nekat mengunci kamar mandi, karena saya mandi pagi hari sehabis sholat shubuh. Dan shubuh di Tennessee pukul 6.15 pagi sehingga ketika saya bangun, teman-teman masih terlelap jadi tidak ada antrian kamar mandi sama sekali. Begitulah penyesuaian di hari pertama, dan terlebih kenyataan bahwa kasur ‘gelembung’ yang saya pakai ternyata berlubang dan ‘gembos’ sehingga saya terbangun dan terjatuh dari atas kasur lantas membangunkan seisi kamar.

Hari pertama di Tennessee (28/3), kami langsung menuju ke salah satu theme park (taman hiburan) yang memiliki simbol Dolly Parton, penyanyi country terkenal dari Amerika Serikat. Maka dari itu taman hiburan itu dinamai Dollywood. Kami cukup beruntung karena kami mengunjungi Dollywood ketika mereka sedang menggelar Festival of Nations dimana kami bisa menonton beberapa macam pertunjukan dari mancanegara di sana. Pertama masuk Dollywood, kami harus mengambil foto yang langsung tercetak otomatis dalam hitungan detik di dalam kartu masuk kami. Cara masuknya mirip dengan cara masuk ke Disney World, cukup memasukkan kartu kita tadi ke alat pendeteksi di pintu masuk.

Resiko berlibur dengan host family saya adalah harus mau diajak naik ke rollercoaster. Wahana pertama yang kami naiki tidak lain adalah Thunderhead rollercoaster dengan g-force (keadaan tubuh yang tidak merasakan gravitasi) yang sangat tinggi. Rollercoasternya cukup besar dengan lintasan terbuat dari kayu-kayu besar cukup mengerikan. Lintasannya menanjak sangat tinggi dan menikung cepat, meski sabuk pengamannya hanya melingkar di area pinggang. Ashiqin yang takut-takut di awal, malah akhirnya ketagihan rollercoaster dan mencoba semua rollercoaster ganas yang terdapat di Dollywood seperti Mystery Mine dan Tornado. Hari itu kami datang agak terlambat sekitar pukul dua siang, padahal Dollywood ditutup pukul delapan malam. Akhirnya kami menonton Imagine Show pukul lima sore. Penontonnya tumpah ruah banyaknya. Pertama masuk, saya tidak memiliki gambaran sama sekali tentang pertunjukan yang akan saya tonton kali ini. Beberapa saat sebelum show dimulai, beberapa penjual dengan gerobaknya telah berjajar di depan panggung. Ada penjual minuman, popcorn, dan yang lebih khas lagi dari Dollywood adalah Roasted Peanuts yang rasanya luar biasa enak. Saya dan teman-teman yang sudah sepakat tidak membawa dompet di hari pertama akhirnya hanya bisa menelan ludah mencium aroma roasted peanuts yang harum itu. Alhamdulillah host dad membeli dua bungkus kacang dan membagi sedikit untuk kami berenam, dan rasanya memang enak. Tak beberapa lama, penjual-penjual yang tadi ‘parkir’ di depan panggung langsung keluar auditorium yang besarnya kira-kira lebih dari dua kali besarnya bioskop Golden Kediri. Sontak saya dan Melissa terkejut mengetahui bahwa penampilan kali ini adalah acrobat dari China.

3 thoughts on “Radar Kediri – Tennessee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s