Radar Kediri – Tennessee


Setelah seminggu diajak berwisata ke Florida pada januari lalu, host family saya nampaknya memang terlalu baik hingga mengajak saya berwisata lagi ke state lain yaitu di Tennessee. Kami berangkat ke Tennessee hari jum’at (27/3) saat libur spring break tinggal tersisa tiga hari. Sehingga lagi-lagi saya harus mengorbankan satu minggu pertama di quarter keempat sekolah. Tak apalah demi pengalaman melihat state-state lain di Amerika Serikat, karena kali ini kami menuju Tennessee dengan mobil pribadi dan bukan menggunakan pesawat seperti saat kami ke Florida dulu. Sehingga kesempatan untuk sekalian mampir dan melihat-lihat state-state lain sepanjang perjalanan menuju Tennessee sangat besar. Rutenya, dari Minnesota berlanjut ke Wisconsin, Illinois, Indiana, Kentucky, dan akhirnya sampai di Tennessee. Yang lebih membuat saya bersemangat lagi adalah host mom mengizinkan saya mengajak beberapa teman saya untuk ikut serta ke Tennessee karena host mom mendapat pinjaman mobil mini bus yang lumayan besar dari host dad Wakako Ogi (Jepang). Kebetulan saat itu wakako dan host family nya sedang berlibur ke Arizona.

Akhirnya saya pun mengajak Melissa Ng (Hongkong) karena dia belum pernah berwisata ke luar state Minnesota sama sekali selama tahun pertukaran pelajarnya di US. Kedua, saya juga mengajak Lisa Kamperdicks (Jerman) untuk sedikit menghiburnya akibat dia ditinggal host family nya berlibur ke Hawaii. Saya juga mengajak Nurul Ashiqin Arifin (Malaysia), Alessandra Masala (Italia), dan Michela Chiodi (Italia). Meski saya mengajak lima teman, bukan berarti host family menanggung biaya mereka juga. Host family memang menggratiskan biaya liburan untuk saya, tapi untuk kelima teman saya itu harus membayar $200 untuk seminggu liburan di Tennessee. Teman-teman sih tidak masalah karena $200 bagi mereka sangat murah jika dibandingkan dengan liburan tiga hari di Chicago yang bisa memakan $350. Bisa dibayangkan betapa ramainya kalau enam anak perempuan berkumpul dalam satu tempat.

Teman-teman mulai berdatangan ke rumah pada hari kamis malam (26/3) karena kami akan berangkat ke Tennessee pada hari jum’at pagi-pagi sekali pukul tiga dini hari (27/3). Janjiannya sih kami tidak mau tidur dan bertekad begadang sampai pukul tiga, tapi nyatanya setelah ribut-ribut mengobrol di kamar saya, akhirnya kami berenam tertidur pulas di tempat tidur saya yang cuma berukuran medium. Mirip-mirip pindang saat dijemur deh. Kami yang sudah mandi sebelum tidur, akhirnya terbangun malas-malasan dan menuju ke mobil dengan membawa bantal dan selimut kami masing-masing. Hari masih gelap, teman-teman langsung memilih melanjutkan tidur dalam perjalanan. Tapi saya bertekad tidak tidur demi melihat state-state lain sepanjang perjalanan. Meski saya sudah pernah berkunjung dan berkemah di Wisconsin, namun rasanya tetap menarik melintasi kembali state yang terkenal dengan julukan the dairy land itu. Wisconsin jauh lebih hijau dari Minnesota, dan lebih berbukit-bukit, meski Wisconsin tidak memiliki kota besar dan metropolitan seperti Twin Cities (Minneapolis/St.Paul). Ketika melewati kota Edgerton di Wisconsin, saya pun langsung teringat teman saya Risqi Maidisya Taqwin dari Pondok Assalam Solo yang di-hosting di sana. Saat itu waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, saya pun cepat-cepat mengirim sms ke Risqi ketika kami baru memasuki welcome sign kota Edgerton. Dia terdengar tak percaya dan langsung menelpon saya untuk memastikan. Bahkan akhirnya malah menawari saya mampir di rumah host family nya. Namun sayang saya hanya lewat saja, kebetulan rumah host family nya berada di belakang Culvers (restoran khas Amerika) yang berdekatan dengan jalur utama yang kami lintasi.

Tidak lama setelah dari Wisconsin, kami langsung dihadang loket pembayaran tol state Illinois. Di state ini jalan tol memang tidak gratis seperti di Florida. Teman-teman langsung terbangun karena menyadari kami sudah mendekati Chicago, kota asal presiden Amerika Serikat yang sekarang, Barrack Obama. Maklum, karena sebelumnya saya sudah request ke host mom kalau kami dibolehkan mampir di downtown Chicago. Jalan mulai macet mendekati Chicago, dan dari kejauhan kami bisa melihat kota terbesar ketiga di Amerika Serikat itu. Saya dan teman-teman langsung ribut mengambil foto. Ternyata aslinya Chicago memang amat jauh lebih besar dari yang saya lihat di film-film. Gedung-gedungnya jauh lebih banyak dari Minneapolis, dan jauh menjulang tinggi. Saya dan Ashiqin tertegun dan terpukau berkali-kali karena sempat tak percaya bahwa kami benar-benar berada di downtown Chicago.

Gedung pencakar langit yang berjarak tidak cukup jauh satu sama lain, jalan raya yang cenderung sempit dan ramai, serta orang-orang yang berjalan kaki di trotoar adalah pemandangan khas pusat kota-kota besar di Amerika Serikat. Host mom pun menunjuk ke salah satu gedung pencakar langit tempat Oprah Winfrey bekerja. Betapa bodohnya saya baru tau kalau Oprah Winfrey Show itu pusatnya di Chicago bukan di New York City. Kami pun memarkir mobil di pusat parkiran mobil yang cenderung bertingkat-tingkat namun berada di bawah tanah. Tadinya saya hanya ingin melihat lebih dekat downtown Chicago, lha koq host family malah menggiring kami ke Sears Towers, gedung tertinggi di Amerika Serikat setelah menara kembar WTC di New York City roboh. Tidak cuma melihat dari depan Sears Tower saja, kami juga diajak naik ke puncak gedung yang pernah menjadi gedung tertinggi di dunia pada tahun 1974 tersebut. Tiketnya cukup mahal per orangnya, bisa mencapai $13 dengan pajak. Alhamdulillah kami semua dibayari host fam, hehehe. Sebelum naik ke puncak, ada pemeriksaan barang bawaan seperti di bandara.

Sampai di lantai paling atas di lantai 103, kami langsung disuguhi jendela bening yang memutari ruangan paling atas tersebut. Lagi-lagi kami semua langsung ribut jeprat-jepret dan mengagumi pemandangan kota Chicago dari Sears Tower Skydeck. Kami juga bisa melihat dengan jelas beberapa kapal yang berlabuh di atas Lake Michigan yang besarnya melampaui selat, bahkan lebih nampak seperti laut. Di Sears Tower juga tersedia beberapa toko souvenir yang harganya amit-amit. Namun saya sempatkan membeli beberapa souvenir kecil sekedar untuk kenang-kenangan kalau saya pernah menginjakkan kaki di gedung tertinggi di US tersebut.

Puas memelototi Chicago dari Sears Tower, kami berjalan-jalan di sekitar downtown dan menemukan Drug Store yang menjual souvenirs khas Chicago yang harganya jauh lebih murah, bahkan jauh lebih murah dari souvenirs di Minneapolis. Saya langsung menyambar sebuah hoodie (sejenis jaket tertutup dengan kerudung kepala) warna abu-abu bertuliskan Chicago karena teringat pesanan adek saya, Oki. Sayang saya tidak menemukan hoodie dengan warna pesanan adek saya, Wanda. Sehingga saya hanya membeli satu hoodie dan satu kaos Chicago untuk saya sendiri. Biarlah saya cari nanti di Minneapolis. Ashiqin tampak sangat antusias membeli beberapa potong kaos untuk keluarganya. Alessandra dan Michela cukup membeli sebuah topi bertuliskan Chicago. Chicago yang terkenal dengan windy city (kota angin) memang benar-benar dingin.

Jadwal berkeliling downtown Chicago yang seharusnya hanya sebentar akhirnya harus molor karena kami memutuskan mengunjungi Millennium Park yang merupakan taman paling penting di Chicago dan menunjukkan beberapa perkembangan arsitektur modern. Kami berfoto di depan Cloud Gate yang diyakini merupakan tugu paling indah dan populer di Chicago, bahkan di dunia. Tugunya seperti cermin karena terbuat dari kaca dan baja dengan bentuk yang melengkung.

Kami pun bergegas keluar dari downtown Chicago karena kalau terlambat sedikit saja kami bisa terjebak macet hebat di sana. Host mom yang saat itu kebagian menyetir sedikit kelimpungan karena tersesat di downtown Chicago yang sangat besar dan super sibuk itu. Akhirnya kami berhasil keluar dari Chicago dan langsung melanjutkan perjalanan melalui sepanjang state Indiana. State Indiana cukup besar namun tidak begitu banyak hal yang menarik. Maklum, Indiana memiliki julukan the Crossroad of America sehingga pemandangan paling umum di Indiana hanyalah jalan-jalan besar. Kami terjebak macet berjam-jam di Indiana sehingga saya memilih tidur sejenak selama macet di sana. Kami berhenti sejenak di Subway (restoran yang menjual berbagai macam sandwich) untuk makan siang, lalu kembali meneruskan perjalanan. Kami sempat melintasi Indianapolis, ibukota state Indiana, yang ternyata jauh lebih kecil dari Twin Cities di Minnesota.

Selepas dari Indiana, kami akhirnya sampai di state Kentucky, tempat asalnya KFC nih. Saat itulah saya langsung mengagumi Kentucky yang berbukit-bukit dan dihiasi pegunungan berbatu di kanan-kiri jalan. Yang membuat saya geleng-geleng lagi adalah betapa hijaunya rumput-rumput di Kentucky, ditambah dengan peternakan kuda dan sapi yang terhampar luas di kanan-kiri jalan. Menurut host dad, rumput di Kentucky malah cenderung hijau kebiruan sehingga Kentucky dijuluki state of bluegrass. Hijaunya state-state lain yang lebih ke selatan Amerika sangat kontras dengan Minnesota yang saat itu masih diselimuti salju bahkan dijadwalkan akan ada badai salju di minggu ketika kami berada di Tennessee.

Kami mampir di salah satu gas station di Kentucky untuk menambah cadangan gas dan sekalian transit bagi yang ingin menunaikan hajat ke kamar kecil. Lumayan untuk meninggalkan jejak di Kentucky, hee. Selepas itu perjalanan menuju Tennessee masihlah jauh, total perjalanan Minnesota-Tennessee minimal 16 jam atau bisa lebih. Teman-teman langsung terlelap lagi, saya dan Ashiqin memilih terjaga untuk menikmati keindahan state Kentucky meski di malam hari. Untuk mengusir kantuk, kami pun memutar beberapa lagu Indonesia dari MP3 player saya dan menyanyi sepanjang perjalanan. Mendekati puncak pegunungan yang berarti hampir sampai di Tennessee, keadaan jalan sedikit mendebarkan karena cuaca yang berkabut hingga sangatlah sulit melihat keadaan jalan di depan kami. Namun alhamdulillah akhirnya kami selamat sampai Tennessee, tapi bukan berarti kami sudah sampai di tujuan akhir kami yaitu kota Gatlinburg. Saya pun akhirnya menyerah dan tertidur setelah Ashiqin lebih dahulu terlelap. Ketika kami semua terbangun, kami telah sampai di Gatlinburg Town Square Resort, tempat kami menginap yang di sekelilingnya dikelilingi hutan dan latar pegunungan yang terasa ‘Indonesia Banget’. Hotel tempat kami menginap ini berjenis apartemen dan tiap kamar memiliki dapur dan ruang tamu sendiri. Kami berada di lantai tiga dari enam lantai yang ada. Ada beberapa kolam renang yang tersebar di beberapa sudut hotel dan dilengkapi dengan hot tub.

Berlibur dengan banyak orang menjadi kendala tersendiri dalam hal tempat tidur dan kamar mandi, apalagi untuk cewek-cewek. Setelah sampai di hotel, kami langsung ramai-ramai memasak mie karena kami semua kelaparan. Sekalian membuat perjanjian soal tempat tidur dan kamar mandi karena anak perempuan yang biasanya mandinya lama. Akhirnya diputuskan alessandra dan michela tidur di sofa lipat di depan perapian di ruang tamu, lalu dua single beds yang ada di kamar dijadikan satu dan ditempati ashiqin, lisa, dan melissa. Saya cukup ngalah dan tidur di atas tempat tidur parasit yang harus dipompa dulu dengan gas. Host mom dan host dad cukup spesial dan tidur di master bedroom di samping kamar kami. Jadwal mandi pun terpaksa dibagi dua kloter, pagi dan malam. Saya dan Lisa memilih mandi di pagi hari, dan lainnya lebih memilih mandi malam-malam. Tapi aturannya adalah kamar mandi tidak boleh dikunci, hanya boleh ditutup karena kami berenam yang sering lalu lalang untuk sekedar gosok gigi atau buang air kecil. Yang mandi tetap mandi di shower yang bertirai, jadi tidak masalah. Tapi saya tetap nekat mengunci kamar mandi, karena saya mandi pagi hari sehabis sholat shubuh. Dan shubuh di Tennessee pukul 6.15 pagi sehingga ketika saya bangun, teman-teman masih terlelap jadi tidak ada antrian kamar mandi sama sekali. Begitulah penyesuaian di hari pertama, dan terlebih kenyataan bahwa kasur ‘gelembung’ yang saya pakai ternyata berlubang dan ‘gembos’ sehingga saya terbangun dan terjatuh dari atas kasur lantas membangunkan seisi kamar.

Hari pertama di Tennessee (28/3), kami langsung menuju ke salah satu theme park (taman hiburan) yang memiliki simbol Dolly Parton, penyanyi country terkenal dari Amerika Serikat. Maka dari itu taman hiburan itu dinamai Dollywood. Kami cukup beruntung karena kami mengunjungi Dollywood ketika mereka sedang menggelar Festival of Nations dimana kami bisa menonton beberapa macam pertunjukan dari mancanegara di sana. Pertama masuk Dollywood, kami harus mengambil foto yang langsung tercetak otomatis dalam hitungan detik di dalam kartu masuk kami. Cara masuknya mirip dengan cara masuk ke Disney World, cukup memasukkan kartu kita tadi ke alat pendeteksi di pintu masuk.

Resiko berlibur dengan host family saya adalah harus mau diajak naik ke rollercoaster. Wahana pertama yang kami naiki tidak lain adalah Thunderhead rollercoaster dengan g-force (keadaan tubuh yang tidak merasakan gravitasi) yang sangat tinggi. Rollercoasternya cukup besar dengan lintasan terbuat dari kayu-kayu besar cukup mengerikan. Lintasannya menanjak sangat tinggi dan menikung cepat, meski sabuk pengamannya hanya melingkar di area pinggang. Ashiqin yang takut-takut di awal, malah akhirnya ketagihan rollercoaster dan mencoba semua rollercoaster ganas yang terdapat di Dollywood seperti Mystery Mine dan Tornado. Hari itu kami datang agak terlambat sekitar pukul dua siang, padahal Dollywood ditutup pukul delapan malam. Akhirnya kami menonton Imagine Show pukul lima sore. Penontonnya tumpah ruah banyaknya. Pertama masuk, saya tidak memiliki gambaran sama sekali tentang pertunjukan yang akan saya tonton kali ini. Beberapa saat sebelum show dimulai, beberapa penjual dengan gerobaknya telah berjajar di depan panggung. Ada penjual minuman, popcorn, dan yang lebih khas lagi dari Dollywood adalah Roasted Peanuts yang rasanya luar biasa enak. Saya dan teman-teman yang sudah sepakat tidak membawa dompet di hari pertama akhirnya hanya bisa menelan ludah mencium aroma roasted peanuts yang harum itu. Alhamdulillah host dad membeli dua bungkus kacang dan membagi sedikit untuk kami berenam, dan rasanya memang enak. Tak beberapa lama, penjual-penjual yang tadi ‘parkir’ di depan panggung langsung keluar auditorium yang besarnya kira-kira lebih dari dua kali besarnya bioskop Golden Kediri. Sontak saya dan Melissa terkejut mengetahui bahwa penampilan kali ini adalah acrobat dari China.

Advertisements

Radar Kediri – Random Stuffs


Hari Rabu (18/2), sebenarnya saya berkesempatan mengunjungi Orchestra Hall di Minneapolis. Namun tak disangka, saya malah jatuh sakit dan bahkan harus membolos dua hari. Selain melewatkan konser di Minneapolis, saya juga harus ikut ulangan susulan di kelas Higher Algebra. Nampaknya musim membuat saya terserang radang tenggorokan sehingga badan juga ikut demam dan seharian saya hanya berbaring. Saya pikir saya hanya batuk kering biasa, bahkan sudah saya beri obat yang saya bawa dari rumah, namun keesokan harinya tidak kuat bangun dan hanya tidur seharian. Hari sabtu hingga minggu nya saya harus menginap di rumah Wakako karena Host Mom akan pergi ke Las Vegas untuk urusan AFS dan Host Dad harus bekerja dari pagi hingga malam. Saya sudah berkali-kali menginap di rumah Wakako, jadi tidak masalah. Kami hanya menghabiskan sebagian besar waktu mengobrol dan menonton American’s Next Top Model yang diputar di channel Oxygen selama satu hari minggu penuh dari pagi hingga malam.

Hari Selasa malam (24/12), saya menghadiri acara Nordic Ski Banquet yakni sejenis penutupan Nordic Ski season. Acara kali ini cukup menyedihkan karena tahun ini adalah tahun terakhir Nordic Ski. Karena permintaan pengajuan penaikan biaya sekolah ditolak saat voting yang berbarengan dengan pemilu presiden lalu, akhirnya sekolah terpaksa memotong beberapa kegiatan dan kelas-kelas. Salah satunya adalah Nordic Ski. Bahkan teman-teman saya sempat mengajak berdemo ke School District seputar pemotongan kegiatan tersebut, namun sayangnya saat itu saya sedang berada di Florida. Saat Nordic Ski Banquet itu pula saya mendapat kenang-kenangan dari teman-teman satu team saya di Nordic Ski, yaitu sebuah selimut dengan warna kebesaran sekolah saya, Ungu. Saya pun ingin menangis haru karena Nordic Ski sudah terasa sebagai keluarga baru dan orang-orangnya yang ramah dan bersahabat. Pelatih saya pun sempat meledek karena selimutnya yang tebal dan cukup besar sehingga mungkin tidak bisa dibawa pulang ke Indonesia.

Bulan Maret ini, BHS (Buffalo High School) Choirs memiliki dua gawe besar. Hari Kamis (5/3) diadakan World Music Concert di sekolah dan hari Senin (9/3) kami harus melawat ke Waconia High School untuk Choir Contest. Saya dan tim paduan suara pun berlatih keras menjelang konser. Pada konser kali ini, kami membawakan lagu dengan bahasa asing. Beberapa di antaranya adalah Niska Banja (Serbian), Bashana Haba’ah (Hebrew), A Maiden Is in a ring (Sweden), Viva L’amour, Arirang (Korea), dsb. Konser kali ini mengusung tema perdamaian dunia dan diakhiri dengan lagu Reach yang dipadu dengan gebukan drum dan petikan gitar. Kami pun membawakan lagu Bashana Haba’ah dan A Maiden is in a Ring untuk Waconia Choir Contest dan kami mendapat nilai yang fantastik dari juri, dua Superior dan satu Excellent. Bertandang ke sekolah lain membuat saya sadar bahwa Buffalo High School memiliki bangunan yang cukup baru dan jauh lebih bersih serta lengkap dibanding sekolah lainnya di Minnesota. Melissa malah berujar berkali-kali, “I think our school is the best in Minnesota.”

Di negara empat musim, memiliki Daylight Savings memang sangat normal. Tanggal 8 Maret lalu, waktu di Minnesota menjadi mundur satu jam. Selama musim dingin, perbedaan waktu Indonesia dan Minnesota adalah 13 jam. Namun ketika mulai memasuki musim semi, perbedaannya menjadi 12 jam saja karena adanya daylight savings. Kata host mom, tujuan daylight saving adalah agar sore hari lebih panjang dari pagi hari. Memasuki mulai semi, matahari tenggelam mulai pukul tujuh malam karena adanya daylight saving time. Bahkan di musim panas, matahari tenggelam pukul sembilan atau sepuluh malam.

Bulan maret ini, teman seperjuangan saya asal Chapter Padang, Miftahul Khairi (Ari), sedang berulangtahun ke-18 pada 14 Maret lalu. Host family nya pun berencana membuat kejutan untuknya. Host mom nya menelpon saya dan meminta tolong untuk membawa beberapa teman ke rumah Ari untuk membantu memberi kejutan ulang tahun untuknya. Kami diundang ke rumahnya pada malam minggu pukul enam sore. Saya pun memberi tau Melissa, Wakako, dan Levente untuk datang ke rumah saya sekalian berangkat bersama-sama ke rumah Ari. Ari pun tidak tau menau tentang kejutan ulang tahun ini. Yah namanya juga kejutan. Bahkan saya kaget ketika dia mengirim sms di hari sabtu pagi yang isinya dia sedang berada di Asian Noodle dan menawari saya beberapa makanan Indonesia untuk dibawa saat presentasi chapter hari Minggu ini. Saya pun hanya titip dibelikan dodol durian yang sebenarnya buatan Malaysia. Saya pun pergi ke Walmart bersama Melissa dan Host Mom untuk mencari kado untuk Ari. Melissa pun membeli sebuah kaos hijau bertuliskan Mountain Dew, softdrink paling enak yang pernah saya minum. Saya pun menemukan empat film tentang disaster (musibah) yang diramu dalam satu DVD dan yang paling penting adalah DVD ini sedang dalam sale. Host Mom hanya memberi frame lalu mencetak sebuah foto ketika Ari pertama kali datang ke Minnesota. Maklum, Ari sempat tinggal di rumah Host Family saya pada minggu pertama karena Welcome Family nya sedang berlibur saat itu.

Ari tinggal di kota Big Lake, kira-kira 15 atau 20 menit dari Buffalo. Saya hanya datang bersama Host Mom, Wakako, dan Melissa. Kompleks tempat tinggal host family Ari terletak in the middle of nowhere. Daerahnya lebih berbukit-bukit dan rumahnya jauh lebih besar-besar. Kami tiba di rumah Ari dan disambut oleh host sister Ari. Saat itu Ari sedang bermain game Wii bersama host brother nya di basement (lantai bawah tanah) sehingga tidak tau bahwa orang-orang sudah berkumpul di rumahnya untuk memberi kejutan ulang tahun. Rumah host family Ari sangatlah besar, bahkan mereka memiliki kolam renang di belakang rumah karena host brother Ari yang bernama Collin adalah jawara renang yang tak terkalahkan. Tropinya pun berjajar rapi di kamarnya. Host Dad Ari yang pernah bekerja di Jakarta beberapa tahun pun langsung menyapa saya dengan akrab dan senyum lebarnya. Beliau sangat antusias menunjukkan daging rendang hasil masakannya kepada saya. Host mom Ari sudah memesan kue ulang tahun untuk Ari. Segalanya sudah diatur, kado-kado sudah tergeletak lemas di atas meja dapur yang berada tepat di tengah ruangan. Lalu host dad Ari menyuruh host sister Ari untuk memanggil Ari ke lantai atas. Ari pun langsung dengan polosnya mengintip dapur dan tertegun oleh orang-orang yang berteriak surprise untuknya. Ia pun tersenyum lebar dan benar-benar tak menyangka akan adanya kejutan tersebut. Kami menyanyi lagu happy birthday untuknya lalu memaksanya untuk membuka kado-kado yang dihadiahkan untuknya. Setelah menyantap kue ulang tahun, kami pun bermain petak umpet, dan extreme cards game yang dipadu dengan permainan spoon.

Hari minggunya (15/3) saya pun berkesempatan memberikan presentasi tentang Indonesia di acara chapter meeting. Hari itu ada tiga negara yang akan presentasi. Melissa (Hongkong), saya dan Ari (Indonesia), dan Sithi (Thailand). Melissa pun memasak nasi goreng di rumah host family saya, ditambah beberapa macam snack-snack kecil yang dikirim ibunya dari Hongkong. Saya yang tidak gape masak memasak akhirnya cukup pasrah membuat ayam goreng. Ari cukup membawa snack yang dibelinya di Asian Noodle hari sebelumnya, salah satunya adalah keripik singkong (yum!) dan kacang goreng. Sithi membuat pad thai, tumis khas thailand dengan sayur mayur dan udang. Saya berencana menari untuk presentasi kali ini namun waktu yang tersedia sangat ngepres dan akhirnya saya dan Ari cukup menari Bali bersama-sama di awal presentasi. Orang-orang pun tertawa dan terbengong-bengong ketika saya tunjukkan beberapa foto orang Indonesia yang mengendarai motor dengan gerobak di belakang ataupun berboncengan dengan tiga orang sekaligus. Audience kali ini hanya sesama exchange students bersama host family mereka. Untuk yang cewek-cewek malah langsung terpukau dengan beberapa kebaya pengantin yang saya tunjukkan di power point saya. Seperti biasa saya selalu mendapat banyak pertanyaan seputar jilbab dan hak asasi wanita di Indonesia dengan adanya jilbab.

Tahun ini, saya cukup beruntung bisa menyaksikan State Basketball Tournament di Target Center (kandangnya Timberwolves). Tim bola basket perempuan Buffalo High School mendapat kesempatan untuk berlaga di tingkat State (sejenis provinsi). Tim bola basket tahun ini cukup tangguh hingga menembus state. Dua tahun lalu, tim bola basket laki-laki kami adalah Basketball Champion 2007, which is a big deal. Olahraga di sini ibarat segala-galanya. Anak paling pandai di akademik bisa kalah populer dengan kapten tim bola basket atau football. Pertandingan kali ini bertepatan dengan jadwal presentasi saya di International Club (18/3). Saya pun akhirnya merelakan jadwal presentasi saya karena saya ingin pergi menonton State Game. Saya menemui guru Bahasa Spanyol di sekolah saya yang juga mengurus International Club, dan meminta beliau untuk mengganti jadwal presentasi saya di lain hari. Padahal pengumuman presentasi saya sudah diumumkan di TV sekolah. Akhirnya presentasi saya ditunda tanggal 22 April 2009.

Sejak hari Senin (16/3) atau dua hari sebelum pertandingan, Kepala sekolah pun langsung memberi pengumuman akan adanya dispensasi kepada setiap siswa yang akan pergi ke Minneapolis untuk mendukung tim bola basket putri kami. Bahkan sekolah menyediakan beberapa bus yang bisa membawa para supporter ke Minneapolis. Saya pun membayar $8 untuk tiket pertandingannya, dan $5 untuk transportasi dengan bus sekolah. Beberapa supporter menggunakan mobil pribadi sehingga tidak perlu mendaftar untuk bus supporter. Kami mendapat dispen setelah jam ketiga karena supporter akan meninggalkan sekolah pukul 12 siang. Sayangnya hari itu kami pun bertekuk lutut oleh St Centennial High School yang kami lawan waktu itu sehingga kami tidak bisa melaju ke State Final. Kekalahan yang cukup disayangkan karena kami hanya selisih lima angka. St Centennial High School pun melaju ke final melawan South High School, yang berakhir pada kemenangan South High School. Meski Girls Basketball gagal meraih State Champion, namun tim Mock Trial (Sejenis Debat) kami memenangkan state, begitupula tim renang dan gulat kami.

Berakhirnya quarter ketiga juga mengawali libur musim semi tahun ini. Libur musim semi kali ini berawal dari tanggal 20 Maret hingga 29 Maret. Cukup panjang memang. Sahabat saya, Lisa Kamperdicks (Jerman) bahkan menghabiskan libur musim seminya di rumah saya karena host family nya sedang berlibur ke Hawaii selama libur musim semi. Kami pun mengunjungi United Noodle di Minneapolis karena saya ketagihan Indomie rasa sate yang dijual di sana. United Noodle adalah supermarket yang menjual berbagai macam makanan Asia dan isinya lumayan lengkap. Saya pun membeli satu box penuh berisi 30 Indomie rasa sate yang rasanya lebih mirip nasi pecel, keripik singkong Kusuka, kopiko, bumbu sate sekaligus kecap manis, kacang atom, dan Indomie rasa soto ayam dan daging rendang. Melissa bahkan membeli satu box penuh Indomie goreng reguler karena dia sangat cinta mie goreng Indonesia bahkan ia sudah sering mengkonsumsi Indomie goreng di Hongkong. Ketika asyik bersorak melihat produk Indonesia, tiba-tiba ada seorang perempuan yang menyapa saya dan menanyakan apakah saya seorang penyanyi atau bukan. Saya pun tersenyum dan bertanya kenapa. Perempuan itu berkata bahwa ia baru saja menonton acara Oprah Winfrey yang mengundang seorang penyanyi Asia yang wajahnya sangat mirip dengan saya. Ia tidak yakin darimana penyanyi Asia itu berasal, lalu tiba-tiba ia menyebut Indonesia. Saya pun langsung berseru bahwa saya dari Indonesia. Perempuan tersebut terlihat antusias dan bahkan langsung menelepon temannya untuk menanyakan lebih pasti darimana penyanyi itu berasal dan ternyata ia berasal dari Filipina.

Di United Noodle itu juga saya bertemu sekelompok mahasiswa yang mengobrol dengan Bahasa Indonesia. Saya pun menguping sebentar untuk memastikan. Setelah yakin mereka berbicara dengan Bahasa Indonesia, saya langsung menyeruak di kelompok itu dan menanyakan kalau mereka berasal dari Indonesia. Tak disangka ternyata mereka memang mahasiswa Indonesia yang sedang meneruskan study di University of Minnesota, mereka berasal dari Jakarta. Dua di antaranya adalah Kak Inggrid dan Kak Kelvin. Meski tahu mereka dari Indonesia, kami pun tetap bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris karena rasanya aneh sekali mengobrol dalam Bahasa Indonesia. Dari percakapan itu saya tahu kalau ada Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (PERMIAS) di Minneapolis. Kak Kelvin pun menanyakan nomor hape saya di Amerika untuk memberi kabar kegiatan-kegiatan PERMIAS. Tak disangka ternyata PERMIAS Minneapolis akan menggelar Indonesian Night pada hari sabtu (28/3). Sayangnya saat itu saya akan diajak Host Family untuk berlibur ke Tennessee. Dan kami akan berangkat hari jum’at pagi (27/3) sehingga saya dipastikan tidak bisa menghadiri Indonesian Night tersebut. Menurut penuturan Kak Inggrid, ada banyak mahasiswa Indonesia di University of Minnesota. Mungkin saya akan jadi salah satunya nanti, hehehe.

Tepat sehari sebelum saya berlibur ke Tennessee (26/3), koran lokal di Buffalo (Wright County Journal) pun memberitakan tentang exchange students di Buffalo High School, termasuk saya. Host Mom pun langsung membeli tiga koran sekaligus untuk saya, Melissa, dan Lisa. Kami berada di halaman paling belakang, full page. Sebelumnya, wartawan dari Wright County Journal sempat berkunjung ke sekolah saya untuk melakukan wawancara dengan semua exchange students sekaligus mengambil gambar kami. Pemberitaannya lebih mengarah pada pengalaman kami di sini yang paling berkesan ataupun seputar kegiatan atau club yang kami ikuti di sini.

Radar Kediri – Make Up Assignments


Bolos sekolah di Amerika bukanlah ide bagus. Karena apa? Kalau di Indonesia nilai raport sebagian besar berdasarkan dari nilai ulangan harian dan ulangan semester, tapi di Amerika nilai raport sebagian besar berasal dari nilai pe-er dan tugas. Ada positif dan negatifnya sih. Positifnya, siswa jadi dituntut mengerjakan setiap pe-er dan tugas yang dibebankan kepadanya secara tuntas dan tepat waktu. Dari mengerjakan pe-er dan tugas itulah sebenarnya siswa belajar dan memperdalam materi. Namanya juga anak belasan tahun, kalau diancam dengan nilai raport pasti langsung iya iya saja. Kalau di Indonesia, karena mengerjakan pe-er serajin apapun (entah itu mengerjakan sendiri atau tinggal copy paste teman), kalau nilau ulangannya jelek ya raportnya tetap jelek. Tapi negatifnya, kalau di Amerika membolos satu minggu seperti saya, pe-er dan ujian langsung menumpuk dan grade bisa langsung D atau F karena nilainya yang berbasis pada kehadiran dan tugas. Kontan saya langsung mencak-mencak ketika pulang dari Florida dan menyadari banyaknya missing assignments yang membuat grade saya langsung berada di F di kelas higher algebra. Di sekolah saya, grade, tugas, dan segala hal berkaitan dengan sekolah bisa di check langsung melalui internet di website sekolah. Ibu saya di Indonesia pernah saya beri password dan username kalau ingin melihat nilai-nilai saya di sini.

Otomatis satu minggu setelah kembali dari Florida, saya hanya berkutat mengerjakan tugas-tugas yang terlambat atau belum saya kumpulkan agar grade saya naik. Susahnya lagi, di 3rd Quarter ini saya punya dua kelas komputer yang sebagian besar tugasnya harus dilakukan di komputer. Jam pertama saya ada di kelas 3D Mechanical Drawing, lalu langsung ke kelas Choir, jam ketiga di kelas Graphic Design 2, dan jam terakhir adalah Higher Algebra. Di kelas 3D Mechanical Drawing, saya adalah satu di antara empat siswa perempuan di kelas. Sisanya adalah siswa laki-laki. Sejenak saya merasa seperti bersekolah di STM. Maklum, 3D Mechanical Drawing sebenarnya seperti teknik mesin, namun di sini kita lebih kepada ‘arsitek’ mesinnya yang mengukur dan membuat rangka dan gambar untuk mesin. Sebenarnya saya mengambil kelas creative foods sebelumnya, namun akhirnya saya ganti dengan kelas ini. Saya sudah ketinggalan enam gambar mesin yang harus dikumpulkan di akhir pekan itu. Sebenarnya sebelum mengambil kelas ini, siswa harus mengambil kelas Intro to CAD dahulu, namun karena saya sudah mengenal sedikit soal software CAD (Chief Architecture Design), dan setelah menjalani try out untuk loncat kelas, akhirnya gurunya mengizinkan saya masuk kelas ini. Lagipula program yang dipakai di kelas 3D Mechanical Drawing adalah software Pro Desktop. Alhamdulillah gurunya berbaik hati dan memperpanjang deadline pengumpulan tugas hingga hari senin, jadi saya bisa datang ke sekolah lebih awal untuk mengerjakan enam gambar mesin tadi.

Di kelas choir cukup ringan. Tidak ada tugas sama sekali. Namun saya ketinggalan dua lagu baru untuk konser. Namun lagu baru ini cukup mudah dan kami masih berlatih dengan solmisasi nya. Namun ada yang lain di kelas choir bulan lalu (Februari) yakni kami kedatangan seorang penari yang akan berlatih tarian bersama kami. Tujuannya hanya untuk menyambut dan memperingati Marthin Luther King Jr Day. Pertama kami diajak berdiskusi seputar Marthin Luther King Junior, lalu kami mendapat tugas membuat gerakan yang menggambarkan tiga kata tentang Marthin Luther King Junior. Saya hanya menari Bali karena gerakannya yang lebih simpel dan sedikit dibanding tari Jawa. Setelah kami menunjukkan tarian kreasi kami masing-masing, kami dibentuk dalam sebuah grup berisi tiga orang. Dan saya dipasangkan dengan teman saya Sarah Oliver yang sudah menari Ballet sejak umur tiga tahun, dan juga dengan Luke Voigt yang sedang mengambil kelas Jazz Dance. Kami pun dituntut untuk menggabungkan tarian kami bertiga menjadi satu kesatuan gerakan. Saya tidak kesulitan meniru gerakan Ballet milik Sarah karena saya sempat di kelas Dance selama seminggu di quarter lalu, dan gerakan Luke cukup simpel. Masalahnya adalah mereka tidak bisa meniru gerakan tari Bali saya yang butuh luwes dan lemas. Rasanya ingin tertawa melihat cara mereka mempraktekkan tari Bali. Bahkan Luke terlihat seperti robot. Ketika kami diminta tampil di panggung dengan menari kombinasi ballet, jazz, dan Bali, kontan sang penari yang juga instruktur kami kali itu langsung mengomentari gerakan saya dan bertanya soal tari saya itu. Si penari itu mengenali tarian saya bahwa itu adalah tari Bali dari Indonesia. Bahkan beliau langsung menyuruh teman-teman saya sekelas untuk menirukan gerakan tari Bali saya. It was so much fun.

Lagi-lagi sebenarnya saya tidak mengambil kelas graphic design 2. Saya sudah positif mengambil kelas Bahasa Prancis di jam yang sama. Namun guru graphic design saya langsung mengirim surat ke saya yang dititipkan lewat guru jam pertama saya, isinya adalah meminta saya untuk mengambil kelas graphic design 2 karena guru saya menilai saya telah membuat design-design bagus selama graphic design 1 dan beliau merasa saya harus mengembangkannya lebih jauh. Satu kalimat yang langsung membuat saya mengganti kelas Bahasa Prancis saya ke kelas Graphic Design 2 adalah kenyataan yang diungkap guru saya tersebut bahwa ini adalah tahun terakhirnya mengajar di Buffalo High School. Tahun depan tidak akan ada lagi kelas Graphic Design, hanya ada kelas Computer Graphics dan Visual Technology. Akhirnya di sinilah saya berakhir, membuat design buku untuk Pegassus selama kurang dari empat hari. Tidak cukup satu design namun dua design siap print untuk mengambil nilai rough draft design. Membuatnya mudah, namun mencari idenya yang sulit. Bu Mardliyah, Guru Bahasa Indonesia saya di SMAN 2 Kediri sering berkata bahwa ide itu sangat mahal karena sekolah ide itu tidak pernah ada.

Kelas higher algebra sebenarnya out of my lists. Awal tahun ajaran, saya benar-benar tidak berniat sama sekali untuk mengambil kelas-kelas ipa atau matematika. Karena pikir saya, saya tidak akan mendapat kredit dari Indonesia untuk kelas-kelas yang saya ambil di sini jadi saya hanya mau mencari kelas-kelas baru yang tidak ada di Indonesia. Namun ketika mendekati semester baru, teman-teman saya di Indonesia mulai mengabari saya bahwa UAN semakin susah dan jadwal mereka tidak jauh dari belajar dan belajar. Kelas penuh dengan aura kematian katanya. Karena takut lupa dengan pelajaran ipa dan matematika, akhirnya saya pun mencoba mengganti jadwal ke AP Calculus, namun counselor saya tidak meng-iya-kan permintaan saya karena saya sudah terlambat satu semester untuk mengambil AP Calculus yang lamanya satu tahun. Akhirnya saya menawar meminta dipindah di kelas Pre Calculus dan lagi-lagi gagal karena kelasnya sudah penuh. Satu-satunya yang masih lumayan untuk diambil adalah Higher Algebra. Isinya kebanyakan junior, ada beberapa senior namun tidak banyak. Saya pun satu kelas dengan Ritsuko Iinuma (Jepang).

Ketika saya menerima buku paket dari guru saya, Mrs. Macalena, saya langsung melongo karena soal-soalnya yang terasa sangat mudah bagi saya yang tergolong bukan ahli matematika di SMADA. Materinya adalah materi matematika kelas dua yang berarti sudah saya pelajari tahun lalu di SMADA. Ketika guru menerangkan, saya pun ikutan mendikte karena tidak satupun di kelas bisa menjawab pertanyaan. Saya pun sering dibuat tidak sabar dengan cara menghitung mereka yang terlalu lama dan bergantung pada graphic calculator. Saya sempat dilanda bosan di kelas karena materinya bukan hal baru lagi. Tugas dan pe-er langsung saya selesaikan di kelas karena soalnya yang mudah. Kelemahan saya hanya dalam memakai graphic calculator yang saya pinjam dari sekolah. Seperti ketika mengerjakan materi matriks dan kami diharuskan menghitungnya dengan kalkulator, saya dan ritsuko malah menghitungnya dengan manual karena tidak terbiasa. Teman-teman saya selalu melongo karena saya selalu selesai paling awal dalam sepuluh menit. Saya pun tertawa dalam hati karena di SMADA saya bahkan tidak terhitung sebagai ahli matematika.

Kalau dulu saya sering menggerutu tentang betapa susahnya pendidikan di Indonesia, namun kadang saya merasa hal itu perlu karena kenyataannya siswa-siswa Indonesia bisa bersaing dengan baik di sini. Setidaknya siswa-siswa Asia, Indonesia khususnya, selalu terkenal pandai di bidang ipa dan matematika. Yang saya tetap tidak mengerti adalah, kenapa kita bangsa Indonesia tetap kalah dengan Amerika? Padahal kalau saya lihat dari sumber daya manusianya, ada banyak manusia cerdas di Indonesia yang kalau difasilitasi seperti di Amerika, saya yakin siswa-siswa kita jauh lebih unggul dan nantinya berdampak baik untuk kemajuan negeri kita. Beberapa teman Amerika saya bahkan tidak tahu bagaimana mengeja beberapa kata dalam Bahasa Inggris dengan benar. Saya akui pendidikan di Indonesia memang jauh lebih sulit dibandingkan Amerika. Kebanyakan exchange students seperti saya pun sedikit menikmati menjadi siswa A in a row di sekolah-sekolah Amerika karena sulitnya menjadi siswa A in a row di Asia atau Eropa. Alhamdulillah setelah mengumpulkan missing assignments, grade saya di semua kelas langsung kembali normal ke grade A.

Di Buffalo High School tidak ada yang namanya ujian semester seperti beberapa sekolah di Amerika. Pada dasarnya sekolah saya adalah Arts Magnet School yang mengedepankan kesenian. Di Amerika tidak ada ujian akhir seperti UAN. Namun ada beberapa ujian yang disebut SAT atau ACT. ACT adalah ujian tulis mirip UAN, namun hasilnya hanya bisa dipakai untuk kawasan Mid West. SAT sejenis dengan ACT, namun bisa dipakai di seluruh pelosok Amerika. Namun kedua test tersebut tidak diadakan untuk memenuhi persyaratan masuk Perguruan Tinggi. Test-test tersebut hanya sebagai pelengkap dan pendukung untuk mendaftar ke Perguruan Tinggi. Siswa hanya membutuhkan ijazah dan nilai akademik selama di sekolah untuk mendaftar universitas. Untuk bisa lulus di sini, siswa mengambil ujian yang wajib diambil ketika mereka berada di bangku junior atau kelas 11. Sehingga menjadi senior (kelas 12) adalah hal yang sangat besar karena bebas dari beberapa tuntutan ujian akhir, kecuali kenyataan bahwa mereka harus mulai mencari uang kuliah. Semua senior mendapat sebuah senior privillege dari sekolah, di mana kami bisa pergi ke sekolah pukul sepuluh pagi di beberapa hari khusus, bisa meninggalkan sekolah 20 menit lebih awal, senior breakfast, libur satu hari sebelum prom, dan ada all night graduation party yang hadiahnya bisa ratusan hingga ribuan dollar. Khusus untuk Senior.

Minggu kedua bulan Februari, sekolah ramai dengan perayaan Snow Days. Perayaan ini berlangsung selama satu minggu dan siswa-siswa bisa berdandan sesuai tema, serta musik-musik terbaru selalu diputar selama pergantian kelas. Pada hari pertama, temanya adalah Neon Day dan orang-orang memakai baju dengan warna-warna ngejrenk dan norak. Hari kedua bertema Carrier Day di mana orang-orang berdandan sesuai cita-cita mereka. Hari ketiga adalah Movie Character Day, hari keempat yaitu Duo Day, dan hari terakhir yakni Boys vs Girls Day. Saya hanya berdandan di hari terakhir karena temanya mudah. Untuk cewek hanya butuh baju warna pink dan cowok berwarna biru. Namun Snow Days tidak seramai Homecoming Days. Kalau di Homecoming Days dulu sangat semarak karena setiap orang berdandan sesuai tema, kalau Snow Days cukup dinikmati beberapa orang karena suhu yang dingin dan membuat orang-orang malas berdandan aneh-aneh di musim dingin.

Puncak dari Snow Days adalah Snow Dance (14/2). Teman-teman saya kebanyakan adalah senior dan junior, dan mereka rata-rata tidak datang ke Snow Dance. Lagi-lagi Snow Dance hanya dibanjiri Sophomore (siswa kelas 10) dan Freshmen (siswa kelas 9). Acaranya digelar di sekolah, saya pun hanya datang dengan Wakako dan hanya duduk menikmati mountain dew sambil melihat orang-orang yang berjingkrak-jingkrak dipandu DJ. Beberapa orang guru ikut hadir dan hanya mengawasi. Beberapa teman saya pun membuat atraksi breakdancing di tengah keramaian dan mengundang perhatian sebagian anak. Saya pun berputar dan mengobrol dan bertemu beberapa senior dan junior yang juga teman-teman saya sambil menikmati lagu-lagu yang disajikan DJ. Snow Dance tidak seramai Homecoming Dance. Beberapa teman-teman saya menarik-narik saya untuk ikut menari, namun saya menolak halus dengan alasan saya sudah capek.

Tepat di hari yang bagi sebagian orang diakui sebagai Hari Kasih Sayang itu, saya juga sempat melukis untuk pertama kali dalam hidup saya. Bagaimana lagi kalau tidak diajari dan dipandu Host Dad yang juga seorang pelukis. Tidak tanggung-tanggung, kami langsung melukis di kanvas yang berukuran lumayan besar. Saya sedikit grogi karena belum pernah melukis, bahkan memegang kuas. Dulu waktu kecil saya hobi sekali menggambar dan ikut lomba-lomba gambar, tapi beranjak dewasa kegemaran saya itu beralih ke hal lain. Host Dad pun mengajari saya teknik-teknik dasar melukis dengan telaten. Saya pun memilih melukis pemandangan Minnesota dengan danaunya yang membeku selama musim dingin. Refleksi langit senja dibuat dengan warna pink gradasi. Sejenak saya tidak percaya bahwa saya bisa menggoreskan kuas. Dan yang lebih membuat tidak percaya adalah lukisan kami menunjukkan hasil yang sangat bagus. Saya pun berencana membawa lukisan pertama saya itu ke Indonesia, dan seketika pula saya ketagihan melukis.

Hari Minggu (15/2) saya pun dibangunkan oleh telepon dari Kelsey yang mengajak saya hang out ke Mall of America siang itu. Saya pun merasa sangat beruntung karena hari itu sebenarnya teman saya Riska Khairani (Malang) sedang berada di Minneapolis dan mengajak ketemuan dengan saya di Mall of America. Sebelumnya saya tidak yakin bisa datang karena Host Family yang akan melakukan Host Family interview untuk mendaftar sebagai host family tahun depan. Maka dari itu saya langsung meng-iya-kan ajakan Kelsey ketika ia menawari hang out ke Mall of America bersama Melissa (Hongkong). Kami tiba lebih awal dan Riris (panggilan Riska Khairani) masih berada di Global Market untuk membeli makanan Indonesia. Akhirnya kami mencoba baju-baju untuk Prom di butik-butik yang hanya menyediakan baju berbandrol minimal $200. Kami mencoba berbagai macam gaun dan mengambil gambar dengannya. Meskipun tidak membeli, setidaknya kan punya fotonya, hehehe. Ketika kami menikmati kopi di Starbucks, saya pun dikagetkan oleh Riris yang datang dari belakang saya. Kami pun berpelukan haru dan sempat mengobrol sejenak dengan Bahasa Indonesia, hehehe, namun segera sadar dan kembali ke jalan yang diharuskan yakni dilarang berbicara dalam bahasa ibu. Kami pun berputar-putar di Mall of America sambil bercerita panjang lebar tentang enam bulan kami di sini. Namun pertemuan itu cukup singkat, kurang dari tiga jam dan Riris harus segera kembali ke hotel.

Radar Kediri – Disney World -end-


Menjelang hari-hari terakhir di Florida, suhu di sana mulai dingin. Seperti pada hari kelima (29/1), cuaca mendung dan hujan benar-benar dipastikan akan tumpah ruah. Seperti hari sebelumnya, host mom pun siap sedia jas hujan untuk kami. Dan hari kelima ini kami berniat untuk mengunjungi Disney Animal Kingdom untuk kedua kalinya. Kami berempat sepakat bahwa Disney Animal Kingdom dan Disney Epcot adalah taman hiburan Disney favorit kami. Hari ini saya dan Brianna sepakat berbasah-basah ria karena kami akan mencoba wahana Kali River Rapids.

Hari itu Disney bertambah ramai. Sekolah-sekolah dari Amerika Latin yang sedang mengadakan study tour pun masih nampak dimana-mana dengan kaos yang seragam. Kami menaiki wahana Kilimanjaro Safaris. Di sini, kami akan menjelajahi padang sabana Afrika dengan menggunakan truk Disney yang terbuka tanpa jendela. Padahal kalau di taman safari di Indonesia kan kita harus tinggal di dalam mobil atau bus, dan dilarang membuka jendela kendaraan.
 
Kami cukup antusias menikmati interaksi langsung dengan hewan-hewan khas Afrika itu. Medan yang kami tempuh memang dibuat menyerupai habitat asli para hewan-hewan tersebut. Becek karena sempat hujan, hijau dengan banyak pohon lebat, dan tentunya tegang karena tidak ada celah yang memisahkan kami dengan hewan-hewan tersebut. Para jerapah pun dengan enaknya berjalan-jalan di jalanan dan menyapa truk kami. Ada bermacam-macam binatang, sayangnya saat kami melintas, sang raja hutan alias singa sedang tidur di atas batu.Melewati sungai yang penuh buaya ternyata cukup menakutkan, sopir truk kami yang juga pemandu kami pun tancap gas begitu melintasi sungai tadi. Para harimau pun melirik kami seolah menyapa halo dari balik rimbunnya pohon, bahkan di atas dahan-dahan pohon. Kamera sedikit susah menangkap gambar karena truk yang berjalan sedikit cepat, sopirnya takut kali ya dengan terkaman binatang.
 
Setelah itu, kami masih berkutat dengan mengamati dua ekor gorila yang berukuran besar, dan melihat-lihat dunia satwa lainnya sampai tidak terasa hari mulai menjelang sore. Kami berniat melihat drama musikal “Finding Nemo”, namun ternyata kami terlambat dan harus menunggu ke jam tayang berikutnya pada satu jam kemudian. Akhirnya host mom dan host dad memutuskan untuk pergi ke Expedition Everest dan mencoba kembali roller coaster yang berjalan mundur tersebut. Sedangkan saya dan Brianna memutuskan berbasah-basah ria di Kali River Rapids.

Hari itu kami cukup beruntung karena tidak banyak orang yang mau naik ke wahana Kali River Rapids ketika awan bermuram durja. Wahananya seperti ini, kami naik ke atas perahu semacam perahu untuk arung jeram, lalu seperti biasa kami harus memakai sabuk pengaman yang melingkar di pinggang. Tas-tas dan barang berharga lain bisa diletakkan di tengah perahu yang terdapat plastik pelindung dari semprotan air. Di awal, perahu kami penuh orang. Saya dan Brianna menduga-duga seperti apa wahananya. Pertama-tama, perahu naik dan menanjak ke tanjakan yang cukup tinggi dengan kemiringan kira-kira 60 derajat. Perahu-perahu lain ikut mengikuti kira-kira lima meter di belakang kami. Saya pikir dari tanjakan securam itu, kami akan dijatuhkan dengan ketinggian tertentu, ternyata tidak. Setelah itu sungainya hanya datar-datar saja, namun kami langsung tertimpa muntahan air mancur yang cukup besar di tengah sungai. Untuk pertama kalinya di wahana itu, baju saya langsung basah.
 
Berikutnya hanya ombak-ombak kecil yang menggoyang-goyang perahu kami, namun tak cukup berarti untuk membuat kami semuanya basah kuyup. Lalu perahu melewati daerah tandus di puncak gunung yang digambarkan dengan truk-truk para penebang hutan dan pohon-pohon besar yang ditebang secara brutal, maupun dibakar sampai habis. Setelah itu barulah hal yang paling seru dari wahana itu dimulai. Di depan kami telah terhampar air terjun yang cukup tinggi. Perahu kami terbawa arus dan jatuh dari air terjun tadi. Dan untuk kedua kalinya, saya lagi yang terkena tumpahan air dan air kali ini jauh lebih banyak. Otomatis seluruh tubuh saya, mulai dari rambut sampai kaki langsung basah. 

Saya dan Brianna yang terlanjur basah kuyup pun tidak rela baju kami basah hanya untuk satu kali permainan. Kami pun mengulang kembali wahana itu. Karena tidak banyak pengunjung saat itu, petugasnya pun membolehkan kami tetap tinggal di perahu, hehehe. Rencananya kami hanya akan mengulang wahana itu tiga kali, namun kami malah meneruskannya sampai ke 13 kalinya, hahaha. Di ronde kelima, kami bertemu anak laki-laki seumuran adek saya, Wanda yang masih SMP, yang memutuskan mengikuti misi gila kami waktu itu. Dia berasal dari Kentucky, saya sendiri lupa belum tanya nama. Alhasil, kami bertiga para trio pecinta Kali River Rapids berbasah-basah dengan sungai dan ditambah dengan siraman hujan. Meski kedinginan dan kami sudah tidak berbentuk manusia lagi, tapi enaknya kami jadi bisa bertemu banyak orang dari beberapa negara yang naik ke perahu kami. Kami malah mirip-mirip pemandu wisata di perahu kecil itu. Seperti misalnya, kami mengingatkan pengunjung untuk mengamankan sepatu dari lantai perahu, menolong menyimpankan barang-barang mereka di tengah perahu, sampai menakut-nakuti mereka bakal tersiram air paling banyak. Tak lupa di akhir kami selalu menawari mereka untuk mengulang wahana itu kembali seperti kami. Lalu mereka akan langsung melongo dan menganggap kami gila karena kami sudah berada di perahu itu untuk enam putaran, hehehe.
 
Kami bertemu orang-orang dari China, Thailand, Jepang, Argentina, Afrika, dan Peru. Bahkan kami berhasil mengajak dua orang kakak beradik dari Peru untuk tinggal di perahu dan meneruskan ke putaran mereka yang kedua. Keduanya sama-sama perempuan, sang kakak sepertinya seumuran dengan saya dan sang adik kira-kira masih berumur enam atau tujuh tahun. Kami sempat bercakap-cakap dan ketika saya menyebutkan bahwa saya dari Indonesia, sang kakak lantas berujar bahwa sekolahnya di Peru pernah kedatangan beberapa siswa pertukaran pelajar dari Indonesia. Salah satunya yang masih dia ingat bernama Aprilia.

Petugas Disney yang mengurusi Kali River Rapids pun malah yang menawari kami untuk tinggal di perahu saja. Namun karena hujan dan saya yang mulai bergidik kedinginan, saya dan Brianna memutuskan menghentikan rekor kami di putaran ke-13. Sang adek dari Kentucky malah tinggal lebih lama dan ingin menakhlukkan rekor kami karena saat itu dia masih di putarannya yang ke delapan. Kami pun saling mengucapkan selamat tinggal dan saya baru sadar bahwa kami sudah terlambat lagi untuk menonton Finding Nemo. Saya mengecheck handphone dan ada tiga misscalled dan satu voicemail dari Host Mom. Karena kami basah kuyup, kami malah pergi ke toilet yang terletak di dekat drama musikal Finding Nemo, lalu mengeringkan baju kami meski sebenarnya sia-sia. Host Mom dan Host Dad tertawa melihat kondisi kami yang amburadul. Kami memutuskan pulang ke condo agar saya dan Brianna bisa mandi dan ganti pakaian dahulu sebelum jalan-jalan lagi. Sayangnya, rencana kami untuk menonton kembang api di Disney Hollywood Studio malam itu gagal karena adanya hujan. Akhirnya kami malah tidur lebih awal dan menyiapkan diri untuk hari terakhir di Disney World.

Hari terakhir selalu menyedihkan. Target hari terakhir itu (30/1) adalah mengumpulkan tanda tangan dari semua karakter Disney dan berfoto bersama mereka. Karena itu, kami menghabiskan hari terakhir itu di Disney Magic Kingdom. Kami langsung ke rumah Minnie dan Mickey Mouse. Rumah Minnie didominasi warna pink yang merupakan warna favorit saya juga. Rumahnya super rapi dan dapurnya bisa diutak-atik untuk mainan pengunjung, sofa dan ruang tamunya benar-benar mirip di kartun. Ingin bertemu Mickey dan Minnie memang penuh perjuangan, antrenya lama sekali. Begitupula ketika kami ingin mendapatkan tandatangan dan foto bersama Disney Princess seperti Cinderella, Aurora, dan Belle. Hari itu kami berputar-putar hanya untuk mencari tanda tangan. Menjelang sore hari, setelah berfoto dengan Ariel sang putri duyung, kami menuju ke wahana Finding Nemo yang lain dengan sebuah kereta. Tak ketinggalan melihat atraksi lumba-lumba dan terbengong-bengong melihat ikan-ikan yang super lucu dan aneh yang dipamerkan di akuarium. Kami juga bertemu dengan Mr. Crush (karakter kura-kura di film Finding Nemo) dan dibuat tertawa-tawa oleh aksen Amerika nya yang sangat kental. Hampir setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu diselingi kata “Dude” dan kosa kata slang lainnya.

Malamnya, kami menuju ke Disney Epcot dan menyaksikan kembang apinya untuk ketiga kalinya. Beruntungnya, malam itu saya dan Brianna bisa makan masakan Maroko di restoran Maroko. Kami memesan Chicken Lamb Combo yang berupa daging ayam, dan kambing dalam satu menu. Rasanya lumayan enak, namun saya tidak doyan salad dan saosnya. Host Mom dan Host Dad makan di Jepang, karena Host Mom adalah penggemar berat mie. Di Maroko, kami sempat berfoto dengan Aladin, Jin, dan Jasmine. Malam terakhir di Disney World itu cukup berkesan namun tetap terasa menyakitkan untuk meninggalkan Disney.
 
Hari Sabtu (31/1), pesawat kami dijadwalkan lepas landas pukul 6.30 pagi waktu Orlando sehingga kami harus meninggalkan condo sekitar pukul lima pagi. Brianna harus terbang di penerbangan lain pukul setengah sembilan pagi, lalu baru sampai di Minneapolis pukul tiga sore. Sedangkan saya, host mom, dan host dad harus transit di Atlanta,Georgia. Hari itu kami cukup beruntung karena suhu di Minnesota cukup hangat, berkisar 40 derajat fahrenheit. Padahal minggu selama kami berada di Florida, suhunya sedang di bawah 0. Capeknya, setelah tiba di rumah, saya harus bergegas mandi dan menuju ke Mid Year Orientation di Mapple Groove. Orientasi setengah tahun kami di Amerika itu penuh tangis karena beberapa teman saya yang terpaksa harus berpindah host family. Setelah sesi curhat dan materi, kami langsung menuju ke tempat snow tubing di Elm Creek. Sayangnya udara bertambah dingin menjelang sore hari, dan saya hanya mengenakan kaos oblong yang dirangkap satu buah jaket. Setelah setengah tahun di Minnesota, saya jadi terbiasa dengan dingin. Sekarang saya malah yang takut tidak tahan dengan panas ketika kembali ke Kediri bulan juli. Snow tubing berlangsung seru karena dilakukan dengan banyak orang. Ashiqin pun ikut datang jauh-jauh dari Fertile untuk menjemput Brianna dan menginap di rumah host family malam itu. Semoga suatu saat saya bisa kembali lagi ke Disney World bersama keluarga dan mungkin dengan anak cucu saya, hehehe. Benar-benar where the dreams come true.

Radar Kediri – Disney World Part Four


Hari ketiga di Disney World (27/1), kaki dan badan mulai capek dan pegal-pegal karena mengelilingi dua taman hiburan Disney World sama dengan mengelilingi dua kali Dufan di Jakarta. Hari ketiga ini adalah petualangan mengelilingi Disney Magic Kingdom. Tempatnya terletak di sebuah pulau yang dikelilingi oleh danau, sehingga Disney Magic Kingdom tidak memiliki tempat parkir kendaraan. Untuk mencapai sana, ada tiga alternatif transportasi pilihan yang bisa dipilih pengunjung, yaitu Disney Bus, Disney Monorail, atau Disney Ferry Boat. Kami cukup memarkir mobil sewaan kami di Disney Epcot, lalu beranjak menuju Disney Magic Kingdom dengan menggunakan Disney Monorail. Bentuknya lebih modern dan mirip-mirip kereta cepat Shinkanzen. Meski masih tersisa banyak tempat duduk di dalam kereta, saya memilih untuk berdiri agar lebih leluasa melihat pemandangan dan panorama sekitar. Monorail singgah di beberapa perhentian, salah satunya adalah di dalam Disney Hotel yang masih setengah selesai. Meski belum 100% jadi, namun sebagian bangunannya sudah ditempati dan monorail ini melintasi bagian hotel tempat mall dan restoran berada.

Kesan pertama ketika meginjakkan kaki di Disney Magic Kingdom adalah penuh anak-anak kecil. Bangunan di sini juga lebih menyerupai istana ataupun kastil. Mata kita akan langsung tertuju ke arah Kastil Cinderella yang sangat besar dan menjadi simbol Walt Disney. Cuaca sedikit mendung hari itu, sehingga kami membawa payung dan jas hujan hanya untuk berjaga-jaga. Agar tidak kerepotan, kami pun membeli loker untuk menaruh barang bawaan kami. Lokernya mirip loker sekolah, namun jauh lebih kecil. Lantas kami menonton parade Disney yang lain di jalanan menuju Kastil Cinderella. Saya pun langsung antusias menuju ke depan Kastil Cinderella dan mengambil gambar. Beberapa Disney photographer pun membantu pengunjung mengambil gambar.

Kami menuju ke Tomorrow Land, dan menuju ke wahana Laugh Floor yang artinya lantai ketawa. Dari judulnya, saya kira wahana ini bakal lucu sekali, tapi saya baru sadar kalau guyonan orang Amerika sedikit berbeda dengan guyonan orang Indonesia. Laugh floor sedikit jayus atau garing meski cukup interaktif. Kita seperti duduk di dalam sebuah bioskop, lalu muncul video dengan tokoh karakter Disney dari film animasi Disney, Monster Inc, yang bisa berinteraksi dengan penonton. Entah bagaimana sistem kerjanya sehingga terasa nyata dan tidak sekedar rekaman video biasa. Seperti misalnya tokoh karakter menunjuk ke beberapa penonton secara tepat dengan deskripsi yang tidak meleset.
 
Wahana lain yang rasanya biasa untuk level Disney adalah Lilo and Stitch’s The Great Escape, yang menurut saya cukup jayus dan biasa juga. Hanya duduk dan mendengar robot berbicara. Benar kata host mom, Disney Magic Kingdom memang lebih seru untuk anak kecil. Tapi, akhirnya saya menemukan juga wahana yang menarik dan seru untuk umuran saya. Apalagi kalau bukan rollercoaster. Namanya Space Mountain. Rollercoaster ini memang tidak berputar 360 derajat, namun hal yang seru dan mengerikannya adalah satu bangku hanya diisi satu orang. Dan satu rollercoaster hanya diisi lima orang. Jadi rollercoaster ini pendek, kecil, namun melintasi lintasan yang panjang dan menikung naik turun lebih tajam. Host mom seperti biasa malah tertawa-tawa, saya dan Brianna sudah menjerit-jerit, rasanya rollercoaster ini lama sekali.

Beberapa anak-anak kecil berseliweran dengan pakaian dan dandanan ibarat seorang putri. Ternyata di dalam kastil cinderella, ada salon untuk para princess (putri). Menurut Host Mom, salon ini lumayan mahal karena setiap ‘putri’ bebas memilih gaun yang mereka sukai, dengan dandanan rambut dan wajah yang lengkap. Ada yang minta didandani persis seperti cinderella, ariel, maupun aurora.

Ada wahana yang bernama “It’s a small world” yang konsepnya sama persis seperti wahana Rumah Boneka di Dufan. Pengunjung menaiki sebuah perahu yang berisi kira-kira enam orang. Lalu perahu tersebut membawa pengunjung menonton robot-robot boneka yang berasal dari berbagai macam negara. Boneka-boneka tersebut menyanyi lagu “It’s a small world” dengan bahasa berbeda-beda tiap negara. Dandanan dan dekorasi bonekanya dibuat menyerupai tiap-tiap negara. Saya mencoba mencari Indonesia, namun sayang ternyata Indonesia belum cukup dikenal oleh Disney.
 
Kami makan siang di loker kami, seperti biasa, host mom sudah membuat sandwich untuk kami berempat. Kami makan sedikit terburu-buru karena pawai putri-putri Disney akan segera digelar di dekat pintu masuk Disney Magic Kingdom. Pawainya dengan mobil hias, di mana para putri dan karakter Disney lainnya diarak dengan mobil tersebut. Sambil menanti drama musikal Mickey dan Minney beserta para putri dan pangeran yang akan digelar di Kastil Cinderella, kami pun naik kereta tua berwarna merah yang membawa kami mengelilingi Disney Magic Kingdom. Oya, karakter-karakter Disney biasanya tersebar di beberapa tempat untuk melayani pengunjung yang ingin berfoto bersama maupun meminta autograph (tandatangan). Saya dan Brianna sudah berburu beberapa foto dan tandatangan, beberapa di antaranya harus antri panjang sekali karena merupakan tokoh favorit Disney. Misalnya, para Disney princess, ataupun Mickey dan Minney.
 
Hal paling menarik dari Disney Magic Kingdom adalah kembang apinya yang sangat cantik. Kembang api di Disney Magic Kingdom dimulai pukul delapan malam. Para pengunjung sudah lesehan di depan kastil Cinderella, tempat kembang api digelar, sejak pukul enam sore setelah drama musikal Disney selesai. Kira-kira setengah jam sebelum kembang api dimulai, kastil Cinderella memancarkan warna yang berbeda-beda. Mulai dari merah muda, biru, hijau, ungu, maupun emas. Sehingga kastil nampak sangat berkilau dan gemerlapan. Tepat pukul delapan malam, kembang api dimulai. Penandanya adalah Tinkerbell yang terbang dari puncak kastil Cinderella. Tentunya bukan terbang sungguhan, ada tali yang melekat di punggung Tinkerbell namun tetap terasa spektakuler. Kami dibuat terpukau dan menjerit kagum berkali-kali oleh kembang api terbaik Disney ini. Usai menonton kembang api, kami kembali ke Disney Epcot, tempat kami memarkir mobil. Kali ini, kami memutuskan pulang
menggunakan Disney Ferry Boat.
  
Hari keempat (28/1), kami menjelajah Disney Epcot karena hari-hari sebelumnya kami biasanya datang pada sore hari sehingga belum sempat berkeliling ke sebelas negara. Hari itu dress code kami adalah BATIK. Host mom dan host dad mengenakan baju batik yang dikirimkan Bapak dan Ibu saya dari Indonesia. Saya cukup memakai rok batik dengan atasan kebaya yang saya bawa dari rumah. Brianna akhirnya memakai rok batik saya, namun karena tidak muat akhirnya Brianna malah memakainya sebagai atasan.
 
Negara pertama yang kami kunjungi adalah Mexico dengan ciri khas bangunannya yakni sejenis candi Suku Maya dengan tangga yang menjulang ke atas. Bagi yang sudah pernah menonton film Apocalypto dijamin mengerti arti di balik tangga itu yang dulunya digunakan untuk upacara pengambilan jantung dan penyembelihan kepala ‘tumbal’ yang dipersembahkan untuk Dewa suku Maya. Tragis memang. Di balik bangunan yang terlihat eksotis itu tersimpan sejarah budaya yang sangat kejam. Saya dan Brianna malah asyik menggambar dan mewarnai Kitcot (media kreatifitas yang sebenarnya diperuntukkan untuk anak-anak kecil). Di dalam bangunan tadi, terdapat toko souvenir besar yang menjual berbagai oleh-oleh dari Mexico asli. Pegawainya pun dari Mexico. Yang menarik di sini adalah restorannya yang bernuansa remang-remang seperti di dalam hutan lebat. Lalu di sampingnya terbentang Gunung api buatan yang menjulang tinggi, namun efek nyatanya tetap tak pernah surut. Kami pun naik ke
perahu yang membawa kami melihat Mexico ‘lebih dekat’.
 
Setelah itu, kami singgah di Norwegia. Entah kenapa, perahu yang biasanya membawa pengunjung untuk menjelajahi Norwegia tidak beroperasi. Akhirnya kami hanya berputar dan melihat-lihat souvenir Norwegia dan melihat museum Vikings. Di samping Norwegia adalah negara China. Warna merah berani cukup atraktif menghiasi China dengan ukiran-ukiran khas berbentuk Naga. Gapura merah besar menyambut kami dan seketika saya kembali merasa jauh dari Amerika. Kolam ikan lumayan besar terhampar di dekat gapura masuk, dilengkapi dengan jembatan yang membelah kolam di tengah, serta dipercantik oleh bunga-bunga teratai yang mengambang di atas kolam.
 
Saya sempat membeli passport Disney Epcot sehingga setiap kali singgah di tiap negara saya bisa meminta stempel resmi Disney dari tiap negara. Toko oleh-oleh di China ini sangatlah besar dan barang-barangnya sungguh menawan. Sayangnya terlalu mahal. Kami pun sempat menyaksikan presentasi tentang negara China di dalam gedung bioskop 180 derajat. Dimana bioskop ini layarnya adalah seluruh plafon dan dinding yang ada di ruangan yang kami masuki. Namun tidak ada tempat duduk di bioskop ini, seluruh penonton berdiri. Disney memang selalu punya cara membuat segalanya terasa seperti nyata. Bioskop seperti ini juga terdapat di negara Canada yang terletak setelah China.
 
Rata-rata kami hanya melihat-lihat toko oleh-oleh dan berfoto dengan bangunan khas di tiap negara, karena tidak semua negara memiliki perahu atau presentasi. Seperti di Jerman, kami hanya berfoto dan melihat-lihat. Hanya Brianna saja yang sempat membeli kue blackforest khas Jerman. Untungnya saya sempat mencicipi sedikit, dan memang rasanya berbeda, seperti ada soda di dalam wheap cream nya. Di Itali pun sama saja, kami hanya melihat-lihat dan berfoto. Restorannya di sini memang cukup mahal. Baru di Amerika Serikat, kami disuguhi permainan terompet dan lagu patriotik dari para penyanyi bersuara emas. Presentasi dengan robot manusia di atas panggung pun sedikit terasa garing dan hampir membuat saya tertidur, meski mimik muka robot-robot tersebut cukup nyata.
 
Di Disney Epcot, kita juga bisa menukar uang koin 1 cent dan dua buah koin 25 cent dengan koin bergambar dan bertuliskan Disney dan nama negara yang kita singgahi. Caranya mudah. Cukup memasukkan tiga buah koin tadi ke sebuah mesin dan langsung keluar mata uang Disney yang kita inginkan.
 
Sedikit kaget ketika saya melihat tulisan Arab di beberapa tempat. Olala ternyata kami berada di negara Maroko. Arsitektur mirip-mirip masjid pun mendominasi bangunan di Maroko. Ketika meminta stempel resmi Disney Maroko, saya pun bercakap-cakap sebentar dengan ke salah seorang pegawai di sana yang saya ketahui bernama Mohammed. Orang Maroko memang berbicara dengan Bahasa Arab, namun menurut Mohammed, orang-orang Maroko terbiasa menguasai lima macam bahasa sejak mereka berumur lima tahun. Mohammed pun menulis nama saya dan Brianna dengan huruf Arab, meski saya sendiri sudah tau bagaimana menulisnya. Oleh-oleh yang tersedia di Maroko cukup similar dengan Arab, seperti permadani, henna, dsb. Ada pula salon henna yang menyediakan lukisan di tubuh dengan memakai henna, namun menurut saya mahal sekali. 20 dollar untuk lukisan bunga berukuran kecil.
 
Di Inggris, ada presentasi semacam di China dan ada pula semacam parodi kecil di jalanan. Cukup menarik mendengar aksen Inggris yang kental dari para aktor dan aktrisnya. Orang Amerika memang lebih fasih mengucap ‘r’ daripada orang Inggris. Di Prancis, ada berbagai macam bunga-bunga yang menghiasi taman-tamannya, juga presentasi singkat tentang Prancis. Kami pun makan malam di restoran Asia di dekat Future Epcot.
 
Sebelum menonton kembang api untuk kedua kalinya, kami mencoba wahana Test Track. Ini adalah wahana indoor. Gedung untuk wahana ini cukup besar, hampir setengah stadion Brawijaya. Dari luar arena kedengarannya cukup menegangkan karena suara mesin mobilnya yang lumayan keras. Wahana ini memang berupa mobil yang terbuka yang melaju kencang seperti mobil balap. Satu mobil diisi enam orang. Saya dan Brianna duduk di jok depan, Host Mom dan Host Dad duduk di jok belakang. Prinsipnya sama seperti mobil biasa, kita hanya diwajibkan memakai sabuk pengaman. Setelah mencoba Rock n Rollercoaster yang supercepat, wahana lainnya jadi terasa lambat. Mobil pun mulai melaju dan melintasi test tahan panas, test tahan dingin, test goncangan, test rem, dan test kalau ada tabrakan. Sabuk pengaman selalu menyelamatkan kami dari goncangan, heee.
 
Setelah dinyatakan lulus test uji, mobil pun melaju lebih cepat dan memutari lintasan balap dengan kemiringan tertentu beberapa kali. Kini saya mengerti betapa pentingnya sabuk pengaman. Jadi, jangan lupa memakai sabuk pengaman ketika berkendara!

Radar Kediri – Disney World Part Three


Masih penasaran dengan taman hiburan lain Disney? Hari kedua (26/1) petualangan saya di Disney World berlanjut ke Disney Hollywood Studios. Kalau di Disney Animal Kindom simbolnya pohon raksasa, Disney Hollywood Studios simbolnya adalah topi sihir Mickey berwarna biru dengan ukuran raksasa. Suasana di Disney Hollywod Studios dibuat menyerupai jalanan di Amerika. Ada yang namanya American Street, dan toko yang menjual oleh-oleh khas Disney yang harganya amit-amit. Kami pun ikut menyaksikan pawai karakter Disney yang diiringi nyanyian dan tari-tarian lalu bergegas menuju ke konser High School Musical 3 di ujung American Sreet, dekat downtown Manhattan Disney. Tentunya bukan High School Musical 3 yang sebenarnya. Ciri khas Disney dalam menampilkan show adalah mengajak penonton untuk ikut serta menghibur penonton lainnya lalu mereka yang berani maju akan mendapat kenang-kenangan dari Disney. Disney selalu melibatkan penontonnya untuk ikut andil dalam setiap pertunjukkannya. Disney juga memberi tiket gratis ke manapun taman hiburan Disney di hari ulang tahun kita. Beberapa orang berseliweran dengan pin besar di dada mereka bertuliskan “Happy Birthday” lalu ada tempat di pin tersebut untuk menuliskan nama. Saya dan Brianna juga meminta pin yang bertuliskan “My First Visit”. Gratis. Lumayan, dengan memakai pin itu, orang-orang jadi jauh lebih ramah, hehe.

Disney World, tiada hari tanpa roller coaster. Salah satu roller coaster terkenal di Disney Hollywood Studios adalah Rock n Rollercoaster.  Salah satu roller coaster tercepat yang pernah ada, dan menjadi rollercoaster favorit Host Dad. Ini adalah rollercoaster indoor (di dalam ruangan). Di depan pintu masuk menuju wahana ini, ada gitar merah besar sekali yang mendominasi depan bangunan. Salah satu maskot dari Rock n Rollercoaster adalah salah satu band rock terkenal dari Amerika, Aerosmith. Setelah mengantre kurang lebih satu jam, kami masuk ke ruang rekaman Aerosmith. Dibuat menggunakan efek 3D, sehingga terasa kita berhadapan dengan ruangan tempat Aerosmith rekaman.  Video dimulai dengan Aerosmith yang menyapa para rocker, lalu manager mereka yang tiba-tiba datang dan mengingatkan mereka bahwa mereka sudah terlambat untuk konser. Namun Aerosmith merasa tidak enak hati meninggalkan para ‘rocker’ yang sedang berada di ruangan rekaman mereka (baca:kami). Akhirnya, sang manager menyiapkan sebuah mobil bekas super lecet namun super cepat untuk kami para rocker, yakni rock n rollercoaster. Pintu langsung menjeblak terbuka dan kami siap ber-rock n roller coaster.

Sabuk pengaman ekstra melingkari separuh tubuh kami, yang berarti roller coaster ini akan berputar-putar 360 derajat, tentunya dengan kecepatan sangat tinggi. Di depan kami hanya ada lubang gelap, terdengar suara rock dari Aerosmith yang meneriakkan hitungan mundur. Lalu roller coaster kami melesat secepat cahaya. Yang paling asyik adalah di awal, dari keadaan diam atau kecepatan sama dengan nol, lalu kami langsung meluncur dengan kecepatan sangat tinggi sehingga tubuh terasa tertarik ke depan. Lalu tubuh terbawa liukan rollercoaster yang berputar cepat dan menikung dengan tikungan yang sangat tajam. Karena ini adalah indoor roller coaster, keadaan gelap gulita dan hanya terlihat lampu-lampu di lintasan maupun papan-papan penunjuk jalan. Roller coaster paling cepat yang pernah saya coba, tidak ada tiga menit kami sudah kembali ke pintu masuk. Seketika itu saya langsung ingin mencoba lagi.

Enaknya di Disney, kalau kita sudah pernah masuk ke wahana dan ingin mengulang lagi, kita tidak perlu antre seperti orang-orang yang baru pertama kali naik ke wahana tersebut. Kita cukup meminta fast pass. Lalu tinggal kembali di jam fast pass dan langsung naik ke wahana tanpa antre. Akhirnya kami mengambil fast pass dan kembali lagi setelah kami mencoba Hollywood Tower.

Berdampingan dengan rock n rollercoaster, ada wahana lumayan seru yang namanya Hollywood Tower. Ini adalah wahana di dalam sebuah hotel berlantai 13 dengan suasana gelap dan mistis. Karena ini adalah wahana dengan tantangan ketinggian, Host Dad langsung berkeringat lagi, hehehe. Brianna juga tidak fanatik dengan wahana yang menjatuhkan penonton dari lantai 13. Wahananya seperti ini, di awal akan ada video pendek tentang kisah sebuah keluarga yang terbunuh di dalam lift. Lalu setelah dibumbui dengan video tadi, kami masuk ke dalam lift seperti keluarga yang terbunuh tadi. Bedanya, lift ini ada tempat duduknya. Karena Brianna dan Host Dad sedikit ketakutan, akhirnya kami memilih bangku paling belakang. Karena kalau bangku paling depan, ketika lift terjatuh, beberapa jendela di depan lift akan membuka dan akan terlihat pemandangan dari lantai 13 yang berarti KETINGGIAN.

Pintu lift tertutup. Sabuk pengaman terpasang rapi. Lift bergerak masuk ke sebuah ruangan horor. Lalu ada siluet arwah keluarga yang terbunuh tadi yang melambai-lambai ke arah kami. Lift bergerak maju dan masuk ke sebuah ruang yang sangat gelap. Mendadak lift terjatuh sangat cepat dari lantai 13 ke lantai 1. Tubuh saya melayang kira-kira sepuluh centi dari tempat duduk karena dijatuhkan dari 13 lantai. Lift kembali ke atas, lalu bergerak naik turun dan jendela di depan kami menjeblak terbuka dan memperlihatkan bahwa kami berada di ketinggian. Namun menurut saya, wahana ini tidak menakutkan sama sekali. Hanya kaget di awal. Cukup seru untuk semua umur.

Di Disney Hollywood Studios, kami juga mengunjungi salah satu rumah hantu Disney yang disebut Haunted Mansion. Bagi yang sudah menonton filmnya pasti sudah tidak asing lagi. Kelihatannya dari luar sih mengerikan, seperti batu nisan dimana-mana dengan nisan berbentuk wajah yang matanya bisa membuka dan menutup. Namun ketika berada di atas kereta yang membawa kami menjelajahi rumah hantu itu, saya yang penakut pun cukup riang menikmati hantu-hantu berseliweran. Hehehe cuma hantu Amerika sih kalah sama hantu Indonesia. Konsep rumah hantu ini memang tidak dibuat mengerikan, sama halnya dengan filmnya yang lebih terkesan lucu. Rumah hantunya penuh animasi, efek 3D, maupun sentuhan teknologi dimana-mana.

Menjelang sore hari, kami menuju ke rock n rollercoaster untuk naik ke roller coaster ini sekali lagi dengan fast pass. Setelah itu, kami langsung bergerak cepat menuju Lights Motors Action, Extreme Stunt Show, yaitu rahasia di balik layar pembuatan film-film action di Hollywood. Tempatnya mirip-mirip lapangan olahraga dengan tribun bertingkat-tingkat yang sudah dipenuhi penonton. Show dimulai dengan sebuah tiga buah mobil jenis sedan warna merah yang berjalan mundur ke tengah arena pertunjukan yang disulap seperti jalanan dengan beberapa gedung bertingkat dan ada kolam dengan jembatan di sisi lain jalan. Lalu tiga mobil jenis sama dengan warna hitam yang berjalan normal datang dan berkejar-kejaran dengan tiga mobil merah tadi. Meliuk-liuk dan berhenti sangat mendadak ataupun berbelok mendadak dengan kecepatan tinggi. Pembawa acara lalu menghentikan ‘pergulatan’ mobil-mobil itu. Tidak cukup susah mengamati secara jelas wajah sang pembawa acara karena ada layar besar di tengah arena yang menampilkan wajah sang pembawa acara maupun atraksi yang sedang terjadi. Ternyata, mobil merah yang berjalan mundur tadi tidak benar-benar berjalan mundur. Hollywood memodifikasi habis-habisan mobil itu. Ternyata sopirnya berada di jok belakang dan setir mobil berada di belakang. Bokongnya mobil adalah bagian depan mobil. Nah lo bingung kan, hehehe. Yang jelas, adegan di film action penuh modifikasi otomotif. Ada lagi anak kecil yang disuruh maju dan mengendarai mobil hanya dengan menggerakkan sebuah remote control. Persis seperti bermain mobil remote control. Namun ternyata pengendara mobilnya berada di samping luar mobil sehingga terlihat bahwa remote control itu benar-benar menggerakkan mobil. Ada pula atraksi orang tertembak lalu terjatuh dari gedung bertingkat, lalu terbakar api, dsb. Ada banyak ledakan di dalam atraksi ini. Ada juga atraksi motor-motor balap yang melompat dari ketinggian atau dari truk satu ke truk lainnya. Atraksi yang cukup menarik untuk mengetahui sisi lain Hollywood.

Kami pun menjadi dibuat penasaran pula dengan rahasia di balik film Indiana Jones. Di awal, sang aktor bergelut dengan tombak yang terhunus dari bawah tanah, lalu dikejar-kejar bola raksasa. Seperti biasa, Disney melibatkan beberapa sukarelawan dari penonton yang bersedia menjadi pemain figuran di pertunjukan tadi. Mereka pun didandani ala orang timur tengah, karena saat itu cerita ber setting di timur tengah. Atraksi tidak jauh berbeda dengan Extreme Car Show, ledakan dan tembakan peluru. Bahkan ini juga melibatkan pesawat terbang.

Malamnya, kami berkeliling ke sebelas negara. Meski tidak cukup jelas di malam hari, namun tak mengurangi kenikmatan menjelajahi epcot. Kami malah berputar-putar dulu di departement store yang menjual segala macam barang tentang Jepang. Harganya tidak bisa dikatakan murah. Untuk kimono maupun yukata minimal berbandrol $50. Saya bercakap-cakap sejenak dengan pelayan dan kasirnya yang juga orang Jepang asli, sekalian praktek bahasa Jepang yang diajarkan di SMADA, hehehe meski cuma bisa salam-salamnya saja. Saya jadi tau kalo mereka adalah mahasiswa yang ikut pertukaran mahasiswa dan bekerja di Disney World.

Brianna pun membeli sebuah kerang dengan harga $14. Bukan sembarang kerang, di dalam kerang tersebut ada mutiara yang bisa dipakai untuk perhiasan. Cukup menambah kira-kira $9, Brianna pun memiliki sebuah kalung mutiara cantik. Lalu, kami memutuskan menyantap makan malam di Restoran Jepang. Brianna memesan sushi, namun saya cukup memesan Tonosama (nasi dengan daging campuran antara udang,ayam,dan sapi) karena saya tidak doyan makanan yang mentah-mentah atau setengah masak.

Karena hari pertama kami gagal menonton pertunjukan kembang api atau fireworks, kami membulatkan tekad menonton kembang api di Epcot pukul sembilan malam. Ini salah satu fireworks terbaik milik Disney. Fireworks Epcot berada di tengah danau yang juga terletak persis di tengah Epcot. Fireworks diawali oleh seluruh cahaya di Disney Epcot yang padam lalu disusul letusan kembang api dari pinggir danau. Kembang api terus memancar bersusul-susulan, semakin lama semakin besar. Bola dunia di pinggir danau pun juga menyala dan memperlihatkan peta seluruh dunia dan diiringi musik dan lagu khas Disney Epcot yang begitu indah. Saya pun mengamati peta Indonesia yang nampak di bola dunia yang menyala seperti api tadi. Mendadak kembang api berhenti, lalu bola dunia yang menyala tadi bergerak menuju ke tengah danau. Warnanya pun berganti dari warna api yang menyala berubah menjadi biru, hijau, merah, kuning, dsb. Lagu nan syahdu yang mendendangkan perdamaian dunia pun mengiringi bola dunia yang menari tadi. Ketika bola dunia tersebut mencapai tengah danau, bola dunia tersebut seperti layar yang memunculkan beberapa video dan gambar orang-orang penting di seluruh dunia. Kemudian masing-masing dari sebelas negara memancarkan cahaya bergantian dan mengarah ke langit, tepat di atas bola dunia yang menyala tadi, lalu sepintas saya melihat sebuah bintang di awan hasil dari cahaya dari tiap negara yang memancar dan menyatu. Lampu-lampu dari atap tiap bangunan di tiap negara pun menyala seolah memberi hormat pada bola dunia. Meski cukup larut malam, kami sangat menikmati pertunjukan kembang api di Epcot tadi. Masih banyak kejutan Disney yang menanti hingga hari kelima.

( to be continued )

Radar Kediri – Disney World Part Two


 

Disney Animal Kingdom adalah taman hiburan Disney World pertama yang saya kunjungi (25/1). Saya sempat merasa tidak berada di Amerika Serikat karena tempatnya yang hijau dan tropis. Tidak itu saja, sebagian besar pengunjung adalah orang asing seperti orang Amerika Latin yang datang secara berkelompok dengan tujuan untuk study tour sekolah, maupun orang-orang Asia yang saya kenali dari wajahnya adalah orang Jepang. Saya dan Brianna cukup antusias karena ini adalah kunjungan pertama kami ke Disney World. Setelah pintu masuk di Disney Animal Kingdom, telah berjajar-jajar beberapa karakter Disney yang berkostum. Saya dan Brianna ikut antre untuk mengambil foto bersama salah satu karakternya. Saking banyaknya karakter, saya bahkan menjumpai beberapa karakter yang bahkan saya tidak pernah lihat sebelumnya. Biasanya, masing-masing karakter didampingi oleh seorang photographer Disney. Kalau kita memiliki photo pass yang berupa kartu, kita bisa minta tolong photographer itu untuk mengambil foto kita bersama karakter tersebut dengan kameranya. Memang lebih memudahkan untuk pengunjung yang tidak membawa kamera. Namun sayangnya, kita hanya bisa melihat hasil foto kita di website Disney dan kalau menginginkan foto kita tersebut, kita harus membayar sejumlah uang ke Disney untuk mendapat hasil cetaknya. Bahkan kalau mau curang dengan cara klik kanan di foto kita yang ada di website, hal itu benar-benar sia-sia karena setiap foto ada copyright-nya sehingga ada kode atau protection untuk setiap foto. Anyway, kami pun terlihat mencolok karena kami seperti satu-satunya remaja yang ikut antre berfoto. Tapi kami toh cuek, hehe, kembali ke mimpi masa kecil untuk sementara. Disney Animal Kingdom cukup hijau dengan pohon-pohon besar dan rindang di mana-mana. Sejenak saya malah teringat keluarga di Kediri, khususnya adik-adik saya di rumah yang pasti senang sekali kalau bisa berkunjung ke Disney. Semoga saja suatu saat nanti. Amien.

 

Rasanya aneh. Setelah berbulan-bulan harus memakai pakaian double dan jaket tebal, dan sekarang saya bisa berjalan-jalan dengan santai hanya dengan celana jeans dan kaos oblong tanpa jaket. Yah hitung-hitung menghela nafas sejenak dari ganasnya musim dingin di Minnesota. Saya dan Brianna menengok-nengok kolam flaminggo dan burung-burung lain. Kalau kita berjalan lurus dari pintu masuk, kita akan dengan mudah melihat pohon sebesar pohon beringin (bahkan lebih besar). Yang membuat kaget, kalau diamati lebih dekat, ternyata itu bukan pohon asli. Itu adalah pohon buatan yang dibuat sedemikian rupa menyerupai asli. Ukiran-ukirannya pun sangat detail. Host dad pun berkali-kali mempromosikan Bug’s Life. Bug’s Life adalah sejenis tontonan 3 dimensi yang berada di dalam pohon besar tadi, bercerita seputar kehidupan lebah. Antreannya cukup panjang, dan kami sempatkan berfoto lagi. Saya tidak ingin kehilangan satu moment-pun, hehehe. Kami pun memakai kacamata 3 dimensi berwarna hitam dengan bentuk seperti mata lebah itu. Lalu kami masuk ke dalam sebuah ruangan sebesar bioskop dengan layar sebesar layar bioskop pula. Pertunjukannya benar-benar terasa nyata. Seperti layaknya tontonan 3 dimensi, semua hal yang ada di depan kacamata menjadi terasa nyata. Tangan kami menggapai-gapai kupu-kupu cantik yang rasanya seperti terbang di depan hidung kami. Lalu ada adegan di mana sang lebah bersin, dan mendadak keluar semprotan air sehingga bersinnya lebah terasa nyata. Bahkan ketika lebah gemuk akan kentut, kami para penonton sudah bersiap tutup hidung. Benar saja, asap kehijauan dengan bau menyengat keluar. Memang animasi Disney masih susah ditandingi.

 

Setelah puas mencium kentut lebah (hehehe), kami bergegas menonton pertunjukan Lion King yang seperti konser musik penyanyi-penyanyi dengan suara yang membuat merinding. Saya dan Brianna berputar-putar hendak mencari wahana Kali River Rapids, namun host Mom mengajak ke Expedition Everest. Sekedar info, Host Mom adalah pecinta roller coaster (kereta yang berjalan naik turun, dan berputar dengan kecepatan tinggi). Kalau sebagian besar orang berteriak-teriak saat menaiki roller coaster, Host Mom malah tertawa paling keras. Dan sekedar info lagi, menurut Disney World Channel yang saya tonton di TV sebelumnya, Expedition Everest adalah wahana nomor satu yang wajib dikunjungi di Disney World. Host Mom bilang kalau Expedition Everest adalah roller coaster paling mengerikan yang pernah ada. Saya pun sedikit merinding mendengar kata ‘paling mengerikan’. Akhirnya saya pun iya iya saja dengan ajakan Host Mom menaiki Expedition Everest roller coaster. Kengeriannya juga dibalut oleh cerita seputar Yeti. Yeti adalah hewan super besar sejenis gorilla, namun lebih besar lagi dan berbulu putih tebal. Menurut kepercayaan, Yeti tinggal di puncak Gunung Himalaya yang merupakan gunung tertinggi di dunia. Bahkan dikabarkan Yeti pernah memakan beberapa pendaki gunung himalaya sebelumnya. Host Mom terlihat sangat antusias. Begitupula Brianna dan Host Dad. Akhirnya tiba giliran kami menjajal roller coaster paling mengerikan versi pecinta roller coaster (Baca:Host Mom). Sabuk pengamannya yang terbuat dari besi hanya melingkar di sekitar pinggang, tidak ada pengaman yang melingkar di sekitar dada. Pikir saya, berarti roller coaster-nya tidak terbalik-balik, lalu dimana letak ngerinya?

 

Kereta meluncur. Kami semua mengarahkan tangan ke atas dan berseru senang. Belokan pertama masih biasa, hanya setelah itu kereta meluncur sangat tinggi lalu turun dengan kecepatan tinggi. Saya masih belum merasa ngeri sama sekali. Kereta masih meluncur dan menikung dengan kecepatan tinggi. Sampai akhirnya kereta mendadak berhenti. Berhenti. Ya, berhenti. Rel di depan kami putus dan berlubang besar sekali di depan kami. Saya sempat bertanya-tanya dan berdoa kalau-kalau ada kerusakan teknis. Tiba-tiba kereta berjalan mundur dengan kecepatan tinggi di dalam kegelapan. Saat itulah saya baru mulai berteriak tak henti-hentinya. Baru pertama kali saya menaiki roller coaster yang berjalan mundur. Di tengah teriakan orang-orang yang sekarang mulai merasa ngeri itu, sayup-sayup saya masih bisa mendengar Host Mom saya tertawa-tawa. Benar-benar roller coaster paling mistis yang pernah saya coba. Bagian mengerikannya ada saat roller coaster-nya berjalan mundur, lalu kembali ke atas lagi dan mundur lagi. Perut saya seperti terasa jatuh, dan merasa kalau keretanya bakal jatuh. But, it was fun. Teringat soal roller coaster, saya mendadak mengingat ibu saya di Kediri yang tidak pernah mau diajak menaiki roller coaster, hehehe. Alhamdulillah, akhirnya mencicipi juga wahana nomor satu di Disney itu. Kami berencana kembali ke mobil untuk makan siang. Host Mom memang membawa sandwich untuk makan siang setiap hari selama di Disney. Tapi saya tetaplah orang Jawa asli yang masih merasa tidak kenyang kalau belum makan nasi. Apalagi liburan di Disney sama dengan olahraga jalan kaki karena tempatnya yang sangat besar.

 

Setelah menyantap sandwich, kami memutuskan pindah ke Disney Epcot karena Disney Animal Kingdom tutup pukul lima sore. Meski kami belum menikmati semua wahana di Disney Animal Kingdom, tapi kami akan datang lagi ke Disney Animal Kingdom di hari lainnya. Mobil pun meluncur ke Disney Epcot yang meski terletak di satu kompleks, namun kita tidak bisa langsung loncat begitu saja karena pintu masuknya yang harus memutar dulu dengan pintu masuk baru dan parkir mobil baru. Ada beberapa alternatif transportasi lain selain mobil pribadi, yaitu dengan Disney Monorail, kapal Ferry, atau bus Disney. Disney Epcot adalah favorit host mom dan host dad, juga semua exchange students yang pernah berkunjung ke Disney World. Mengapa? Kalau di taman Disney yang lain lebih memenuhi kesenangan anak kecil, di Disney Epcot malah lebih cocok untuk remaja dan dewasa. Wahananya lebih banyak dan satu lagi yang spesial, kita bisa berkeliling ke sebelas negara di Disney Epcot. Saya pun sangat antusias mendengar yang terakhir itu.

 

Enaknya kalau membeli tiket Disney yang berjenis paket adalah kita bebas keluar masuk Disney kapan saja selama lima hari itu dan tidak dipungut biaya tambahan. Jadi kami masuk ke Disney Epcot cukup memasukkan tiket dan menempelkan sidik jari. Masuk di gerbang utama, mata kita akan langsung mengarah pada bola putih besar yang tepat berada di depan pintu masuk Disney Epcot. Bola Putih besar itu adalah lambang dari Disney Epcot. Di depannya, ada batu seperti nisan besar yang disebut Leave a Legacy. Itu bukan kuburan, tapi hanya batu nisan dengan cap foto seperti perangko di atasnya dan memampang wajah dan nama pengunjung yang pernah singgah di Disney Epcot. Kami langsung menuju ke wahana Spaceship Earth yang ada di dalam bola putih tadi. Wahananya berupa kereta dengan masing-masing kereta diisi dua orang. Saya duduk dengan Host Mom, dan Brianna dengan Host Dad. Isinya seputar misi-misi manusia di luar angkasa dan teori evolusi. Di akhir, ada kamera yang mengambil gambar tiap pasang orang di kereta. Lalu komputer di tiap kereta menanyakan darimana kami berasal dan beberapa pertanyaan seputar rumah idaman di masa depan. Host Mom pun membiarkan saya menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Ada pertanyaan seperti, mau rumah yang dekat gunung atau pantai, rumah modern atau klasik, dsb. Setelah selesai, komputer menunjukkan model rumah kami di masa depan sesuai jawaban dari pertanyaan tadi. Saya pun tertawa-tawa melihat foto potongan kepala saya dan host mom yang terbingkai di atas animasi kartun yang berjalan. Lalu ada film pendek di sana yang menceritakan seputar rumah idaman kami itu. Turun dari kereta, kami bisa melihat foto kami di layar besar dengan peta tempat kami berasal. Tidak hanya itu saja, tersedia beberapa touch screen (layar sentuh) dan kami bisa mengirim hasil foto-foto tadi ke alamat e-mail masing-masing atau orang lain. Saya pun tak lupa mengirimkannya ke keluarga di rumah.

 

Lalu kami menuju ke wahana Soaring. Wahana ini merupakan salah satu tujuh wahana yang wajib dikunjungi versi Disney World Channel. Antriannya panjang sekali. Kami menunggu hampir satu jam. Baru kali ini ada yang namanya menunggu tapi tidak membosankan. Di antrian Soaring, ada empat layar besar untuk menghibur pengunjung. Disney memang penuh dengan tekhnologi, yang bahkan tak pernah terpikir oleh saya bahwa hal seperti itu ada di muka bumi ini,hehe. Sedikit sulit dijelaskan. Jadi, di layar tadi akan muncul ajakan untuk bermain game bersama-sama dengan pengunjung lain yang ada di depan layar. Ada empat layar, sehingga grupnya terbagi menjadi empat kelompok. Permainannya cukup melelahkan karena permainannya berpatok pada sensor yang mendeteksi gerakan anggota badan kita. Sensornya ada di layar besar tadi. Permainan pertama adalah membuat gunung dan menanam pohon dengan menggerakkan tangan kita seperti berenang ke atas. Semua pengunjung harus menggerakkan tangannya agar tercipta gundukan pasir lalu bunga dan pohon indah berwarna-warni. Cukup melelahkan dan butuh kerja sama tim. Satu kelompok satu layar, dan kami saling diadu. Permainan kedua adalah memukul-mukul bola salju di layar dengan gerakan tangan lagi. Ketika bola saljunya berhasil dipatahkan, akan keluar hewan-hewan lucu seperti penguin dsb. Permainan ketiga adalah menerbangkan burung elang sampai finish. Permainan ketiga ini menurut saya paling seru karena kerjasama tim benar-benar dibutuhkan agar sang elang bisa menang dari elang kelompok lain. Caranya cukup menggerakkan seluruh anggota badan ke kanan atau ke kiri bersama-sama dengan semua orang dalam tim. Kesuksesan bergantung pada tim. Yah cukup puas meski cuma duduk di peringkat kedua. Eh pintu di depan kami terbuka. Setelah antre lama akhirnya giliran kami tiba. Soaring adalah wahana dimana kita akan dibuat seperti terbang dan mengelilingi California. Host dad terlihat berkeringat karena takut. Hehehe, meski beliau juga seorang pilot yang sering mengudara, tapi kalau urusan phobia, beliau memang paling takut dengan ketinggian. Pasalnya, di wahana Soaring, kita akan duduk di sebuah bangku panjang bersama kira-kira sepuluh orang lainnya. Bangkunya dibagi menjadi tiga deret. Deret paling atas, tengah, dan bawah. Host mom terus-terusan meledek host dad. Host dad terus meminta duduk di bangku yang paling bawah, namun apa daya para wanita lebih banyak dan kami memilih deret paling atas. Kami pun duduk dan siap diterbangkan. Sabuk pengaman sudah terpasang rapi mengelilingi pinggang. Layar raksasa terbentang di depan kami. Bangku-bangku panjang yang kami duduki mulai naik perlahan sehingga langsung berhadapan dengan layar. Saya bisa jelas melihat kalau kami memang di bangku paling atas yang paling jauh dari lantai, ibaratnya di puncak. Layar mulai memunculkan video California yang diambil dari udara. Bangku yang kami duduki juga bergoyang-goyang dan bergerak seiring dengan gerakan dan arah video. Kalau videonya sedang bergerak cepat, kami pun jadi bisa benar-benar merasakan terbang di awan. Saya pun berkeringat karena semua lagi-lagi terasa nyata, takut jatuh hehehe. Ketika terbang melintasi hutan pinus, seketika kita akan bisa mencium bau pohon pinus. Begitupula saat melintasi pegunungan es, kita juga bisa mencium aroma salju. Benar-benar dibuat seperti terbang sungguhan.

 

Belum cukup terbang dengan Soaring, kami pun meneruskan misi ke luar angkasa. Eitss, ini luar angkasanya Disney World. Namanya Mission Space. Kami akan menjalani simulasi menjadi seorang astronot dan menjalankan misi ke planet mars. Saya sangat sangat antusias karena dulu pernah bercita-cita jadi Astronot, hehehe. Wahana ini dibagi dua level. Level pemula dengan efek biasa atau level mahir dengan efek ‘luar biasa’. Kami pun memilih level mahir. Satu pesawat luar angkasa diisi oleh empat orang. Pas sekali dengan jumlah kami yang memang cuma empat orang. Saya pun bertugas sebagai commander. Brianna sebagai navigator. Host Mom sebagai captain, dan Host Dad sebagai engineer. Sebelum masuk ke pesawat ulang alik, di komputer muncul peringatan yang membuat saya sedikit khawatir. Di sana ada peringatan untuk ‘astronot’ yang memiliki motion sickness (penyakit mudah pusing dan mual akibat tekanan atau gerak) diperingatkan kembali untuk segera keluar dari wahana. Khususnya pula untuk yang memiliki penyakit jantung karena masing-masing pesawat akan berputar sangat cepat untuk menimbulkan aura terbang. Saya sendiri punya motion sickness, namun mencoba cuek dan tetap menjajal wahana yang sudah saya tunggu-tunggu dari dulu. Kami pun bersiap dan masuk ke dalam pesawat kecil. Sabuk pengaman melingkar di dada dan kepala menghadap langsung ke depan monitor di dalam pesawat. Masing-masing awak pesawat memiliki layar masing-masing dan menjalankan tugas masing-masing. Saya pun sebenarnya tidak tahu pasti tugas saya apa, namun ternyata tugasnya mudah. Ada instruksi yang akan memberi aba-aba kapan saya harus menekan tombol di depan monitor saya. Pesawat pun bersiap lepas landas. Suara mesin bergaung keras sekali persis seperti peluncuran roket ke luar angkasa. Di depan mata saya, monitor menunjukkan gambar bahwa pesawat sedang mengahadap langit lalu bergerak cepat dan meluncur ke luar angkasa. Bersamaan dengan itu, pesawat mulai berputar cepat sekali, sehingga benar-benar terasa kalau kita dilempar ke luar angkasa dengan tekanan yang tinggi. Kepala saya pening sekali waktu itu. Instruksi meneriakkan berkali-kali kepada saya sebagai commander untuk menekan tombol di monitor. Saya benar-benar kesulitan dan tertatih tatih menggerakkan tangan saya untuk menggapai tombol. Tekanan yang saya rasakan sangat kuat dan bahkan telinga saya seperti mendengung karena mesin yang keras sekali.

 

Alhasil, saya pun sakit. Mission space benar-benar bukan wahana yang tepat bagi pengidap motion sickness seperti saya. Kepala jadi nyut-nyutan lalu mual dan berasa ingin muntah. Keluar dari pesawat pun saya masih limbung ke sana kemari. Host Dad bilang, wahana mission space memang sedikit berbahaya. Empat tahun lalu wahana itu bahkan pernah menelan korban jiwa. Seorang anak kecil berumur empat tahun dan seorang nenek berumur 60 tahun meninggal di wahana ini karena tekanan yang sangat tinggi dan ternyata kedua orang tersebut memiliki penyakit jantung yang tidak diketahui. Sebelumnya, mission space lebih parah dari yang sekarang. Setelah kejadian menelan korban itu, akhirnya mission space dibuat dua level dengan intensitas yang berbeda. Kami pun memutuskan untuk mencari makan malam di restoran China di China tentunya (Ingat bahwa ini di Disney Epcot). Saya memesan makan dengan malas-malasan karena kepala dan perut yang tidak bisa diajak kompromi. Meski pesanan saya sudah di depan saya, saya pun lebih tertarik untuk menenggelamkan kepala saya dan tertidur di atas meja restoran sementara host fam dan brianna masih makan. Rencana kami untuk melihat kembang api di Disney Epcot malam itu pun gagal karena saya jatuh sakit. Host Mom memutuskan pulang kembali ke condo agar saya bisa istirahat dan tidak jadi sakit. Yah begitulah, hari pertama di Disney tanpa kembang api dan harus terbaring di condo karena sakit. Saya pun langsung terlelap dan memompa energi untuk hari kedua di Disney World.

 

– – – to be continued – – –